Pasti, Kepastian, Dipastikan

Beberapa waktu lalu gue berkesempatan reuni cilik dadakan sama beberapa temen masa muda (waelaaah..) Selayaknya makhluk sosial yang normal, kami berbincang ngalor-ngidul dari nostalgia kejahiliyahan di waktu lampau sampai update kehidupan terkini. Salah satu dari kita adalah seorang pria yang baru saja melangsungkan pernikahannya dengan seorang teman lainnya (dari circle kita juga). Ngobrollah kita pakai mode tanya jawab dan sharing sambil makan siang enak, sekalian karena si istrinya lagi ga ikut maka kita kulik versi si pria. Hahahaw!

Well, gue ga akan ngeluangin waktu ngeblog sih seandainya obrolan tersebut ga bermutu dan kurang bermakna. Nah ini gue sampe sempetin ngeblog kan berarti ada esensinya. Wahhh, esensi macam apakah itu? Mari kita simak liputannya bawah ini!

 

Gue bertanya:

Gimana rasanya abis nikah, apa yang beda sekarang?

Dia jawab:

Seru sih!! Dan lebih tenang.

Hmm.. menarik ya. Seru itu hal yang fun, hore, hiruk pikuk, dan bergejolak. Sedangkan tenang adalah sebaliknya, kalem, adem, santai, dan cenderung sunyi. Well, setidaknya itu menurut pemahaman gue. Bayangin deh, dua hal yang beda itu bisa dijadiin satu dan kombinasinya pasti indah banget. Lo merasa seru dan tenang di saat yang sama. Dan lo ga sendirian. Sejauh apapun mainnya, selama apapun kerjanya, lo tau lo berdua pulang ke rumah yang sama.

 

Gue bertanya:

Abis nikah, lo sama temen-temen circle lain gitu jadi beda ga?

Dia jawab:

Dulu di geng cowo-cowo, kalo ada yang abis nikah pasti jadi jarang ngumpul, susah nongkrong. Biasanya suka dikatain takut istrilah, berubahlah, bahkan gue juga ikut ngatain. Tapi begitu ngalamin sendiri, gue baru tau kenapa. Sekarang tuh gue rasanya semangat gitu pulang ke rumah. Kalopun nongkrong di luar sama temen seru, ya gue ga lama. Gimana bisa lama kalo sama yang di rumah lebih seru.

I know.. I knoooww exactly he was not talking about the sex part. Coz, comeee oooon that’s obvious pleasure though… Seru di sini yang dia maksud adalah there’s someone that we look forward to. Pengen cepetan pulang, pengen segera ketemu pasangan karena banyak hal yang buru-buru pengen kita ceritain sesampainya di rumah, pengen tau juga kabar dan cerita si pasangan hari ini, makan bareng, ngobrol sana sini, bercanda ini itu, the cuddling part, and the everything you can only do with them.

 

Gue bertanya:

Kenapa sih lo akhirnya mutusin nikah? Gimana lo yakin “OK. Perempuan yang ini nih yang gue nikahin.” ?

Dia jawab:

Sebenernya ya gue bisa aja cari lagi yang lebih lagi dan terus kayak gitu terus. Tapi di satu titik gue ngerasa gue butuh yang cukup aja sih. Dan sama dia gue ngerasa cukup. Susah juga kalo nyari terus yang baru, mesti mulai dari awal lagi, dan ga gampang nyari orang yang bisa tahan sama sifat gue, kebiasaan gue.

Gue nikahin dia juga sebagai bentuk “mengangkat derajat”. Derajat di sini maksudnya bukan tadinya rendah atau gimana. Tapi ya dengan nikahin, gue menghargai dia lebih dari sekedar “cewe yang deket sama gue” gitulah.

ANJAAAAY SODARA-SODARA, ini jawaban di luar ekspektasi gue hahaha. Dia menjelaskan dengan sangat lempeng dan kayak ga ada apa-apa. Padahal isinya sungguh dalem dan bermakna. Ketika dia bilang “ngerasa cukup”, gue langsung tau bahwa cukup adalah kata kuncinya. Kebetulan gue sempet bahas tentang itu lumayan panjang lebar di postingan yang ini. Bener sih, karena emang nyari apalah kita di hidup ini kalo bukan yang cukup? Kemudian, jawaban dia tentang “mengangkat derajat”, well.. ini membuka cakrawala sih dan mengingatkan secara gamblang bahwa bukan semata-mata seperti kata stereotype di luar sana yang bilang  “perempuan itu butuh kepastian”. Ini bahkan dari sisi prianya yang mengkonfirmasi. Kalo aja yang namanya keseriusan hubungan itu ibarat pokemon yang berrevoulsi berubah bentuk seiring dengan level kedewasaannya, maka bentuk terakhir dari keseriusan hubungan itu adalah menikah. The best form of appreciation is certainty.

