A Long Lost Best Friend

Lately I’ve been talking to mom about love, quite a lot. By love, we mean several things; guys, marriage, husband critera, household roles, commitment, etc.

It’s a rare topic in our crib. This was actually an untouched door that we both stayed away from for quite a long time. An awkward issue to discuss. We were always in an uncomfortable situation each time my mom started this topic. And she, she never dug deeper anyway. But since 2015 when we were 11,757 km apart (Jakarta – Leeds), it became less awkward because we discussed this through text. Thank God it continues.

She asked me to tell her about guys around me, about my timeline, about current situation. Then, when it came to her turn to talk, she shared her point of view. Here, I realized that my mom is quite an observer. She knows the details even though I have not tell her yet and most of the time she sees what I did not see. She also shared her experiences dealing with men, lectured about type of men, what to look for in them, and how important it is to guard our own honor. I particularly enjoy when she tells me about how my dad put efforts towards mom back then. Amidst laughter of listening about my dad’s craziness, I notice that those kind of efforts are the ones that I’d love to see in some guys nowadays. It’s just funny and comforting at the same time to know what was my dad like before he’s him now. The man I adore, the man I can rely on, the man I trust.

Mom told me, “Always choose a guy who madly deeply in love with you. Like he would chase you wherever you are heading to. Because us, women, we are easy to fall in love. But men, it just takes a little thing to distract them. So if you start with a guy who is not fully into you, then be prepared for the worst twist.”

She repeated several times that she and Dad do not fancy the complicated pre requirements like other parents might do. What important are; make sure he’s a good moslem by daily practice, responsible towards me in term of moral and material, and he loves me sincerely (vice versa of course).

Now I know and realize that there is no better friend to share and discuss about my love life other than my own parents.

 

 

Advertisements

Pasti, Kepastian, Dipastikan

Beberapa waktu lalu gue berkesempatan reuni cilik dadakan sama beberapa temen masa muda (waelaaah..) Selayaknya makhluk sosial yang normal, kami berbincang ngalor-ngidul dari nostalgia kejahiliyahan di waktu lampau sampai update kehidupan terkini. Salah satu dari kita adalah seorang pria yang baru saja melangsungkan pernikahannya dengan seorang teman lainnya (dari circle kita juga). Ngobrollah kita pakai mode tanya jawab dan sharing sambil makan siang enak, sekalian karena si istrinya lagi ga ikut maka kita kulik versi si pria. Hahahaw!

Well, gue ga akan ngeluangin waktu ngeblog sih seandainya obrolan tersebut ga bermutu dan kurang bermakna. Nah ini gue sampe sempetin ngeblog kan berarti ada esensinya. Wahhh, esensi macam apakah itu? Mari kita simak liputannya bawah ini!

 

Gue bertanya:

Gimana rasanya abis nikah, apa yang beda sekarang?

Dia jawab:

Seru sih!! Dan lebih tenang.

Hmm.. menarik ya. Seru itu hal yang fun, hore, hiruk pikuk, dan bergejolak. Sedangkan tenang adalah sebaliknya, kalem, adem, santai, dan cenderung sunyi. Well, setidaknya itu menurut pemahaman gue. Bayangin deh, dua hal yang beda itu bisa dijadiin satu dan kombinasinya pasti indah banget. Lo merasa seru dan tenang di saat yang sama. Dan lo ga sendirian. Sejauh apapun mainnya, selama apapun kerjanya, lo tau lo berdua pulang ke rumah yang sama.

 

Gue bertanya:

Abis nikah, lo sama temen-temen circle lain gitu jadi beda ga?

Dia jawab:

Dulu di geng cowo-cowo, kalo ada yang abis nikah pasti jadi jarang ngumpul, susah nongkrong. Biasanya suka dikatain takut istrilah, berubahlah, bahkan gue juga ikut ngatain. Tapi begitu ngalamin sendiri, gue baru tau kenapa. Sekarang tuh gue rasanya semangat gitu pulang ke rumah. Kalopun nongkrong di luar sama temen seru, ya gue ga lama. Gimana bisa lama kalo sama yang di rumah lebih seru.

