Jangan Bawa Bawa Agama

Sering gue baca atau denger kalimat seperti di judul tulisan ini, dalam interaksi sehari-hari. Biasanya muncul pas lagi bahas politik, seni, budaya, ilmu pengetahuan. dan masih banyak lagi. Awalnya gue mikir, ya mungkin emang ada hal-hal yang ga bisa dikait-kaitin sama agama, kalo dikaitin jadinya pembahasannya ga bisa lanjut. Mungkin emang agama itu ranah khusus yang mesti kita simpen di suatu tempat tersendiri dan dibawa ketika waktunya tepat aja.

Hmm…

Makin ke sini, gue cek ulang pemikiran gue tadi, jadinya kok malah aneh ya. Aneh kenapa? Ya aneh karena rupanya makin banyak hal yang gue baru tahu ternyata dicover juga sama agama gue, ternyata banyak ranah kehidupan yang juga diatur dengan rapihnya sama agama gue. Lalu gue tanya lagi ke diri sendiri,

“Gimana coba caranya ga bawa-bawa agama?”

Soalnya agama gue ngatur urusan makan-minum beserta adabnya.

Soalnya agama gue ngajarin urusan bersih-bersih dengan detail.

Soalnya agama gue ngatur cara interaksi sama orang-orang, baik itu keluarga, teman, kolega, bahkan yang beda agama sekalipun.

Soalnya agama gue ngatur dengan jelas tentang hukum waris seadil-adilnya.

Soalnya agama gue ngajarin menuntut ilmu tanpa kenal gender.

Soalnya agama gue ngatur tentang batasan aurat dan bagaimana mengontrol diri.

Soalnya agama gue ngatur tentang perkenalan, pernikahan, dan tetek bengek rumah tangga demi ga ada yang dirugikan didalamnya.

Soalnya agama gue ngasih aturan jelas tentang perbankan dan keuangan di berbagai level.

Soalnya agama gue ngajarin tentang tata cara berdagang yang halal dan ga ngerugiin orang.

Soalnya agama gue ngajarin batasan ngambek dan tegur sapa.

Soalnya agama gue punya panduan yang jelas tentang pemerintahan suatu negeri.

Soalnya agama gue menjabarkan pentingnya ilmu pengetahuan dan bahkan tanda-tandanya tersebar di alam raya.

Soalnya agama gue ngajarin etika menasihati orang lain.

Soalnya agama gue bahkan considerate banget sama gimana cara memperlakukan binatang.

Nah, ini aja baru sebagian yang gue tahu, masih banyak banget yang belum gue pelajarin. Kita tuh ya, sering karena banyak ga taunya, eh malah jadi sotoy dan sibuk bikin justifikasi sana-sini. Agama cukup disimpen di laci ga perlu ikut dibawa pergi, cuma ditengok sesekali kalo lagi sakit hati atau lagi mengalami rugi. Yakaliiii!

Kalo semua sisi kehidupan udah diatur sama agama detailnya dengan rapih kayak gitu, coba gue tanya lagi,

“Gimana coba caranya ga bawa-bawa agama?”

 

 

Advertisements

Tentang Sam

Beberapa kali berinteraksi dengan teman-teman lelaki, ternyata masing-masing pribadi memberi pelajaran tersendiri.

Kali ini gue mau cerita tentang Sam.

Sam adalah orang yang berada di titik ekstrim berbeda dari sifat umum gue. Ga banyak suaranya, ga meledak-ledak emosinya, ga ekspresif raut mukanya, ga egois orangnya. Sedangkan gue berisik, emosional, ekspresif, dan egois.

Kalau ibarat pintu, Sam itu ga terkunci sih tapi dia tertutup rapat. Gue tau dia ga bermaksud main teka-teki. Cumaa, jadinya gue seringkali menebak-nebak karena ga yakin paham betul dibalik pintu yang tertutup itu ada apa. Beberapa kesempatan gue juga coba sih nanya langsung instead of nebak, yatapi takut Sam ga nyaman pintunya diketok terus.

