Ternyata IT juga Diurusin Sama Allah

Kali ini ceritanya dateng dari bokap gue. Kejadiannya berlangsung pas kami umroh beberapa waktu lalu. 

Settingnya di Madinah. Abis subuhan bokap ngelewatin area museum Nabawi. Doi ngeliat ada orang-orang rame pada foto dengan background poster masjid Nabawi dan kota Madinah, pake gaya macem-macemlah. Ada satu orang nih yang rupanya menarik perhatian bokap, dia gaya ngangkat kedua tangan berdoa gitu loh sambil liat langit. Kurang lebih ginilah ya

Ngeliat itu, bokap dalem hati ngebatin selewat aja gitu, “Sok alim amat nih orang pose begitu, kalo mau doa mah dalem mesjid aja.” Begitu pikirnya.

Sampai di hotel, abis sarapan pas di kamar lagi bertiga sama gue dan nyokap, bokap tiba-tiba resah hapenya mati total. Padahal ga jatuh ga apa. Diusahain macem-macem tetep ga bisa idup. Bingunglah dia. Karena udah terang gue sama nyokap mau lanjut ke raudhoh terus dhuha di Nabawi. Bokap masih berkutat usaha benerin hape pas kita tinggal di kamar.

Pas ketemu lagi di kamar menjelang makan siang, bokap cerita. Tadi abis ngusahain hape tetep ga idup akhirnya bokap sholat tobat, dia ngerasa ada yang salah nih sama dia. Abis sholat tobat lanjutlah dia dhuha ke Nabawi. Di perjalanan, doi lewat lagi tempat orang pada foto-foto tadi. Pas makin dia perhatiin kok bagus ya foto di situ, pengen banget juga foto buat kenang-kenangan pake background poster Nabawi dan kota Madinah itu. Dalem hati bokap bilang, “Ya Allah sayang banget hapeku mati, padahal pengen juga foto di situ.” Lalu, sambil ngarep, bokap ngeluarin hapenya dan dia pencet biasa EH IDUP AJA LOH HAPENYA KAYAK GA ADA APA-APA. Kagetlah bokap gue, seneng dia. Terus minta fotoin sama orang sekitar situ. Ended up, doi pose dengan dua tangan diangkat gaya berdoa gitu sambil liat ke langit. Persis plek ketiplek sama pose orang yang dia katain sok alim tadi pagi.

Di penghujung ceritanya, bokap bilang bahwa key takeaways dari pengalaman ini adalah:

– jangan usil sembarangan mencibir orang walau dalam hati. Allah tau.

– rajin-rajin perbanyak solat taubat. Karena tiap waktu kita nih manusia pasti adaaa aja salahnya. Minta ampun yang banyak sama Allah.

Gitu guys :’) gue terharu sekaligus seneng dapet firsthand story dari bokap. Pelajaran moralnya dapet, dan kebanggaan gue terhadap beliau bertambah karena beliau ga malu sharing pengalaman berupa kesalahan yang dia lakukan.

Barakallahulak, Pah!

Advertisements

Tentang Kalah

Yang namanya kalah itu ga pernah enak.

Kecuali

Lo emang sengaja dari awal karena udah ogah-ogahan ikut sesuatu karena dipaksa.

Gue sempet tau di kontes fashion show anak kecil gitu, beberapa orang tuanya titip piala yang mereka bawa sendiri ke panitia. Iya cuy, beli sendiri pialanya :’) Katanya itu untuk dikasihin ke anak mereka jika ternyata si anak ga menang. Supaya apa? Ya supaya menghindarkan si anak dari rasa kecewa yang tentunya sepaket sama rasa sedih. Kebayang ga sih lo gimana ini anak tumbuh dewasa nantinya jika selalu dijaga dari rasa kecewa? Bukankah orang tua ga bisa selalu ada buat anaknya 24 jam? Bukankah lebih baik kenalin sedini mungkin bahwa hidup kadang ada ga menyenangkannya? Bukankah kehidupan itu sendiri emang ga semulus paha-pahanya Cherrybell?