I know.. I knoooww exactly he was not talking about the sex part. Coz, comeee oooon that’s obvious pleasure though… Seru di sini yang dia maksud adalah there’s someone that we look forward to. Pengen cepetan pulang, pengen segera ketemu pasangan karena banyak hal yang buru-buru pengen kita ceritain sesampainya di rumah, pengen tau juga kabar dan cerita si pasangan hari ini, makan bareng, ngobrol sana sini, bercanda ini itu, the cuddling part, and the everything you can only do with them.

 

Gue bertanya:

Kenapa sih lo akhirnya mutusin nikah? Gimana lo yakin “OK. Perempuan yang ini nih yang gue nikahin.” ?

Dia jawab:

Sebenernya ya gue bisa aja cari lagi yang lebih lagi dan terus kayak gitu terus. Tapi di satu titik gue ngerasa gue butuh yang cukup aja sih. Dan sama dia gue ngerasa cukup. Susah juga kalo nyari terus yang baru, mesti mulai dari awal lagi, dan ga gampang nyari orang yang bisa tahan sama sifat gue, kebiasaan gue.

Gue nikahin dia juga sebagai bentuk “mengangkat derajat”. Derajat di sini maksudnya bukan tadinya rendah atau gimana. Tapi ya dengan nikahin, gue menghargai dia lebih dari sekedar “cewe yang deket sama gue” gitulah.

ANJAAAAY SODARA-SODARA, ini jawaban di luar ekspektasi gue hahaha. Dia menjelaskan dengan sangat lempeng dan kayak ga ada apa-apa. Padahal isinya sungguh dalem dan bermakna. Ketika dia bilang “ngerasa cukup”, gue langsung tau bahwa cukup adalah kata kuncinya. Kebetulan gue sempet bahas tentang itu lumayan panjang lebar di postingan yang ini. Bener sih, karena emang nyari apalah kita di hidup ini kalo bukan yang cukup? Kemudian, jawaban dia tentang “mengangkat derajat”, well.. ini membuka cakrawala sih dan mengingatkan secara gamblang bahwa bukan semata-mata seperti kata stereotype di luar sana yang bilang  “perempuan itu butuh kepastian”. Ini bahkan dari sisi prianya yang mengkonfirmasi. Kalo aja yang namanya keseriusan hubungan itu ibarat pokemon yang berrevoulsi berubah bentuk seiring dengan level kedewasaannya, maka bentuk terakhir dari keseriusan hubungan itu adalah menikah. The best form of appreciation is certainty.

 

Terima kasih broh atas sesinya :’)

Barakallahulak wa baraka ‘alaik wa jama’a baynakum fii khayr

 

Ternyata IT juga Diurusin Sama Allah

Kali ini ceritanya dateng dari bokap gue. Kejadiannya berlangsung pas kami umroh beberapa waktu lalu. 

Settingnya di Madinah. Abis subuhan bokap ngelewatin area museum Nabawi. Doi ngeliat ada orang-orang rame pada foto dengan background poster masjid Nabawi dan kota Madinah, pake gaya macem-macemlah. Ada satu orang nih yang rupanya menarik perhatian bokap, dia gaya ngangkat kedua tangan berdoa gitu loh sambil liat langit. Kurang lebih ginilah ya

Ngeliat itu, bokap dalem hati ngebatin selewat aja gitu, “Sok alim amat nih orang pose begitu, kalo mau doa mah dalem mesjid aja.” Begitu pikirnya.

Sampai di hotel, abis sarapan pas di kamar lagi bertiga sama gue dan nyokap, bokap tiba-tiba resah hapenya mati total. Padahal ga jatuh ga apa. Diusahain macem-macem tetep ga bisa idup. Bingunglah dia. Karena udah terang gue sama nyokap mau lanjut ke raudhoh terus dhuha di Nabawi. Bokap masih berkutat usaha benerin hape pas kita tinggal di kamar.