 

Terima kasih broh atas sesinya :’)

Barakallahulak wa baraka ‘alaik wa jama’a baynakum fii khayr

 

Advertisements

Percakapan Halusinasi

Temen nge-random terbaik adalah emak gue. Gue yakin sih gen halusinasi dan khayalan yang ada ini, sebagian besar adalah kontribusi si mamah.

Hari itu ceritanya kita lagi kumpul keluarga di villa puncak sama keluarganya nyokap. Di suatu momen ada bude, mamah, ponakan-ponakan piyik, dan gue di kamar. Kita lagi leyeh-leyeh aja gitu tiduran. Bude nanya-nanyain gue catch up tentang kerjaan dll sampelah pada ngomongin tabungan;

Bude: “Wah, Cha tabungan udah banyak dong ya sekarang? Bude kalah kali.”

Gue: “Hah ya enggalah bude, masih dikit banget kan biaya pergaulan besar haha. Mau nabung buat nikah aja lah.”

Nah dari situ ntah gimana kita jadi bahas biaya nikah, yang intense malah pas si mamah nimbrung dan jadi bahas kayak beneran lagi nyiapin kawinan. Hahaha ini sungguh halusinasi yang terkonsep;

Gue: “Emang biaya pesta nikah berapa sih sekarang mah? 150 juta bisa ga?

Mamah: “150 mah ngundang siapa, paling dikit doang kak. Kalo yang bagus dan ngundang banyak orang tuh paling ga 500an kali ya.”

Gue: “APAA? 500?!! Mending aku beli rumah lah!”

Mamah: “Bagus itu. mamah setuju! daripada uangnya habis sehari kan.”

Gue: “Atau di KUA ajalah mah nikahnya, beres, murah.”

Mamah: “Ya ga papa sih, tapi kan emang anjurannya Rasulullah tuh kita tetep harus bikin semacam syukuran gitu kak buat kasih tau orang-orang, biar mengindari fitnah, dll.”

Gue: “Mau Bidakara Mah? Mantep sih, tapi mahal yah. Mending uangnya buat kehidupan abis nikah.”

Mamah: “Oh, gedung PTIK aja kak, 30 juta-an gedungnya doang. . Ntar tinggal cari catering yang enak.”

Gue: “Iya bener, kalo pesta tuh paling penting makanannya mah biar ga jadi omongan.”

Mamah: “Mama ada lho kenalan buat gedung PTIK itu, namanya tante (..siapa gitu gue lupa), dia udah bilang katanya tinggal kasih tau aja ancer-ancer tanggalnya. 

Bude: “Eh emang calonnya udah ada ya?”

Gue dan Mamah: ……… *bubar*

 

Muahahahhaha

Gusti Allah mboten sare :’)

dzaruyat

 

Ada yang Lebih Penting

Di saat Mbak Dian Sastro and the gank punya pertemanan sehat yang malang-melintang di internet, kamu malah secara sukarela dikelilingi kebahagiaan pertemanan jahit seragam, pertemanan hamil, dan pertemanan ASI. Bahasan mengenai persiapan nikah, mengenai berantem-berantem lucu sama mertua baru, atau gejolak diskusi ASI ekslusif mengalir deras di grup-grup whatsapp. Semuanya heboh, seru, dan gegap gempita dengan fase barunya masing-masing. Di tengah itu semua, kamu ga bisa bohong kalau di dalam hati rasanya ada sesuatu yang lumayan berisik dan mengusik. Apakah itu? Yaitu pertanyaan ke diri sendiri, “Kapan ya saya ada di fase mereka?”