Hmm.. Gue emang belum jadi orang tua sih, jadi mungkin gue belum paham gimana mega giga besarnya sayang orang tua pada anak, gimana pengennya orang tua ngelindungun anak dari kesedihan. But I just sense that there’s something quite wrong sama kebiasaan menghindarkan anak dari rasa kecewa. Kayak apa-apa diturutin, ngerengek dikit dikabulin, dibiasakan selalu menang. Hmm…

Walaupun gue belum jadi orang tua, setidaknya gue (alhamdulillah) merasakan kasih sayang orang tua. Bapak-Ibu gue justru malah “melemparkan” gue ke dalam belantara rasa kecewa, sedih, dan kalah. Mereka membiarkan gue dan adik-adik gue nyicipin kayak apa itu rasanya sakit, kayak apa itu rasanya tidak menang, kayak apa itu rasanya kapok. Thing that I learned from my parents is that they are always there. They are still there,  at the very first point when they let us go. They were watching, observing, and monitoring. Once I ran back to them with tears, with wounds, with disappointment, they calmed me down. Bapak gue sering banget bilang, ” Kak, hidup tuh ga selalu 2+2 =4. Yang kita kira udah pas banget ukurannya, persiapannya, tapi kalo ternyata itu bukan buat kita ya udah, berarti emang ga buat kita. Makanya kita kalo beraharap sama Allah aja.” Lain lagi dengan nyokap gue yang sering bilang begini kalo pas gue lagi gagal sesuatu, “Yang penting kan udah coba, Kak. Jadi tau dan pengalaman. Kalo coba lagi udah ada gambaran. Minta aja yang terbaik sama Allah.”

Ngomongin ‘kalah’ tuh bisa banget diposisiin di segala aspek hidup ya. Bisa kerjaan, sekolah, pertemanan, asmara, persaudaraan, bisnis, cita-cita, atau bahkan kalah sama diri sendiri. Yang sering dikaitkan dengan kalah ini adalah rasa kecewa dan biasanya nyambung ke yang namanya”mengatur ekspektasi” Nah! PE ER banget nih yang satu ini butuh postingan sendiri kayaknya.

Jadi intinya yaah biarkanlah diri kita ada kalanya kalah sama orang lain. Biar nanti pas menang, berasa gejolak kemenangannya. Muahahhaha!

The Adams wore White Shoes at 4.20 while listening to Barasuara

I was a concert virgin.

Until last week, a friend of mine randomly asked me out to see a rock band which apparently has become our favorite lately.

First thing first, this is the only rock band that I am willingly listening to. What I’ve got in my mind about rock band was always uneasy, wild, chaos, and impossible to enjoy. But then, Barasuara unknowingly slipped into my spotify shuffle-play. After one song I was hooked up by how neat their beat was while bringing big energy at the same time. Oh well, I know nothing about music. I am just a forever listeners in my life. One thing for sure about Barasuara, your songs are enjoyable and memorable to me. That’s what matter. For your info, I only knew two guys from this band. Iga and Marco. Iga caught my attention because he is so dandy and too neat for a rocker. With batik for every show, he exactly looked like my high school teacher. Oh, and the fact that he is a family man melts me like butter on a hot pan! How about Marco? Of course I looked for his info since his beats were the first thing that hooked me up to Barasuara, if possible I would scream “GEBUK AKU MARCO, GEBUK!” Anyway we got a bad news 1 hour earlier from Marco’s instagram he was sick and his lil bro will be the replacer. Hmm… we were prepared that this concert would be without Marco.

Okay, so that day we checked on Barasuara Instagram account to find out more about the event. In fact, it was kinda festival held by A Mild which presented several indie bands. One of the highlights: THE EVENT WAS FREE OF CHARGE hahaha.  Besides, there were other cool bands that we would love to see as well, such as White Shoes and The Couples Company , and The Adams. Without further consideration we headed to Gudang Sarinah.

First world problem was how to find the parking lot. It was totally full and packed. There was no space that even the slimmest bike could fill in. Then the second world problem was the rain. It was raining so hard and my friend remembered that there was no umbrella in the car. If we would take risk by parking somewhere quite far from Gudang Sarinah, then how will we fight the rain? So we stopped for a while to think with a help from Gmaps. In 15 minutes my friend geniusly found DHL office that its parking lot is perfectly across Gudang Sarinah. Yeayy! And what’s more relieving was that actually we found an umbrella somewhere in the car. Double yeayyyy!

Barasuara, here we come!