Pas ketemu lagi di kamar menjelang makan siang, bokap cerita. Tadi abis ngusahain hape tetep ga idup akhirnya bokap sholat tobat, dia ngerasa ada yang salah nih sama dia. Abis sholat tobat lanjutlah dia dhuha ke Nabawi. Di perjalanan, doi lewat lagi tempat orang pada foto-foto tadi. Pas makin dia perhatiin kok bagus ya foto di situ, pengen banget juga foto buat kenang-kenangan pake background poster Nabawi dan kota Madinah itu. Dalem hati bokap bilang, “Ya Allah sayang banget hapeku mati, padahal pengen juga foto di situ.” Lalu, sambil ngarep, bokap ngeluarin hapenya dan dia pencet biasa EH IDUP AJA LOH HAPENYA KAYAK GA ADA APA-APA. Kagetlah bokap gue, seneng dia. Terus minta fotoin sama orang sekitar situ. Ended up, doi pose dengan dua tangan diangkat gaya berdoa gitu sambil liat ke langit. Persis plek ketiplek sama pose orang yang dia katain sok alim tadi pagi.

Di penghujung ceritanya, bokap bilang bahwa key takeaways dari pengalaman ini adalah:

– jangan usil sembarangan mencibir orang walau dalam hati. Allah tau.

– rajin-rajin perbanyak solat taubat. Karena tiap waktu kita nih manusia pasti adaaa aja salahnya. Minta ampun yang banyak sama Allah.

Gitu guys :’) gue terharu sekaligus seneng dapet firsthand story dari bokap. Pelajaran moralnya dapet, dan kebanggaan gue terhadap beliau bertambah karena beliau ga malu sharing pengalaman berupa kesalahan yang dia lakukan.

Barakallahulak, Pah!

Jangan Bawa Bawa Agama

Sering gue baca atau denger kalimat seperti di judul tulisan ini, dalam interaksi sehari-hari. Biasanya muncul pas lagi bahas politik, seni, budaya, ilmu pengetahuan. dan masih banyak lagi. Awalnya gue mikir, ya mungkin emang ada hal-hal yang ga bisa dikait-kaitin sama agama, kalo dikaitin jadinya pembahasannya ga bisa lanjut. Mungkin emang agama itu ranah khusus yang mesti kita simpen di suatu tempat tersendiri dan dibawa ketika waktunya tepat aja.

Hmm…

Makin ke sini, gue cek ulang pemikiran gue tadi, jadinya kok malah aneh ya. Aneh kenapa? Ya aneh karena rupanya makin banyak hal yang gue baru tahu ternyata dicover juga sama agama gue, ternyata banyak ranah kehidupan yang juga diatur dengan rapihnya sama agama gue. Lalu gue tanya lagi ke diri sendiri,

“Gimana coba caranya ga bawa-bawa agama?”

Soalnya agama gue ngatur urusan makan-minum beserta adabnya.

Soalnya agama gue ngajarin urusan bersih-bersih dengan detail.

Soalnya agama gue ngatur cara interaksi sama orang-orang, baik itu keluarga, teman, kolega, bahkan yang beda agama sekalipun.

Soalnya agama gue ngatur dengan jelas tentang hukum waris seadil-adilnya.

Soalnya agama gue ngajarin menuntut ilmu tanpa kenal gender.

Soalnya agama gue ngatur tentang batasan aurat dan bagaimana mengontrol diri.

Soalnya agama gue ngatur tentang perkenalan, pernikahan, dan tetek bengek rumah tangga demi ga ada yang dirugikan didalamnya.

Soalnya agama gue ngasih aturan jelas tentang perbankan dan keuangan di berbagai level.

Soalnya agama gue ngajarin tentang tata cara berdagang yang halal dan ga ngerugiin orang.

Soalnya agama gue ngajarin batasan ngambek dan tegur sapa.

Soalnya agama gue punya panduan yang jelas tentang pemerintahan suatu negeri.

Soalnya agama gue menjabarkan pentingnya ilmu pengetahuan dan bahkan tanda-tandanya tersebar di alam raya.

Soalnya agama gue ngajarin etika menasihati orang lain.