Lebih dari sering orang tua mengingatkan dengan nada bertanya, “Kamu kondangan terus, kapan dikondangin dong?” Seolah kita tampak kurang minat sama pernikahan, padahal aslinya udah usaha kanan-kiri dan tanya sana-sini. Belum lagi pakde, bude, om, tante yang tiap ketemu kayak ga nemu cara lain untuk membuka percakapan. Kata-kata “Pacarnya mana?” menjadi topik awal yang lumayan bikin kita jadi males sekaligus perut jadi mules. Rasanya pengen jawab “Mungkin calonku lagi bahagiain orang lain dulu, Tante. Nanti juga ke sini kalo udah waktunya.” Eaaaa! Hmm.. kadang capek juga ya ditanyain sama tukang jahit iseng, “Jahit seragam melulu, Mbak? Kalah banyak deh seragam anak sekolahan. Hihi.” Yah senyebelin-nyebelinnya celetukan si tukang jahit, tapi dia ada benarnya juga. Gimana seragam kawinan ga banyak kalau tiap weekend ada aja janur kuning yang melengkung. Beberapa kali lewat depan janur bawaannya mau teriak, “Nurrr, kapan melengkung buat gue sih?!”

 

Bukan, bukannya ga ikut bahagia dalam keceriaan teman-teman yang lain. Cuma, ini adalah sesuatu yang juga sangat wajar dan manusiawi ketika kamu resah dan bertanya-tanya mengenai nasib kamu sendiri. Inget ya, realistis itu beda sama egois. Di masa penantian yang rentan galau gini, biasanya diperparah dengan tiadanya pasangan yang menemani, alias jomblo, atau bahasa yang sering digunakan untuk denial adalah single. Rasanya tuh sepi banget, ke mana-mana lebih sering sendiri. Apalagi kalau lagi libur, mencari teman jalan mesti sabar-sabar karena rata-rata udah pada ada rencana sama sang pacar atau pasangan masing-masing. Tapi tenang aja jangan khawatir, sesungguhnya mereka-mereka yang masih pacaran itupun statusnya sama kayak kita yang masih single kok. Sama-sama tertulis di KTP ‘belum kawin’, lagipula bisa putus kapan saja, tanpa terikat tanggung jawab apa-apa. Kita ya baru beda level ketika salah satunya menikah. Haha. Setuju ga setuju itulah kenyataanya J

Di tengah kesepian itu pasti kamu menunggu-nunggu kapan giliran kamu. Masa penantian itu penuh jebakan yang bikin kamu kadang mau nyerah, kadang mau pasrah, atau malah berdarah-darah karena inget lagi beberapa luka lama yang dikorek-korek sendiri saking ga adanya kerjaan. Huhu, jangan begitu! Menanti itu mesti hati-hati, boleh sambil liat kanan kiri, yang jelas tetap jaga harga diri. Jangan sampai kamu menurunkan standar hanya karena lelah menanti dan ingin segera bersandar. Kamu ga perlu jadi perempuan yang lebih lemah hanya karena pria-pria suka sama perempuan manja. Kamu ga perlu jadi perempuan pura-pura bodoh hanya karena pria minder sama perempuan yang pendidikannya tinggi. Kamu juga ga harus menggampangkan diri untuk menerima ajakan sembarang pria hanya karena kamu kesepian. Ayolah, jangan pesimis! Menurunkan standar dan kualitas kamu itu bukan pilihan yang bijak dalam rangka mendapatkan pasangan hidup. Hal penting lainnya yang perlu kamu ingat adalah walaupun kamu sudah berusaha mati-matian melakukan ini itu dan perbaiki ini itu supaya menjadi yang terpilih, jangan sampai kamu repot-repot menjadi orang lain! Tetaplah jujur menjadi diri kamu sendiri dengan versi yang terbaik. Karena sesungguhnya bukan cuma tugas kamu aja kok untuk meyakin-yakinkan dia agar dia memilih kamu. Kalau memang dia menemukan apa yang dia butuhkan di dalam diri kamu, dan kalau memang dia merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan, pasti dia akan melakukan usaha yang setara. Karena di dalam hubungan, setidaknya kita butuh dua orang dewasa yang sama-sama berusaha.

Kadang mungkin kamu bingung kenapa ya kok kamu sendiri aja sementara teman-teman lain sudah menikah atau paling tidak yaah ada deh yang berminat. Padahal kalau boleh jujur dengan tambahan sedikit percaya diri alias GR, kayaknya banyak deh yang ga secantik kamu, ga sepintar kamu, dan ga seasik kamu. Tapi kenapa ya mereka lebih dulu ‘laku’ sementara kamu masih menunggu? Tentunya ga terhindarkan lagi kondisi di mana kamu jadi sering bertanya-tanya apa gerangan yang kurang dari diri kamu sendiri. Apa kamu kurang menarik? Mungkin kurang asik? Atau kurang baik? Semua pertanyaan itu muter-muter di kepala sambil kecipratan rasa yakin bahwa kamu udah coba melakukan yang terbaik. Duh, mau ketawa tapi kok rasanya kecewa, mau ikhlas tapi kok ya malas, dan mau ga baperan tapi kok ya penasaran.

