Sholat dan Salib

Lebaran nih ya?

Jadi inget Alm. Kakek gue yang dulu rumahnya selalu jadi basecamp kita sekeluarga tiap lebaran di Palembang. Beliau “pulang kampung” untuk selamanya sekitar tahun 2005. Keinget sebuah momen di mana beliau waktu itu dirawat di RS Charitas pas masa-masa akhir sebelum berpulangnya. Di ruangannya, kakek gue terbaring lemah dan sepertinya ga sadar. Selang-selang infus malang melintang di badannya ditambah rekatan-rekatan kabel di beberapa area tubuhnya. Hampir semua keluarga kumpul yang rata-rata pada nunggu di luar karena terbatas jumlah orang yang masuk ruangan. Mesti gantian.

Suatu waktu, bokap gue mau sholat di ruangan kakek. Beliau mau solat sekaligus doain dengan posisi dekat kakek. Arah kiblatnya waktu itu menghadap ke dinding yang bersebrangan sama kaki kakek gue. Karena RS Charitas ini adalah rumah sakit Nasrani, maka terpasang beberapa salib, salah satunya di dinding tersebut. Bokap gue sempet request ke kakaknya (pakde gue), minta tolong turunin dulu salibnya selama bokap solat. Mungkin maksud bokap biar pas ngadep kiblat ga sambil ngadep salib gitu kayaknya. Nah pas pakde gue lagi mau nurunin salibnya, tiba-tiba kakek gue bersuara, dia ngomong, “Jangan diturunkan, itu fasilitas rumah sakit. Kau kalo mau solat, solatlah. Ga ada hubungannya dengan salib. Sholat itu urusan kau dengan Tuhan.” Kurang lebih begitu katanya dalam bahasa Palembang.

Lalu abis ngomong gitu, beliau kayak “tidur” lagi. Jadi kayaknya dia tuh sebenernya sadar bisa denger percakapan di sekitarnya cuma emang ga melek dan ga nyautin karena lemah banget mungkin ya. Tapi untuk perihal salib tadi, beliau ngomong dengan jelas.

Kakek mungkin ga sempet tau bahwa gue mengingat kejadian itu dalam-dalam. Karena ga lama setelah hari itu, beliau berpulang. Tapi momen itu selamanya gue inget untuk pelajaran bahwa toleransi itu mesti kita yang mulai, ga bisa nunggu orang noleransiin kita dulu. Dan toleransi, tenggang rasa, adalah rasa yang mesti dibuat jadi nyata pake perbuatan, bukan sekedar konsep ngawang yang diapal-apalin.

Aku kangen, Kek. Terlalu banyak yang perlu diceritain nih. Hidup ga segampang dulu waktu aku masih SD dan digonceng vespa nyari takjil bukaan puasa :’)
Al fatihah

Advertisements

Logika Telanjang

Belakangan ini lagi rame mengenai march wanita Indonesia yang dilakukan di Jakarta dalam rangka mendukung feminsime, spesifiknya adalah pada korban sexual harrasment dan kaitannya dengan kebebasan berpakaian serta berekspresi pada wanita.

Dengan segala semangat perempuan modern yang ada pada diri gue, rasanya gue mau salim sama mbak-mbak yang march kemarin untuk menghaturkan rasa salut gue akan keberanian dan usaha mereka.

Bagi yang belum tahu, intinya sih yang gue tangkep yaitu topiknya march tadi mengenai gender quality and equity. Lalu, highlight dari beberapa poster yang diusung adalah mbak-mbak tersebut sungguh berkeberatan sama “ungkapan” yang menyudutkan perempuan agar jaga cara berpakaian kalo ga mau jadi korban harrasment. Oke, sampai pada titik ini gue setuju. Tidak terpuji memang menyudutkan seperti itu.

Selanjutnya, sebelum gue terusin, tolong dipahami ya bahwa ini tulisan opini. Gue sebagai makhluk dewasa berdikari dan tut wuri handayani ini memiliki kapasitas berpendapat sesuai dengan apa yang gue yakini dan pahami. Jika ada yang bersebrangan, monggo dibuat postingannya sendiri ndak papa, monggo.