Impact from earlier heavy rain, the venue could be pictured as below

banjir
not a shirathal mustaqim

We arrived in the perfect timing to see WSTCC performed about 5 songs. Not so many people engaged yet until they finished.

20160417_171423
I just realized that Sari was such a pecicilian dancer :’)

After that, the MC announced it was time for Maghrib break. WOW WHAT A SYARI’AH CONCERT! So we found a proper mosque around, did maghrib prayer, and went back to Gudang Sarinah. While waiting for the next band we strolled around the venue, took pictures, and lalala.

 

As soon as we heard some noises, we rushed to the main stage. At that moment, an unfamiliar band was performing their song. Our attention was tickled by the vocalist style and stage act 😀 hahaha he was just so catchy yet unique. But dont get me wrong, because apparently his voice was really soothing and the songs fit our ears. Later we knew, that band was 4.20 (fourtwnty). And again, the MC announced it is time forrrrrrr… Isya break! SERIOUSLY?! I am so glad that everything was going syar’i ! Hahaha

Next next, still 2 bands to go to see my darling Barasuara. So we enjoyed the performance of The Adams which brought back the old memory :’) followed by tons of laughter since this band was no doubt part of ludruk society! Wakakak.

ad
Consider ‘stand up comedy’ for your retirement later! 😀

After that, it was time for Kelompok Penerbang Roket (KPR). The audience were different, they seemed so freaking wild and unstoppable headed to center area in front of stage. Okay, I knew this band by name just because my friend mentioned it to me once and showed the album of Teriakan Bocah. Practically, I knew nothing. Soooo, when KPR entered the stage people started to scream. I did not know why because my eyes were glued to the fake Dave Grohl. Yes, he was John Paul Patton. Coki! God bless your face, dude!

coki
(beranda.co.id) Uuu.. Cokicokiku, HOW AM I SUPPOSED TO ENDURE YOUR GAZE ?!

Okay, saved Coki for later because the situation turned out to be super chaos along KPR performance. Those abang-abang were moshing uncontrollably that took so many space!! Number of men were lift up in the air by the crowd! Oh man. I couldn’t event take a single pic of it. Remember that I told you earlier? I was a concert virgin for music sake! So this first encounter with concert ambience was truly shocking for me. I automatically looked at my friend with super worry face and thank God he responded quickly by moving us to the side of stage to avoid the moshpit. Actually, my friend loves KPR and enjoys their songs. So that time was supposed to be a great moment to blend in with the crowd of abang-abang there.  But again, praise The Lord he did not abandon me (bless you!). Well, to be honest along KPR performance I did not watch them because I was busy  watching various weird activities happened in that moshpit. Dear God, for 19 minutes I missed my daster and my bed soo frikkin’ much. Oh No! But I was there for Barasuara so I need to endure a lil bit more. Thank God that CokiCokiKu was enjoyable to look at.

FINALLYYYYY after waving goodbye to KPR, it’s time for BARASUARAAAAA! Yeaaayy. One by one they entered the main stage. But.. Wait..! Who’s that walking towards drum set? Isn’t that…. MARCOOOOO?! Youuu crazy liar, man! But I’m happy :’) Okay then, the performance was opened by quite a formal speech from our Pak RT, Iga Massardi. After that? What I knew was we sang along the whole songs while hoping they would play all those 9 songs from Tarintih album haha. Last song was incredible Bahas Bahasa which played with additional drummer who happened to be Marco’s own little bro. WHAT A TALENT GUYS!!!

Thank you Barasuara! I am looking forward to seeing you in the upcoming tour!

ba
AYAH IGAAAA DADA!!

We went home happily with sore legs, a little encok, and starvinggggg!

Well I just unlocked the virtual badge of ‘going to a concert’. So now when someone asks me if I have been in a concert before? I can definitely answer, “Udah dooong, hari gini masa ga pernah ke konser?!” Hahahahaha

Kok Jalan Sendirian, Jomblo ‘Ndan?

Sekitar bulan lalu, gue menerima komen dari seorang staff Student Job / Kampus Update di salah satu postingan gue. Kemudian berlanjut ke email di mana dia meminta kesediaan gue untuk sharing via kultwit di akun @IDStudentJob mengenai solo traveling. Alias jalan-jalan sendiri. Yang dengan busuknya orang-orang suka sebut traveler jomblo. Hahahha kampret.