Yang perlu kamu tahu, menjadi sendiri tanpa pasangan seperti sekarang ini adalah satu dari banyak hal yang bisa bikin kita lebih dewasa, lebih kuat, lebih mandiri, dan bikin kita lebih melek sama kehidupan. Iya, hidup ternyata ga selalu seindah bayangan dan rencana-rencana kita. Hidup juga ga se-sederhana 2+2 = 4 yang hasilnya pasti. Bisa aja kamu udah nyoba sebaik yang kamu bisa, tapi sayangnya ga pernah ada jaminan kamu akan serta merta dapetin apa yang kamu usahain. Atau malah bisa aja kamu ga seniat itu ngusahain sesuatu, eh ternyata justru kamu dapet aja gitu tanpa disangka-sangka. Jangan bingung, hidup suka se-random itu, memang.

Di sisi lain, pengalaman belum dipilih seperti sekarang ini juga melatih kita untuk ga gampang kecewa. Orang yang gampang kecewa itu sungguh rapuh dan pastinya rajin ngeluh. Ya gimana dong, kan ga mungkin kamu berharap dunia ini selalu mulus seperti pipi Raisa, ga mungkin juga semesta selalu melindungi ego kamu, atau umat manusia bahu membahu menjaga perasaan kamu? Pastilah, jarang maupun sering kita akan senggolan sama yang namanya rasa kecewa di dalam hidup. Jadi, bersyukurlah kamu kalau pernah menjadi bukan pilihan. Itung-itung latihan menghadapi kekecewaan-kekecewaan lainnya di depan nanti.

Sementara menunggu, kamu mesti tetaplah sibuk dengan hal-hal positif yang inspiratif. Ngapain? Ya ngapain kek. Bisa berprestasi di kantor, aktif di masyarakat, terlibat di komunitas sosial, dan masih segudang lagi pilihan baik lainya. Begitu pikiranmu kembali jernih, coba perhatikan baik-baik deh! Ternyata ada loh hal yang lebih penting daripada sekedar terpilih atau belum terpilih jadi pasangan seseorang, yaitu tentang menjalani hidup sebagaimana mestinya dengan sebaik mungkin, terlepas dari kamu sekarang sudah sama pasangan atau masih sendiri. So, ayo jadikan masa penantianmu sebermanfaat mungkin supaya kelak tiba saatnya pasangan kamu hadir, dia tahu bahwa dia memilih orang yang tepat.

JAW DROPPING MOMENT

Gue lagi males basa-basi pembukaan nih sebelum nulis kali ini, agak buru-buru karena kisahnya lumayan thrilling dan sesuai banget sama judul.  Jadi daripada keburu basi gue langsung aja ya (yaelah, ini barusan yg gue ketik ya sama aja pembukaan…) *palmface*