Soalnya agama gue bahkan considerate banget sama gimana cara memperlakukan binatang.

Nah, ini aja baru sebagian yang gue tahu, masih banyak banget yang belum gue pelajarin. Kita tuh ya, sering karena banyak ga taunya, eh malah jadi sotoy dan sibuk bikin justifikasi sana-sini. Agama cukup disimpen di laci ga perlu ikut dibawa pergi, cuma ditengok sesekali kalo lagi sakit hati atau lagi mengalami rugi. Yakaliiii!

Kalo semua sisi kehidupan udah diatur sama agama detailnya dengan rapih kayak gitu, coba gue tanya lagi,

“Gimana coba caranya ga bawa-bawa agama?”

 

 

Dipaksa Gelisah

Rabb,

Aku ngga iri sama yang kondangan ada gandengan

Aku ngga iri sama yang liburan berdua ke mana-mana

Aku ngga iri sama yang rajin anniversary bahkan sebulan sekali

Aku ngga iri sama yang sabtu minggu nonton-nonton lucu

Engga tuh.

Tapi aku iri sama yang umroh berdua 5 waktu di al-harom

Aku iri sama yang USG 4D  abis pulang kantor

Aku iri sama dua keluarga besar kumpul jadi satu

Aku iri sama mereka yang apapun kegiatannya, selalu pulang ke rumah yang sama

Tapi aku tau kok

Semua ada waktunya kan?

Semua ada momennya kan?

Cuma mau minta tolong sih Rabb

Kalau waktu & momen itu ternyata masih agak nanti, bekali aku ekstra sabar sedikit lagi

Buat aku mengerti sehingga ga jadi iri sama hal-hal yang bukan inti, apalagi ngusahain yang ga Kau ridhoin.

Aamin

Terus, Kenapa kalo Bumi Datar?

Pada ngikutin debat bumi datar VS bumi bundar ga sih?

Belakanga ini bahasan mengenai flat earth lagi marak dibahas di dunia maya di berbagai belahan dunia. Bahkan ada satu channel youtube Indonesia yang kupas tuntas, namanya Flat Earth 101. Gue ngikutin tu dari episode 1 sampai yag terbaru hahah!

Gue ya belum dalam stance yang gimana-gimana sih. Istilahnya nih, kalo bumi ternyata segitiga pun ga tau juga apa pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari gue. Jadiiiii ya gue emang ga ngotot belain salah satu paham manapun, baik bumi bundar maupun bumi datar.

Cumaaaa ini si pembahasan flat earth tak dipungkiri memang sangatlah bombastis buat gue haha karena pas nonton dan nyimak penjelasannya tuh gue sempet semacam, “WHAT?! MY WHOLE LIFE WAS A JOKE???!” hahha

Makin gue baca Quran, malah nemuin ayat-ayat yang menurut gue terjemahanya mendukung ke arah flat earth gitu. Nih beberapa ayat yang membuat gue galau dan gamang (azeeeigh):

  1. Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran” (Al-Hijr: 19).
  2. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?  (Al-Ghaasyiyah: 20)
  3. “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak?” (An-Naba 78: 6-7)
  4. “dan demi Baitul Ma’mur , dan atap yang ditinggikan (langit), dan laut yang di dalam tanahnya ada api,” (QS. At-Thur: 4-6)
  5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. (Ar-Rahman:5)
  6. Ar-Rahman:33 disebutkan jin maupun manusia tidak ada yg bisa menembus langit kecuali atas izin Allah SWT

 

Ini tuh susah ya dibahas lewat blog, enakan ngobrol. Jadi kalo ada waktu senggang dan bersedia, nonton deh di youtube. Nih gue kasih channelnya . Ntar kalo tertarik bahas, gue mau bangett!!