Anyway, Sam adalah salah satu orang favorit gue karena dia mostly tepat waktu, ga banyak mau, dan selalu ingin tau. Bareng Sam, obroloan kita ngalir secara natural. Ga ada yang perlu repot cari topik baru atau ulur-ulur waktu.

Dari Sam gue belajar bahwa walaupun kita tau betul apa yang kita mau, menyesuaikan diri dengan orang lain tetaplah prioritas. Tapi dia juga nunjukin bahwa ada batas antara mana yang bisa dikompromikan dan mana yang engga.

Sam seringkali keliatannya ga merhatiin dan ga dengerin, tapi ternyata dia inget itu semua. Terbukti dari beberapa percakapan lainnya di mana dia mengulang informasi yang pernah gue berikan di lain waktu. Ini mengajarkan gue bahwa ga semua orang bisa care sama gue dengan cara yang gue mau. Orang kan punya caranya sendiri.

Sam itu seorang penghemat kata padahal kaya kosakata, sehingga mengajarkan gue untuk pikir dulu sebelum ngomong; seberapa pentingkah gue buka suara? Seperlu apakah gue ikut berisik? Nah, karena jarangnya Sam bersuara maka saat dia mulai bicara, gue serasa pake headset. Fokus ke dia. Yang lainnya noise kecil. Gue suka sekali momen-momen di mana Sam lagi cerita, ternyata dia menyenangkan juga pas berisik.

Karena Sam, gue jadi tertarik sama banyak hal baru. Mungkin awalnya beberapa ikut-ikutan dia aja. Ternyata, lama-lama I’m immersed there. Betapa ga membosankannya orang ini.

Ga jarang Sam melibatkan gue dalam pengambilan keputusan-keputusan penting dalam hidupnya, minta pendapat, diskusi baik buruknya. Tentunya gue jadi merasa peran gue cukup signifikan dalam hidup Sam, karena dia itu perencana yang baik, apa-apa dipikirin bener, apa-apa dikalkulasi. Tapi mungkin Sam lupa, ada hal-hal yang perlu dimulai aja dulu dengan niat baik dan sisanya diusahain sebaik mungkin.

Dari semua kebersamaan gue dengan Sam, ada satu pelajaran besar yang gue dapet. Dan untuk ke depannya, akan selalu gue inget…

Sam mengajarkan gue untuk merelakan yang tidak memberi kepastian.

 

OSPEK SALAH KAPRAH

Asli nih ya, gue emosi banget nulis blog ini. Bener-bener nangis deh went through foto-foto ospek dengan penyiksaan super ala ITN Malang. Gue ga akan share fotonya di sini sih anyway, terlalu sayang mata kalian buat dikotori sama tindakan sampah macam begitu. Every single thing they did was such a disaster! Well, kalau pada penasaran mungkin bisa di googling sendiri atau via link yang gue dapet dari temen ini http://kask.us/hqe51 

MARAH BANGET GA SIH SEDUNIA SAMA KELAKUAN SEMACAM INI??!!

Itu seniornya pada kerasukan sih gue rasa, kerasukan roh jahat! Itu yang kalian siksa itu anak manusia woy! Ga lebih rendah daripada kalian. Mereka juga punya orang tua, keluarga, perasaan, dan NYAWA! Punya jasa apa sih lo semua sampe pada ngerasa pantes buat nyiksa anak-anak orang?!

Kaum terdidik itu harusnya MENDIDIK bukan MENGHILANGKAN NYAWA! Bullshit lah itu kuliah setaun dua taun tiga taun kalo ternyata moral aja ngga punya! Ospek itu kan masa orientasi, lo semua sebagai senior tuh kewajibannya BANTU para junior supaya bisa adaptasi sama kehidupan kampus! Bukannya adaptasi sama penyiksaan dan mendekatkan pada kematian! Who do you think you are? Tuhan?? COME ON.. Tuhan aja yang menciptakan manusia, menciptakan lo-lo semua itu ga menyiksa ciptaannya seperti itu! Astaghfirullah.. 😥

“Masih terlalu banyak mahasiswa yg bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, Menindas kalau berkuasa” – Soe Hok Gie