Tadi sore gue lagi santai belanja dwi mingguan di supermarket andalan rakyat jelata, Morrison! Ke sana bareng sama 5 orang teman laki-laki senasib student kayak gue. Kita mencar belanja kebutuhan masing-masing. Berbekal catatan belanja, gue tiba di poultry coolbox, beli ayam dengan penuh suka cita karena udah kebayang mau dimasak apa. Tentunya gue ambil di section halal. Setelah gue pilih, lalu gue masukkan si mayat ayam itu ke dalam trolley. Terus dengan innocent nya gue melangkah pergi, tiba-tiba seorang pria separuh baya , yaah semacam 40-50 gitu lah umurnya, menyetop gue dan nanya apakah itu ayam beneran halal. Ya menurut ngana? Kan tentunya gue ga ikutan pas ayamnya dipotong dong yaa, jadi gue mempercayai label halal yang ada di situ aja lah. Nah kemudian si bapak ini mulai pidato tentang betapa dia tidak percaya akan label halal yang ada di supermarket ini. Betapa ini supermarket suka bohong demi mengeruk untung. Dia prefer untuk beli di butcher halal deket rumahnya (ya teruuss??), karena bermaksud sopan ya gue dengerin kan dia ngomong, tapi agak awkward sih apa harus gue taro ayam gue lagi atau gimana. Jadi dia ceritanya Islam juga dan origanally from Africa tapi udah lama banget di Inggris. Lalu dia nanya gue dari Indonesia kah? Pas gue bilang iya, dia langsung ngoceh panjang lebar tentang Indonesia dengan populasi muslim yang sangat besar, betapa dia kagum sama Indonesia, bla bli blu ble blo. Eh tiba-tiba dia bilang,
“I REALLY WANNA GET MARRIED WITH INDONESIAN WOMAN!”
*JEGEEERRRRR*
“I DONT CARE IF I SHOULD COME TO HER COUNTRY AND LIVE THERE OR SHE COULD COME AND LIVE HERE.”  *nahloh* ibu kartini pun bangkit dari kuburnya, kaget bareng bersama gue. Asli lah itu gue udah berpikir, njirr ni orang kenapa banget ya kok sembarangan gitu mulutnya :((
Tapi eh tapi, itu belum selesai karena dia mengeluarkan pertanyaan kampret berikutnya, “ARE YOU MARRIED YET??”
*KROMPYAANGG!* kali ini rasanya gue kayak pengen nabrakin trolley gue ke ni orang semacam 20 kali back and forth!. Huffhh.. Dengan kemampuan berpikir cepat hasil didikan cerdas cermat jaman esde, gue pun langsung bilang dengan sangat yakin, “YES YES.. I’M ALREADY MARRIED, OF COURSE, YEAAAAHH!* duh mamam! Seyakin itu gue, dengan harapan terhindar dari keanehan lanjutan.
Si bapak tersebut lalu bilang dan menunjukkan ekspresi kayak “yahh, you got married already? :(”  *glek
Gue gapaham lagi sih itu gimana ngerinya dan kenapa juga gue sangat takut untuk kabur dan menelantarkan itu bapak. Setelah itu dia masih ngoceh panjang lebar, katanya kalo gue punya temen Indonesia yang Islam dan belom nikah, pake kerudung atau engga ga masalah, tolong kasih tau dia, karena dia nyari istri banget!” Ya Tuhan dengkul gue lemes kayak ga ada sum-sum nya 😦
Dalem hati gue bilang, “ini mana sih temen-temen gue ga ada apa yang lewat? tolongin kek apa kek, pokoknya siapapun dari 5 orang temen gue itu, YANG PERTAMA KALI LEWAT SINI AKAN GUE AKUI SEBAGAI SUAMI GUE!!!! Biar berhenti nih bapak-bapak ngoceh.” Kemudian ga berapa lama Allah pun mendengar harapan gue, lewatlah seorang temen yang bernama Adwin ke arah menghampiri gue. Langsung aja dengan tangkas dan lincah gue tunjuk, terus gue bilang, “AAAHH, THIS IS MY HUBSAND!!” Adwin nya pun selaku manusia normal yang belum gue brief apa-apa sebelumnya agak bingung dengan mengerutkan dahi nya. Lalu gue kedipiiinnnnn ngasih kode sambil pasang muka memohon. Puji syukur banget kepada Tuhan bahwa Adwin bisa akting dengan baik dan ga banyak gaya. Terus si bapak itu, salamin Adwin, kayak bilang, “nice to meet you mate, sorry, bla bla bla” HAHAHHAHAHHAHA ALHAMDULILLAAAH pengen guling-guling di aspal deh gue legaaaa.
Abis itu akhirnya gue lepas dari si bapak tua dan pergi sama Adwin ke lain arah, lalu gue jelaskan sama Adwin kenapa tiba-tiba dia jadi ‘suami’ gue haha ampun win maaf banget, Semoga lo dapet pahala dan masuk surga ya!
Gue tuh sebel, takut, kesel, tapi kasian juga sih. Bingung.
Pertama, ada apakah dengan gueeeee, sampe bapak-bapak banget yang berminat nikah sama gue?
Kedua, apakah gue wife material banget? hahhaha (aamiin)
Ketiga, sungguh ya, kenapa sih itu bapak sangat frontal dan seada-adanya ngomong sembarangan tentang nikah di depan kulkas ayam supermarket sama stranger??
Keempat, kalo ditelaah lagi sebenernya kasian kali ya, mungkin dia belom nikah dan udah tua 😦 jadi segitunya banget dia pengen punya pendamping hidup. Oh Dear Lord, please have mercy on him 😦
Kelima, gue jadi agak trauma kalo liat orang item dengan perawakan serupa bapaknya itu.
Well, yah semoga postingan blog berikutnya adalah hal hore-hore yang seneng yaaaah, pretty please :’)
*note: ternyata temen-temen gue tuh udah ngeliat dari jauh gue lagi ngobrol sama bapak itu, ehhhh malah difoto coba sambil ketawa bukannya segera nolongin 😦

Mau nikah?