Ini bermula dari postingan gue yang ini yang nyeritain tentang pengalaman traveling gue ke 15 negara di mana 5 di antaranya gue lakukan solo. To be honest, tentunyaaa gue bukanlah mbak-mbak petualangan super tangguh yang bisa menaklukan ular dan bertahan hidup di hutan dengan makan dedaunan macam di acara-acara traveling / petualangan di tipi tipi ya. Gue juga menolak untuk dikategorikan secara sempit dan semena-mena ke dalam dikotomi traveler / tourist. Lagian kenapa sih orang harus mengelompok-ngelompokkan gitu. Jalan ya jalan aja udah, nikmatin, gausah ribet kan ya. Ini gue juga traveling kemaren itu karena lagi ada waktu dan kesempatan sih, jadi gue bukannya yang rutin jalan-jalan layaknya seorang traveler sejati gitu, bukaaan.

Maka dari itulah, gue sharing apa adanya berdasarkan apa yang gue alami. Dibalik kerandoman perjalanan gue semoga ada manfaatnya ya. Okay, long story short gue mengiyakan tawaran dari Student Job tersebut. Untuk lengkapnya lo bisa klik link ini atau kalo males, ya baca aja rangkumannya berikut ini:

1. Hallo Mbak pratiwanda , apa kabar? Lagi sibuk apa aja nih? #IDStalk

Hi teman2 @IDstudentjob alhamdulillah sehat dan seneng nih Lagi sibuk menikmati free time sebelum balik ke dunia kerja hehe.

2. Apa aja yang dilakukan mbak pratiwanda untuk mewujudkan keinginannya tersebut? #IDStalk

Mulanya saya ga mentarget harus 15 negara atau berapa, yang penting kunjungi sebanyak mungkin yg saya mampu. Motivasi awalnya simply krn dunia ini begitu luas, saya tuh kepengen banget lihat sisi lainnya selain Indonesia. Supaya apa? Ya supaya ga jadi “orang sempit” dan “jago kandang” tapi justru perluas pengetahuan&pengalaman

3. Bagaimana sih awal mula mba pratiwanda punya keinginan untuk jalan-jalan ke 15 negara? #IDStalk

Wujudin cita-cita traveling, Saya niatin sebisa mungkin ga pakai uang pribadi/ortu.Karena ga tau kapan cukupnya haha. Akhirnya cita2 traveling terwujud seiring saya mewujudkan cita2 yg lain, yaitu lanjut sekolah S2 di UK. Alhamdulillah dg beasiswa yg saya peroleh+gaya hidup mengirit,bisa traveling ke 15 negara tersebut tanpa dana pribadi.

4. Apa yang membuat mbak pratiwanda memutuskan untuk solo traveler ke 5 negara? #IDStalk

Oiya betul, dari 15 negara itu ada 5 negara yg saya sisihkan buat solo traveling, sisanya baru bersama teman2. Alasan solo traveling saya sebenernya karena I need to know how well I am doing alone. Dan karena solo traveling, saya jadi lebih tau self limit + belajar banget mengenaI management waktu yg oke.

5. Apa aja sih suka duka sebagai solo traveller? #IDStalk

Suka: Bebas nentuin mau apa, ke mana, kapan, tanpa perlu concern ttg org lain. Laper ya makan,capek ya berhenti. Duka: Pas mau foto jd mesti repot minta tolong. Dan was was jg ketika banyak tourist scam/kejahatan lain.

6. Pengalaman apa aja yang paling berkesan saat travelling ke 15 negara? #IDStalk

PALING berkesan ya? Hmm.. waktu kecopetan di Roma, Italy. Lalu bertahan hidup dengan makan roti tawar :’) haha

7. Adakah hambatan atau tantangan yang dialami sebagai seorang wanita dan menggunakan hijab saat traveling sendirian? #IDStalk

Alhamdulillah dg hijab hambatan ga ada yang berarti2 amat. Tapi lumayan tantangan juga nahan kesel. Kesel kenapa? Kesel karena pemeriksaan di airport lebih lama (curiga teroris/imigrant syria) & sering diliatin orang head to toe.