Ada yang Lebih Penting

Di saat Mbak Dian Sastro and the gank punya pertemanan sehat yang malang-melintang di internet, kamu malah secara sukarela dikelilingi kebahagiaan pertemanan jahit seragam, pertemanan hamil, dan pertemanan ASI. Bahasan mengenai persiapan nikah, mengenai berantem-berantem lucu sama mertua baru, atau gejolak diskusi ASI ekslusif mengalir deras di grup-grup whatsapp. Semuanya heboh, seru, dan gegap gempita dengan fase barunya masing-masing. Di tengah itu semua, kamu ga bisa bohong kalau di dalam hati rasanya ada sesuatu yang lumayan berisik dan mengusik. Apakah itu? Yaitu pertanyaan ke diri sendiri, “Kapan ya saya ada di fase mereka?”

Lebih dari sering orang tua mengingatkan dengan nada bertanya, “Kamu kondangan terus, kapan dikondangin dong?” Seolah kita tampak kurang minat sama pernikahan, padahal aslinya udah usaha kanan-kiri dan tanya sana-sini. Belum lagi pakde, bude, om, tante yang tiap ketemu kayak ga nemu cara lain untuk membuka percakapan. Kata-kata “Pacarnya mana?” menjadi topik awal yang lumayan bikin kita jadi males sekaligus perut jadi mules. Rasanya pengen jawab “Mungkin calonku lagi bahagiain orang lain dulu, Tante. Nanti juga ke sini kalo udah waktunya.” Eaaaa! Hmm.. kadang capek juga ya ditanyain sama tukang jahit iseng, “Jahit seragam melulu, Mbak? Kalah banyak deh seragam anak sekolahan. Hihi.” Yah senyebelin-nyebelinnya celetukan si tukang jahit, tapi dia ada benarnya juga. Gimana seragam kawinan ga banyak kalau tiap weekend ada aja janur kuning yang melengkung. Beberapa kali lewat depan janur bawaannya mau teriak, “Nurrr, kapan melengkung buat gue sih?!”

 

Bukan, bukannya ga ikut bahagia dalam keceriaan teman-teman yang lain. Cuma, ini adalah sesuatu yang juga sangat wajar dan manusiawi ketika kamu resah dan bertanya-tanya mengenai nasib kamu sendiri. Inget ya, realistis itu beda sama egois. Di masa penantian yang rentan galau gini, biasanya diperparah dengan tiadanya pasangan yang menemani, alias jomblo, atau bahasa yang sering digunakan untuk denial adalah single. Rasanya tuh sepi banget, ke mana-mana lebih sering sendiri. Apalagi kalau lagi libur, mencari teman jalan mesti sabar-sabar karena rata-rata udah pada ada rencana sama sang pacar atau pasangan masing-masing. Tapi tenang aja jangan khawatir, sesungguhnya mereka-mereka yang masih pacaran itupun statusnya sama kayak kita yang masih single kok. Sama-sama tertulis di KTP ‘belum kawin’, lagipula bisa putus kapan saja, tanpa terikat tanggung jawab apa-apa. Kita ya baru beda level ketika salah satunya menikah. Haha. Setuju ga setuju itulah kenyataanya J

Di tengah kesepian itu pasti kamu menunggu-nunggu kapan giliran kamu. Masa penantian itu penuh jebakan yang bikin kamu kadang mau nyerah, kadang mau pasrah, atau malah berdarah-darah karena inget lagi beberapa luka lama yang dikorek-korek sendiri saking ga adanya kerjaan. Huhu, jangan begitu! Menanti itu mesti hati-hati, boleh sambil liat kanan kiri, yang jelas tetap jaga harga diri. Jangan sampai kamu menurunkan standar hanya karena lelah menanti dan ingin segera bersandar. Kamu ga perlu jadi perempuan yang lebih lemah hanya karena pria-pria suka sama perempuan manja. Kamu ga perlu jadi perempuan pura-pura bodoh hanya karena pria minder sama perempuan yang pendidikannya tinggi. Kamu juga ga harus menggampangkan diri untuk menerima ajakan sembarang pria hanya karena kamu kesepian. Ayolah, jangan pesimis! Menurunkan standar dan kualitas kamu itu bukan pilihan yang bijak dalam rangka mendapatkan pasangan hidup. Hal penting lainnya yang perlu kamu ingat adalah walaupun kamu sudah berusaha mati-matian melakukan ini itu dan perbaiki ini itu supaya menjadi yang terpilih, jangan sampai kamu repot-repot menjadi orang lain! Tetaplah jujur menjadi diri kamu sendiri dengan versi yang terbaik. Karena sesungguhnya bukan cuma tugas kamu aja kok untuk meyakin-yakinkan dia agar dia memilih kamu. Kalau memang dia menemukan apa yang dia butuhkan di dalam diri kamu, dan kalau memang dia merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan, pasti dia akan melakukan usaha yang setara. Karena di dalam hubungan, setidaknya kita butuh dua orang dewasa yang sama-sama berusaha.