Image result for qasidah indonesia meme lucu

Lanjut ya? Nah, kemudian setelah bergulir lebih jauh, lalu ketemulah sama bahasan terkait variabel cara wanita berpakaian diadu dengan variabel napsu birahi laki-laki, di situ logika gue mulai ngambek. “Jangan atur-atur cara gue berpakaian, suruh tuh laki-laki yang tahan napsunya!” Gitulah kurang lebih statement-nya. Nah, lalu apa yang bikin logika gue ngambek? Gini, manusia itu diciptain punya napsu. Both laki dan perempuan. Napsu ga melulu birahi. Itu mbak-mbak yang gemar sekali memakai busana mini, juga bentuk napsu. Napsu untuk memperlihatkan kemolekan tubuh dan napsu ingin berekspresi dalam kebebasan. Sama hal nya dengan napsu birahi, perempuan juga punya. Dan bukannya ga ada pemerkosaan dilakukan oleh perempuan. Ya ada. Nah begitupun pria. Ketika bicara napsu birahi, makhluk testosteron ini pada hakekatnya memang diciptakan demikian. Settingannya tuh, mereka lebih berhasrat dalam ranah seksual. Hasrat pria itu mudah ditrigger, to the point, dan bisa kapan saja di mana saja. Beda halnya dengan perempuan yang lebih emosional triggernya. Makan malam dulu lah, bunga-bunga indah dulu, dll. Ini bukan bacotanku semata ya hadirin sekaliaaan tapi memang ada penelitiannya di University of Chicago dan riset-riset lainnya yang bahkan terindeks Scopus.

Untuk mengimbangi ciptaan tersebut, maka wanita dihimbau sama Sang Pencipta untuk menutup auratnya. Lo disuruh nutup aurat bukan dengan alasan egois saja “cuma buat melindungi lo” tapi juga dalam rangka membantu makhluk testosteron tadi untuk menjaga hasratnya. Laki itu ga dipancing yang aneh-aneh aja bisa kok berimajinasi sendiri. Nah ya mbok jangan dipancing dan dipertegas imajinasinya dengan dipampangkan visual gratis.

Image result for meme qasidah tak sama

Itu tuh Yang nyiptain makhluk, sama Yang nyuruh tutup aurat tuh adalah Dzat yang sama Yang bikin “onderdil” lo. Ya jelaslah Dia paling tau banget fungsinya, hapal mati tentang kelebihan dan kelemahan masing-masing organ kita, makanya disiapin manual/panduannya. Kita ikutin deh.

Kalo lo bilang aurat lo bukan urusan orang lain, bukankah sebaiknya lo dan handai taulan  hidup aja di planet lain yang makhluknya ga pake indera penglihatan? Hayoo.. Jangan ngambek.. Kan katanya mau pake logika, kan? Terus, di saat pada koar-koar minta kebebasan cara berpakaian, apakah juga pada inget para laki itu pun punya kebebasan berimajinasi dan fantasi? Masa iya demi mengakomodir kebebasan ekspresi mbak-mbak sekalian ini, para laki mesti pake masker ketimun semua tiap lagi jalan di luar rumah? Wahai mbak-mbak yang ekspresif, kita ga pernah tau loh setan tuh sedigdaya apa godainnya. Perihal nahan napsu sih iya. Mereka sebagai lelaki tuh mesti jaga napsu. Jangankan birahi deh Mbak, pandangan aja Tuhan perintahin buat ditundukkan kok. Perhatiin deh itu udah both sides loh itu solusinya. Yang satu jaga aurat, yang satu jaga pandangan. Dan keduanya jaga napsu. Adil kan.

Jangan sampe ego kita terlalu besar sampe-sampe nutupin mata dan akal sehat buat liat yang benar.

Lalu, adapun fenomena yang perempuannya udah pake baju ketutup dan tidak mengundang, tapi masih tetep diperkosa. Maka itu kecenderungannya lebih kepada kelainan dari pelaku. Dan sebagai netizen, gue himbau lo semua ya untuk ga hanya jaga mulut tapi juga jaga jempol baik-baik. Ga usahlah komen ga perlu yang nyakitin hati korban / keluarga. Ga perlulah kita mengalami hal serupa hanya untuk belajar dan berempati sama musibah orang lain, naudzubillah.