8. Menurut mbak pratiwanda, apa aja manfaat yang akhirnya dirasakan setelah ber-traveling ke negara lain? #IDStalk.

Dapat banyak perspektif lain; budaya, aturan, kebiasaan, bahkan variasi kuliner. Pas pulang jadi makin sayang Indonesia.

9. Apa aja tips-tips buat mereka yang ingin menjadi solo traveler? #IDStalk

Buat solo traveler apalagi dg limited budget, pintar2lah memilih tiket dan penginapan. Dari sini bisa irit byk. Waktu kunjung di suatu negara/kota ga harus lama yg penting jadwalnya jelas sehingga padat dan efisien. Oya satu lagi, usahakan interaksi sama orang lokal deh walau pake bahasa tarzan sekalipun. It’s worth a try.

10. Terakhir, pesan khusus apa yang ingin disampaikan mbak pratiwanda untuk anak-anak muda Indonesia? #IDStalk

Traveling butuh 3; sehat,waktu,uang. Jangan khawatir dengan yang trakhir. I’m a living proof that money is not an obstacle




Well, kurang lebih begitulah yang gue sampaikan. Kalo bisa disimpulkan ya, solo traveling itu perlu once in a while buat bonding sama diri lo sendiri. Lo jadi lebih kenal sama diri lo, lebih mengasah kemampuan problem solving, lebih respect sama waktu, dan lebih menghargai keluarga + orang-orang terdekat lo. Seru dan banyak pelajarannya! Tapi di samping itu ada kan ya di Islam tuh mengajarkan bahwasanya perempuan sebaiknya pergi dengan mahramnya. Dan berdasarkan apa yang udah gue alami selama traveling lalu, gue setuju serta membenarkan hal tersebut 🙂

 

KETAGIHAN

1 tahun, 15 negara, lebih dari 30 kota.

Berawal dari khayalan siang bolong, nyender lemes ngemil chiki, selimut  bau iler murni, dan dinding kamar penuh sticker eiffel, big ben, serta landmark lainnya di sana-sini.  Kemudian rajin nge-save save in dan nge-love love in foto-foto traveling di Tumblr dan Pinterest di mana saat itu konflik terberat paling cuma milih gambar mana yang mau dipake buat jadi wallpaper hp atau laptop. Lalu, hal paling mendekati aroma internasional yang bisa gue lakukan adalah dengan ikutan postcrossing, kirim-kiriman postcard sama strangers dari seluruh dunia. Tiap postcardnya nyampe, gue pegang, gue bauin, gue liat sambil bayangin, “Ih.. ini tuh postcardnya dari negeri lain, tempat yang belum pernah gue liat, orang-orangnya ngomong pake bahasa yang gue ga familiar, dan sekarang nyampe aja gitu di Pasar Minggu :’)


Jadi cita-cita banget tuh bisa mengunjungi sisi lain dari buminya Allah tapi gimana caranya ga pake uang sendiri. Karena apa? Ya karena jujur aja uangnya belom nyampe buat memenuhi budget travelling, katakanlah area Eropa aja misalnya, tetep belum cukup. Masa bisa terbang ke sana tapi terus ga bisa pulang kan lawak. Lagipula kalo uangnya udah ada pasti adaaa aja pertimbangan ina inu yang bikin ‘sayang ah duitnya’ kalo gitu ceritanya, niscaya ga akan jadi-jadi. Atau alternatif lain, mau pake uang orang tua? Yakaliii, kalo gue anak semata wayang atau bapak gue sultan kelantan sih mungkin gapapa ya. Tapi adek gue ada 2 semuanya masih sekolah. Hahha ya kalo tega sih gue pake aja biaya pendidikan adek gue buat jalan-jalan :p. Well, sebenernya ada sih cara lain, yaitu dengan ikut kuis-kuisan yang berhadiah jalan-jalan ke luar negeri. Tapi gue anaknya mualleeeesss banget ikut undian, ga bakat. Beli ale-ale buat gosok hadiahnya aja gue males 😦