Kadang mungkin kamu bingung kenapa ya kok kamu sendiri aja sementara teman-teman lain sudah menikah atau paling tidak yaah ada deh yang berminat. Padahal kalau boleh jujur dengan tambahan sedikit percaya diri alias GR, kayaknya banyak deh yang ga secantik kamu, ga sepintar kamu, dan ga seasik kamu. Tapi kenapa ya mereka lebih dulu ‘laku’ sementara kamu masih menunggu? Tentunya ga terhindarkan lagi kondisi di mana kamu jadi sering bertanya-tanya apa gerangan yang kurang dari diri kamu sendiri. Apa kamu kurang menarik? Mungkin kurang asik? Atau kurang baik? Semua pertanyaan itu muter-muter di kepala sambil kecipratan rasa yakin bahwa kamu udah coba melakukan yang terbaik. Duh, mau ketawa tapi kok rasanya kecewa, mau ikhlas tapi kok ya malas, dan mau ga baperan tapi kok ya penasaran.

Yang perlu kamu tahu, menjadi sendiri tanpa pasangan seperti sekarang ini adalah satu dari banyak hal yang bisa bikin kita lebih dewasa, lebih kuat, lebih mandiri, dan bikin kita lebih melek sama kehidupan. Iya, hidup ternyata ga selalu seindah bayangan dan rencana-rencana kita. Hidup juga ga se-sederhana 2+2 = 4 yang hasilnya pasti. Bisa aja kamu udah nyoba sebaik yang kamu bisa, tapi sayangnya ga pernah ada jaminan kamu akan serta merta dapetin apa yang kamu usahain. Atau malah bisa aja kamu ga seniat itu ngusahain sesuatu, eh ternyata justru kamu dapet aja gitu tanpa disangka-sangka. Jangan bingung, hidup suka se-random itu, memang.

Di sisi lain, pengalaman belum dipilih seperti sekarang ini juga melatih kita untuk ga gampang kecewa. Orang yang gampang kecewa itu sungguh rapuh dan pastinya rajin ngeluh. Ya gimana dong, kan ga mungkin kamu berharap dunia ini selalu mulus seperti pipi Raisa, ga mungkin juga semesta selalu melindungi ego kamu, atau umat manusia bahu membahu menjaga perasaan kamu? Pastilah, jarang maupun sering kita akan senggolan sama yang namanya rasa kecewa di dalam hidup. Jadi, bersyukurlah kamu kalau pernah menjadi bukan pilihan. Itung-itung latihan menghadapi kekecewaan-kekecewaan lainnya di depan nanti.

Sementara menunggu, kamu mesti tetaplah sibuk dengan hal-hal positif yang inspiratif. Ngapain? Ya ngapain kek. Bisa berprestasi di kantor, aktif di masyarakat, terlibat di komunitas sosial, dan masih segudang lagi pilihan baik lainya. Begitu pikiranmu kembali jernih, coba perhatikan baik-baik deh! Ternyata ada loh hal yang lebih penting daripada sekedar terpilih atau belum terpilih jadi pasangan seseorang, yaitu tentang menjalani hidup sebagaimana mestinya dengan sebaik mungkin, terlepas dari kamu sekarang sudah sama pasangan atau masih sendiri. So, ayo jadikan masa penantianmu sebermanfaat mungkin supaya kelak tiba saatnya pasangan kamu hadir, dia tahu bahwa dia memilih orang yang tepat.