Kemudian, selain masalah pemerkosaan, yang dihighlight juga adalah mengenai “catcall” atau di suit-suitin. Pelaku bisa laki atau perempuan. Tapi kebanyakan memang lelaki ya. Dan biasanya terjadi di kelompok mas-mas tengil (masteng) yang menyasar ke perempuan muda. Kegiatan norak semacam catcall ini menurut pengamatan gue, biasanya selalu dilakukan bergerombol atau minimal 2 orang. Jarang ada yang sendiri. Selain karena emang gatel, biasanya pelaku menjadikan catcall ini semacam ajang pride showing pada teman-temannya. Biar kesannya “nih gue laki nih, gue berani.” Jadi ini bukan masalah lo pake celana gemes atau pake mukena juga disuit-suitin. Tapi emang ada aja masteng-masteng tak tau arah hidup kemudian nice try suit-suitin orang.

Btw, sebagai korban catcall juga, gue pernah nyoba salah satu senjata yang cukup efektif adalah: lo berhenti, samperin orangnya, sambil liat biji matanya, tanya dia dengan santai gapake nyolot,

“Kenapa Pak? Gimana? Tadi ga kedengeran.” 

Iya panggil “Pak” aja biar turn off. Atau kalo di ‘assalamualaikum’ in masteng gitu, lo jawab aja sambil berhenti dan liat orangnya, “wa’alaikum salam. Ada apa pak?” Hmm… Itu biasanya orang yang catcall akan salting sendiri. Dan jadi muncul semacam rasa ga enak karena “eh kok ternyata mbak nya ga diem aja. Eh Kok ternyata mbaknya ngajak kontak mata, malah buka komunikasi.”

So, balik lagi intinya mengenai keterkaitan cara berpakaian perempuan dan perihal syahwat/birahi ini adalah jaga dan hormati diri sendiri dengan bentuk jangan mau terlihat murah apalagi gratis. Yang perempuan jangan umbar umbar. Know your worth. Dan yang laki jangan buas kayak diperbudak napsu. Know your worth too. Selain itu, salinglah menjaga. Jangan saling mancing baik secara sadar maupun ga sadar.

Lagipula, berdasarkan pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain, people really do treat us as how they see we treat ourselves. Orang tuh bakal memperlakukan kita ga jauh-jauh dari cara kita perlakukan diri sendiri. Mereka liat dan merefer dari perilaku kita sih.

Contoh gampang:
Kita ga bisa pulang malem karena baru jam 8 aja udah ditelponin orang tua. Temen-temen kita pasti lama kelamaan jadi ikut ngingetin “lo ga pulang nih udah jam segini?” Atau, “kita mau nonton tapi yg jam 9. Lo berarti ga bisa ikut nih.” Jadi mereka paham dan menghargai pola kita.

Contoh lain: Waktu gue tinggal se flat sama temen-temen perempuan dari negara lain dan beda agama, gue kasih tau mereka mengenai gue pakai kerudung dan aturannya, termasuk makanan apa aja yang ga bisa gue makan. Hasilnya? Tiap ada yang bawa temen lelaki ke common room, selalu mereka warning gue “don’t forget to wear your hijab if you’re coming to the kitchen, there are some guys here.” Terus kalo mau hang out ke resto mereka malah yang lebih dulu notice mana yang nyediain menu halal dan mana yang engga.

Begitulah kira-kira gambarannya mengenai betapa pentingnya self respect yang akan me-reflect pada perlakuan orang terhadap kita. Semoga in syaa Allah ke depannya baik perempuan dan laki-laki bisa saling respek satu sama lain dan ga saling menyalahkan dalam interaksi sehari-hari.
Bismillah.

Note: Aslilah, gue pun masih belajar dan masih banyak tetot-nya di sana sini. Saling ingetin yah!

Ternyata IT juga Diurusin Sama Allah

Kali ini ceritanya dateng dari bokap gue. Kejadiannya berlangsung pas kami umroh beberapa waktu lalu. 

Settingnya di Madinah. Abis subuhan bokap ngelewatin area museum Nabawi. Doi ngeliat ada orang-orang rame pada foto dengan background poster masjid Nabawi dan kota Madinah, pake gaya macem-macemlah. Ada satu orang nih yang rupanya menarik perhatian bokap, dia gaya ngangkat kedua tangan berdoa gitu loh sambil liat langit. Kurang lebih ginilah ya

Ngeliat itu, bokap dalem hati ngebatin selewat aja gitu, “Sok alim amat nih orang pose begitu, kalo mau doa mah dalem mesjid aja.” Begitu pikirnya.