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, per September 2014 gue mendapat beasiswa dari pemerintah Indonesia untuk lanjut sekolah selama setahun. Singkatnya, dana beasiswa itulah yang menjadi bahan bakar travelling gue. Nah, jangan pada suudzon dulu. Biasanya nih orang-orang bakal komen, “Lah, itu beasiswa yg diambil dari nge-pajakin gaji gue lo pake foya-foya?” atau “Itu uang rakyat lo pake jalan-jalan banget?” Hahahhaa ribet deh lo! Jadi gini gais, beasiswanya itu tuh alhamdulillah udah mencakup semua kebutuhan dari uang kuliah, uang buat bayar kosan, uang buat makan dan hidup, uang buat buku. Bentuknya tuh dikasih ke kita, nah kita sendiri deh yang bertanggung jawab untuk ngeplot-plotin berapa buat rumah berapa buat jajan, dst. Jadi bisa aja lo tinggal di kosan murah yang rada cupu tapi sisa uangnya banyak atau tinggal rada mewah tapi jajannya dibatasi, yaa trade off semacam itulah. Kalo gue, jarang pisan jajan baik jajan makanan maupun jajan fashion. Gue berusaha masak tiap hari dan membawa bekal, yaaah walopun masakan rasanya masih kayak tumis tanah liat setidaknya bisalah dimakan :p Belanja fashion juga paling lebih ke yg essential misalnya karena kebutuhan menyesuaikan cuaca semacam sepatu boots, jaket winter, dsb. Lalu kosan gue milih yang antara kampus dan city center jadi ke mana-mana tak gendong tinggal jalan kaki deh, ngirit ongkos transport. Lalu sisa uangnya ada nih lumayan banget, pilihannya mau ditabung apa mau dipake. Nah gue pilih dipake, buat apa? Yaitu tadi, buat travelling. Begitulah asal-usul perwujudan cita-cita “jalan-jalan ga pake uang sendiri”.

Adapun 15 negara dan kota-kota tersebut adalah sbb:

Belanda, Perancis, Belgia, Italia, Jerman, Spanyol, Norwegia, Swedia, Denmark, Ceko, Hungaria, Austria, Yunani, Turki, dan ya si Inggris itu sendiri. Kota- kotanya Amsterdam, Den Haag, Brussels, Paris, Milan, Pisa, Florence, Venice, Roma, Barcelona, Madrid, Berlin, Dresden, Prague, Budapest, Vienna, Istanbul, Cappadocia, Santorini, Athens, Oslo, Stockholm, Copenhagen, Leeds, York, Manchester, Edinburgh, Glasgow, Stirling, London, Sheffield, Southampton, Salisbury, Bath, Greenwich, Bournemouth, Dorset, Birmingham, Leicester, Liverpool, Nottingham, Coventry, Newcastle, dan lain-lain.

Masing-masing kota punya ceritanya sendiri, mulai dari pengalaman konyol sampe kisah penuh pelajaran moral. Partner travellingnya pun warna-warni ada temen Indonesia, temen Internasional, dan orang-orang yang baru kenalan di tempat. Dari semua kota itu, yang gue sempet solo travelling adalah Nottingham, Newcastle, Prague, Budapest, Vienna, dan Paris. Tanpa disangka ya, ternyata jalan sendiri itu enak juga. Lo bebas nentuin jadwal berangkat kapan, pulang kapan,ke mana aja, mau makan di mana, kalo capek tinggal istirahat, mau foto tinggal berhenti, mau ngemil tinggal beli, ga perlu merasa berkewajiban ngajak temen ngobrol, ga perlu consider pendapat dan kondisi orang lain, dan sebagainya. Paling repotnya adalah ketika adegan nyasar dan di negara yang tidak berbahasa Inggris. Gue sebagai orang yang maps-illiterate lumayan pasrah kalo udah nyasar. Baca peta udah dibulak balik tetep ga ngerti, internet juga ga ada kalo gapake wifi kan. Jadi yaudah pake feeling atau nanya pake bahasa tarzan. Terus solo travelling itu juga ga enaknya pas di bagian pengen foto-foto kece ala pergaulan masa kini. Kalo sama temen kan enak ya bisa berkali-kali, minta ulang kalo hasilnya kurang memuaskan, nah kalo pas sendirian ya mau ga mau ngulang seratus kali ke strangers yg lewat, “ekskyus mi, ken yu plis help teking mai pikcer?” Yaah banyak yang baik sih, tapi ga jarang juga ditolak 😦 deuuh, dikira gue tukang minta sumbangan kali ya? Sekalinya udah dipotoin dan hasilnya ga oke kan juga ga enak ya minta ulang lagi. Pernah tuh pas di Sacre Couer Paris, gue udah males minta tolong, jadinya selfie aja sendiri. Eeeh, datenglah abang penjual tongsis. Ternyata eh ternyata dia bukan nawarin tongsisnya tapi nawarin bantuin foto! Baik kan?! Nah tapi, karena dia mau motoin gue, biar ga ribet itu bongkahan tongsis dagangan dia gue yang peganggg!! JADILAH GUE POTO SAMBIL MEGANG-MEGANG BANYAK TONGSIS :’)