Those words are right, Soe Hok Gie was true. Mahasiswa itu diberi titel MAHA maksudnya adalah dia berada pada level tertinggi dari para pembelajar, diharapkan paling tidak ilmunya sudah lebih cukup, paling tidak bisa waras dan maksimal menggunakan akal. Tapi sayangnya makin tinggi makin sombong, makin nyeleneh, makin tengil! Gue rasa ya, bangsa kita ini terlalu lamaaaaaaaaa sekali dijajah sehingga tertanam dalam jiwa secara tidak sadar maupun sadar “jika ada kesempatan untuk pegang kuasa, bawaannya udah pengen nyiksaaa aja, bawaannya pengen bales dendam, bawaannya pengen ngerasain nindas orang tuh kayak apa”

Jadi pertanyaan besarnya adalah : KENAPA SISTEM OSPEK DENGAN TEMA PENYIKSAAN INI MASIH  “DIPERTAHANKAN” ? Nah, siapa yang mempertahankan? itu gue kasih tanda kutip karena sebenernya secara sadar atau tidak, pihak berwenang kampus dan jajaran akademisi ikut terlibat dalam pelestarian budaya busuk ini. Ya gimana enggak? Buktinya masih bayak lembaga pendidikan yang melangsungkan praktek kotor macam ini. Izin yang dikeluarkan kampus adalah dasar dari pelaksanaan kegiatan, bukan? Maka seharusnya dipantau! dicek! Tarolah mereka ini seharusnya udah pada dewasa, udah pada ngerti.. yatapi kan itu SEHRUSNYA! Tetetp gaboleh lengah dong pihak kampus, dengan lepas tangan biarin kegiatan jalan tanpa pengawasan, di tempat yang jauh pula! OH FOR GOD SAKE!! orang tua maba itu pada mempercayakan anaknya sekolah jauh-jauh, diusahain semaksimal mungkin biayanya, tapi apa iya pulang cuma jadi mayat dan permohonan maaf?? TOLONGLAH :”(

Bahkan tidak jarang beberapa lembaga pendidikan yang seniornya masih curi-curi untuk mengadakan ospek ilegal di luar kota! APA? OSPEK ILEGAL? Gila ga tuh sampe dibela-belain bikin ospek ilegal?!! Se ga tahan itukah mereka mau menyalurkan hasrat penyiksaan? Se-ngebet itukah orang pengen menunjukkan kekuasaanya? Please do remove your brain, it will no longer in use!

Satu lagi, yang ngga kalah penting, kalian ya para junior, para maba, JANGAN LUGU-LUGU AMATLAH, JANGAN IYA-IYA AJA KALO DISURUH NGAPA-NGAPAIN!! Ya lo pada kan udah gede, pikir dong mana yang pantes dilakukan dan mana yang engga. Hidup tuh selalu dan selalu ada pilihan, cuman lo nya aja yang TAKUT sehingga membuat pilihan itu hilang dan berubah jadi suatu kewajiban. Suruh masuk sumur?? AYO! Suruh telanjang bunder?? BOLEH! Suruh jilat pantat senior? GAPAPA.. yaa ampuun WOYY BANGUNN! itu sama aja lo pada ngga menghargai orang tua lo masing-masing! Apa hubungannya? YA ADA! itu semua dari ujung rambut sampe ujung kaki, selama lo dari janin sampe sekarang semuanya itu jerih payah dan doa orang tua lo. Yang setengah mati cari uang, bersakit-sakit, buat biayain hidup lo, biar lo jadi anak sehat, anak pintar, sekolah yang tinggi, jadi anak berguna, masa depan cerah, dan segala harapan baik lainnya.. LALUUU DENGAN BEGO-LUGU nya lo serahkan diri lo begitu saja sama senior busuk yang baru lo kenal seminggu dua minggu??? Takut apa sih sama senior? Makanya kalo udah dapet sinyal ini kegiatan dan orang-orang nya ngga bener ya bilang TIDAK dari awal, gausah join! Inget ya, kalian tuh semua masuk kampus buat belajar, buat menuntut ilmu! Bukan menuntut para senior busuk itu di akhirat.

Ayolah Indonesia, gue mohon jangan kelaamaan main bego-begoan kayak gini..!