Ini baru awal bulan ketiga di tahun 2013.

Gue udah dapet tujuh undangan nikahan temen. TUJUH! yak, sekali lagi biar boom.. TUJUH MEEN!!! 

dan, 4 di antaranya adalah temen seumuran gue.

agak gatau sih mau bilang apa. dan ya emang ga harus bilang apa-apa juga. toh ini nikah. bukan sesuatu yg aneh atau ajaib seperti makan sate setusuk-tusuknya misalnya. Ya biasa sih ya emang, nikah. pertemuan dua orang manusia yang disatukan dengan janji secara agama dan negara untuk jadi suami istri.

Tapi yang bikin ga biasa adalah, di umur-umur 20an menengah sudah timbulnya keinginan untuk menikah dalam diri kita, ya katakanlah sekalipun lo belum ada rasa ingin menikah tapi disekeliling lo, temen-temen lo udah pada siap-siap nikah, pre wed lah, cari gedung lah, lamaran lah, apalah…pasti akan timbul kegelisahan. Ditambah lagi kultur di Indonesia yang ‘mempersialakan’ orang-orang di luar kehidupan kita untuk sotoy ikut campur nanya-nanya “kapan nyusul? ditunggu ya undangannya, dsb dst dll” ga mungkin engga deh ya pasti timbul itu kegelisahan. Bikin terpuruk aja.

Bagi yang emang udah mau nikah, juga ga segampang itu kehidupan. Harus melewati masa-masa akrobat yg bikin pusing tertekan. Mulai dari cari calonnya, kalo udah dapet diliat kecocokanya, pacaranlah, apalah, kenalin ke keluarga, temen-temen, belum lagi masalah penerimaan dari orang-orang sekitar yang ga selalu mulus tentang si calon, terus proses mutusin mau nikah sama orang ini apa sama orang lain juga ga gampang, perihal seberapa yakin lo sama si calon ini buat akhirnya memutuskan, “Oke gue nikahin orang ini!”

Ya karena ini mau cari pasangan hidup bukan beli kue cubit yg bisa sembarangan, mau mateng apa setengah mateng yg penting murah dan enak. Pilih pasangan hidup tuh mesti mateng! harus orang yg cocok, yg tau hidupnya mau apa, yang jelas masa depannya gimana, dan yg paling penting ya kita cinta sama dia. dia juga cinta sama kita. Nah ini lagi ngomongin cinta. duh dung dung pret banget deh. Konsep abstrak yg bikin migrain dari jaman esde. Gausalah ya dibahas. udah pada ngerasain juga tombak-tombak nya cinta kan? Udah pada gede , kan? Nah teruuus.. kalo udah oke baru deh jungkir balik buat siapin nikahannya. belom si ortu pengennya gini gitu lah, calon mertua dan keluarganya gina ginu lah, gedung pada penuh lah, catering mahal, taitutetot. hoaahh ngetiknya aja capek, gimana jalaninnya ya?

Gabisa ya nikah tuh dibikin simple aja gitu tapi makna.. Toh intinya pergantian status kan, pengalihan tanggung jawab. Sama makan-makan deh buat hormatin tamu.

hhh…

Lalu.. itu segelintir proses di atas yg ribet itu akan lebih ribet lagi kalo di step pertama aja udah mentok. Yaitu pilih pasangan. Duileee, jangankan milih deh, macam banyak aja. Ada aja dulu sebiji udah alhamdulillah. Karena kalo step awal ini aja udah mentok, kita belom bisa lanjut ke step ribet berikutnya.

Oke, terlepas dari semua keribetan itu, gue mau bilang sesuatu. Dari para temen gue yg udah menikah , ya emang mukanya pada lebih cerah, bahagia gitu. haha. Ada 3 yang bilang sama gue, ” Ah gue nyesel nih nikah..” , kaget dong gue, trus gue tanya emang kenapa lo? trus dia jawab “Ya nyesel aja, kenapa ga dari dulu deh gue nikah!” DHUAR! pengen kayang gue dengernya. Terus ada juga yang bilang, “Nikah itu ternyata bahagianya cuma 1% ya. ” Nahloh, ini juga kasian banget jangan jangan korban KDRT. pas gue tanya, emang kenapa.. dia jawab gini ‘ ” Iyalah bahagianya 1%, 99 % nya BAHAGIA BANGET!” oke sip, gue sikap lilin dulu.

 

So, kalo judul postingan kali ini membutuhkan sebuah jawaban, maka jawaban gue adalah: IYA GUE MAU.