Eh tapi ya, hal yang perlu ekstra diwaspadai pas solo travelling adalah masalah keamanan. Soalnya lo sendiri banget kan, dan itu lebih sering jadi inceran copet dan sejenisnya. Belom lagi tourist scam yang banyak ga kira-kira. Terus juga pas kalo sakit mayan repot ga ada yang nge back up urusan printilan macem tiket, check in, transport, dll. Jadi sebenernya solo travelling kemarin membuka pemahaman gue bahwa benerlah itu di Islam dianjurkan para wanita untuk tidak bepergian tanpa mahram.

Perihal kuliner, sesungguhnya gue ini tukang makan banget. Tapi berhubung budget yang dimiliki super terbatas, jadinya sering banget ada momen patah hati pas ngelewatin makanan atau jajanan yang pengen dibeli tapi ga bisa. Keterbatasan budget dan minimnya pilihan kuliner halal menyebabkan gue dan temen-temen masak di penginapan setempat. Biasanya air bnb atau hostel yang kita pilih emang ada fasilitas dapurnya jadi kita tinggal belanja bahan baku di supermarket sekitar dan masak buat 2 kali makan, yaitu makan malem dan sarapan besoknya, baru deh siangnya makan di luar. Kalo udah miskin banget, siangnya juga bawa bekal hasil masak atau makan roti-roti gitu. Pernah waktu itu jatuh miskin banget, mana abis dicopet juga pas di Roma, jadinya kita makan roti tawar 2 hari berturut-turut . Awalnya agak mending pake beli selada dan saos segala, sama nutella kecil. Lama-lama jadi tinggal roti tawar diselipin doritos biar asin ada rasanya 😦 Huffh, cita-cita banget tuh suatu hari bisa jalan-jalan dan kulineran tanpa mikirin harganya :’) aamiin.

Selain kuliner, highlight dari travelling adalah penginapan. Gue selalu nginep di tempat murah either itu air bnb atau hostel bunk bed gitu. To be honest, kalo gue mengikuti naluri ke-cewek-yeye-an yang ada, mungkin gue udah gamau deh tidur di bunk bed gitu,soalnya seringnya kan yang available itu yang mix gender ya, jadi super ga nyaman dan was-was banget. Sekamar bisa sampe 14 orang atau bahkan lebih. Ga nyamanlah pokoknya. Buka kerudung ga bisa, mau sholat susah, mandi juga deg-degan. Cuma beberapa kali gue bisa kebagian booking yang female only. Sempet juga beberapa kali tidur di airport, di stasiun, geletakan gitu di kursi atau selonjoran di lantai. Kalo ini biasanya karena flightnya super pagi dan kita ngirit biar ga bayar penginapan. Hhh.. tambah lagi deh cita-cita, ke depannya bisa travelling dengan penginapan yang mumpuni. Aamiin.

Trus apalagi ya, hmm.. Oiya kendala bahasa kalo pas ada di negara yang orang-orangnya ga terlalu bisa bahasa inggris. Hhhhh itu asli ribet banget. Waktu di Madrid tuh ya, mau check in hostel aja lama banget. Ada masalah apa gitu sama kuncinya, nah Ibunya ga ngerti kita ngomong apa dan kita apalagiii juga ga paham dia ngemeng apaan. Bahasa spanyol yang gue tau cuman dari pilem amigos por siempre sama maria mercedes 😥 Udah sampe pake bahasa tubuh tuh si ibunya, dia gambar garis-garis apaan gitu ga jelas, dan dia rada ngebentak akhirnya, sehingga ada titik di mana dia frustasi megang kepala macam pusing di iklan paramex gitu. Hahhaa gue dari yang takut sampe jadi ketawa. Ya Allah.