Sampai di hotel, abis sarapan pas di kamar lagi bertiga sama gue dan nyokap, bokap tiba-tiba resah hapenya mati total. Padahal ga jatuh ga apa. Diusahain macem-macem tetep ga bisa idup. Bingunglah dia. Karena udah terang gue sama nyokap mau lanjut ke raudhoh terus dhuha di Nabawi. Bokap masih berkutat usaha benerin hape pas kita tinggal di kamar.

Pas ketemu lagi di kamar menjelang makan siang, bokap cerita. Tadi abis ngusahain hape tetep ga idup akhirnya bokap sholat tobat, dia ngerasa ada yang salah nih sama dia. Abis sholat tobat lanjutlah dia dhuha ke Nabawi. Di perjalanan, doi lewat lagi tempat orang pada foto-foto tadi. Pas makin dia perhatiin kok bagus ya foto di situ, pengen banget juga foto buat kenang-kenangan pake background poster Nabawi dan kota Madinah itu. Dalem hati bokap bilang, “Ya Allah sayang banget hapeku mati, padahal pengen juga foto di situ.” Lalu, sambil ngarep, bokap ngeluarin hapenya dan dia pencet biasa EH IDUP AJA LOH HAPENYA KAYAK GA ADA APA-APA. Kagetlah bokap gue, seneng dia. Terus minta fotoin sama orang sekitar situ. Ended up, doi pose dengan dua tangan diangkat gaya berdoa gitu sambil liat ke langit. Persis plek ketiplek sama pose orang yang dia katain sok alim tadi pagi.

Di penghujung ceritanya, bokap bilang bahwa key takeaways dari pengalaman ini adalah:

– jangan usil sembarangan mencibir orang walau dalam hati. Allah tau.

– rajin-rajin perbanyak solat taubat. Karena tiap waktu kita nih manusia pasti adaaa aja salahnya. Minta ampun yang banyak sama Allah.

Gitu guys :’) gue terharu sekaligus seneng dapet firsthand story dari bokap. Pelajaran moralnya dapet, dan kebanggaan gue terhadap beliau bertambah karena beliau ga malu sharing pengalaman berupa kesalahan yang dia lakukan.

Barakallahulak, Pah!

Jangan Bawa Bawa Agama

Sering gue baca atau denger kalimat seperti di judul tulisan ini, dalam interaksi sehari-hari. Biasanya muncul pas lagi bahas politik, seni, budaya, ilmu pengetahuan. dan masih banyak lagi. Awalnya gue mikir, ya mungkin emang ada hal-hal yang ga bisa dikait-kaitin sama agama, kalo dikaitin jadinya pembahasannya ga bisa lanjut. Mungkin emang agama itu ranah khusus yang mesti kita simpen di suatu tempat tersendiri dan dibawa ketika waktunya tepat aja.

Hmm…

Makin ke sini, gue cek ulang pemikiran gue tadi, jadinya kok malah aneh ya. Aneh kenapa? Ya aneh karena rupanya makin banyak hal yang gue baru tahu ternyata dicover juga sama agama gue, ternyata banyak ranah kehidupan yang juga diatur dengan rapihnya sama agama gue. Lalu gue tanya lagi ke diri sendiri,

“Gimana coba caranya ga bawa-bawa agama?”

Soalnya agama gue ngatur urusan makan-minum beserta adabnya.

Soalnya agama gue ngajarin urusan bersih-bersih dengan detail.

Soalnya agama gue ngatur cara interaksi sama orang-orang, baik itu keluarga, teman, kolega, bahkan yang beda agama sekalipun.

Soalnya agama gue ngatur dengan jelas tentang hukum waris seadil-adilnya.

Soalnya agama gue ngajarin menuntut ilmu tanpa kenal gender.

Soalnya agama gue ngatur tentang batasan aurat dan bagaimana mengontrol diri.

Soalnya agama gue ngatur tentang perkenalan, pernikahan, dan tetek bengek rumah tangga demi ga ada yang dirugikan didalamnya.

Soalnya agama gue ngasih aturan jelas tentang perbankan dan keuangan di berbagai level.

Soalnya agama gue ngajarin tentang tata cara berdagang yang halal dan ga ngerugiin orang.

Soalnya agama gue ngajarin batasan ngambek dan tegur sapa.

Soalnya agama gue punya panduan yang jelas tentang pemerintahan suatu negeri.

Soalnya agama gue menjabarkan pentingnya ilmu pengetahuan dan bahkan tanda-tandanya tersebar di alam raya.

Soalnya agama gue ngajarin etika menasihati orang lain.