Terakhir mengenai souvenir. Sebisa mungkin gue usahain dari tiap kota gue punya barang sebiji dua biji souvenirnya. Biasanya sih paling magnet dan keychain, sama karena gue main postcrossing jadi gue juga beli postcards. Kalo ada uang lebih biasanya gue beli miniatur yang termurah di toko tersebut. Selain itu, souvenir lainnya adalah gue nyimpenin tiket atau kartu bekas transport dan karcis masuk ke area wisata setempat.

Yaaah begitulah kira-kira summary travelling 2015 ini. Dari ada duit sampe kecopetan, dari makan enak sampe roti tawar, dari dandan (agak) cakep (aamiin) sampe bluwek capek lusuh ga karuan, semuanya demi memanfaatkan kesempatan jalan-jalan ini sebaik-baiknya. Jadiiiii gais, sesungguhnya dibalik satu foto kece seseorang yang ia posting di path, instagram, facebook, dll … yakinlah bahwa dia sudah jatuh bangun sebelum postingan itu teraplot! Muahahah.Well, kalo ga males Mungkin di lain postingan kali ya gue cerita beberapa kota yang berkesan banget.

 

Processed with MOLDIV
terlalu luas buminya Allah untuk setahun. semoga besok-besok ada rejekinya lagi :’) aamiin

Terima kasih Yaa Allah, semoga ke depannya hamba bisa bersyukur dengan lebih sering dan lebih baik lagi.

Yah gitu deh

Semua hal yang berkaitan dengan per-gadget-an dan IT sesungguhnya pada jahat sama gue. Mereka punya konspirasi terselubung untuk menyingkirkan gue dari gemerlap teknologi modern. Ngeselin!

Layar laptop retak, batere handphone hamil, GPS telat update nya, chargeran mati begitu saja, wifi kadang connect kadang engga, handphone restart sendiri berkali-kali, memory card ga kebaca (apalagi kode dari kamu), belom lagi keribetan pake-pake software, dan pernak perniknya. Kadang nih ya, sekalinya gue ga bisa mengoperasikan sesuatu trus minta tolong orang, ehhhh langsung bisa aja loh pas dipegang orang lain. Jadi kesannya gue dodol banget. Ckck, teknologi selalu punya cara mengkhianati gue dan mencemarkan nama baik 😦

Selain teknologi, hal lain yang juga musuhan sama gue adalah spasial. Iya gue gampang nyasar dan kesulitan menerjemahkan direction orang menuju suatu tempat. Bahkan gue ga bisa ngebayangin dengan baik 700 meter itu seberapa jauh, 1 kilometer itu kayak seberapa juga gue ga kebayang. Jadi kalo ngasih ancer-ancer ke gue mending pake suatu bangunan yang kelihatan, misal “Ntar abis ketemu masjid warna ijo di sebelah kiri lo, langsung belok kiri ya di belokan pertama.” Atauuu pakai satuan waktu, misal “Abis keluar pintu tol, lurus aja, kira-kira 1 menit ke depan lo nemu belokan ke kanan, nah lo belok deh.” Hahaha iya gue tau itu bukan ancer-ancer yang baik sih, karena kalo jalannya macet, satuan waktunya jadi ga ngaruh. Tapi ya biarlah haha.

Nah. Balik lagi ke bahasan tech dan IT yaa. Gue paling buta sama istilah-istilah tech dan IT sebenernya. Sebagaimana dijelaskan di atas, gue musuhan banget sama hal-hal kayak gitu. Sebel deh pokoknya ggrrr.. Tapi memang benar sih ada pepatah yang bilang, ‘kalo benci sama sesuau jangan berlebihan’ hahhaa. Karenaaa eh karenaa sekarang ini gue kerja di sebuah perusahaan yang dekaaat sekali dan super intim sama dunia teknologi dan per ITan kayak gituuu. Tiap hari gue dengerin tuh bahasa-bahasa tech dari temen-temen gue, client, bos-bos, dll. Entah kenapa yang di telinga gue kedengerannya kayak “73u4g21blxrq” . Muahaha mamam!

Yaudah mungkin emang gue gaboleh lama-lama keselnya. Well, seiring berjalannya waktu.. kita memang mesti adaptasi ya dalam hidup ini. Bahkan buat hal yang paling kita ga suka sekalipun :’)

#ehkokjadidalem