Soalnya agama gue bahkan considerate banget sama gimana cara memperlakukan binatang.

Nah, ini aja baru sebagian yang gue tahu, masih banyak banget yang belum gue pelajarin. Kita tuh ya, sering karena banyak ga taunya, eh malah jadi sotoy dan sibuk bikin justifikasi sana-sini. Agama cukup disimpen di laci ga perlu ikut dibawa pergi, cuma ditengok sesekali kalo lagi sakit hati atau lagi mengalami rugi. Yakaliiii!

Kalo semua sisi kehidupan udah diatur sama agama detailnya dengan rapih kayak gitu, coba gue tanya lagi,

“Gimana coba caranya ga bawa-bawa agama?”

 

 

Dipaksa Gelisah

Rabb,

Aku ngga iri sama yang kondangan ada gandengan

Aku ngga iri sama yang liburan berdua ke mana-mana

Aku ngga iri sama yang rajin anniversary bahkan sebulan sekali

Aku ngga iri sama yang sabtu minggu nonton-nonton lucu

Engga tuh.

Tapi aku iri sama yang umroh berdua 5 waktu di al-harom

Aku iri sama yang USG 4D  abis pulang kantor

Aku iri sama dua keluarga besar kumpul jadi satu

Aku iri sama mereka yang apapun kegiatannya, selalu pulang ke rumah yang sama

Tapi aku tau kok

Semua ada waktunya kan?

Semua ada momennya kan?

Cuma mau minta tolong sih Rabb

Kalau waktu & momen itu ternyata masih agak nanti, bekali aku ekstra sabar sedikit lagi

Buat aku mengerti sehingga ga jadi iri sama hal-hal yang bukan inti, apalagi ngusahain yang ga Kau ridhoin.

Aamin

Terus, Kenapa kalo Bumi Datar?

Pada ngikutin debat bumi datar VS bumi bundar ga sih?

Belakangan ini bahasan mengenai flat earth lagi marak dibahas di dunia maya di berbagai belahan dunia. Bahkan ada satu channel youtube Indonesia yang kupas tuntas, namanya Flat Earth 101. Gue ngikutin tu dari episode 1 sampai yang terbaru hahaha!

Gue ya belum dalam stance yang gimana-gimana sih. Istilahnya nih, kalo bumi ternyata segitiga pun ga tau juga apa pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari gue. Jadiiiii ya gue emang ga ngotot belain salah satu paham manapun, baik bumi bundar maupun bumi datar.

Cumaaaa ini si pembahasan flat earth tak dipungkiri memang sangatlah bombastis buat gue haha karena pas nonton dan nyimak penjelasannya tuh gue sempet semacam, “WHAT?! MY WHOLE LIFE WAS A JOKE???!” hahha

Makin gue baca Quran, malah nemuin ayat-ayat yang menurut gue terjemahanya mendukung ke arah flat earth gitu. Nih beberapa ayat yang membuat gue galau dan gamang (azeeeigh):

  1. Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran” (Al-Hijr: 19).
  2. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?  (Al-Ghaasyiyah: 20)
  3. “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak?” (An-Naba 78: 6-7)
  4. “dan demi Baitul Ma’mur , dan atap yang ditinggikan (langit), dan laut yang di dalam tanahnya ada api,” (QS. At-Thur: 4-6)
  5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. (Ar-Rahman:5)
  6. Ar-Rahman:33 disebutkan jin maupun manusia tidak ada yg bisa menembus langit kecuali atas izin Allah SWT

 

Ini tuh susah ya dibahas lewat blog, enakan ngobrol. Jadi kalo ada waktu senggang dan bersedia, nonton deh di youtube. Nih gue kasih channelnya . Ntar kalo tertarik bahas, gue mau bangett!!

Rabu Sunnah Dulu


Rabu ini sama Ust Badrusalam. Bahas tentang sunnah itu apaan sih. Kurang lebih gini simpulannya:
___________________

Kita selama ini tuh taunya sunnah adalah hal yang dikerjain dapet pahala, kalo ditinggalin ga dosa. Ini rada misleading nih.

Karena sebenernya sunnah itu ada banyak:

1. sunnah aqidah : apapun yang Rasulullah sampein mengenai agama, karena ini wahyu Allah)

2. sunnah ibadah : bentuk-bentuk ibadah selain ibadah wajib yg Rasulullah contohin, misal puasa senin kamis, tahajud)

3. sunnah sehari-hari : yang kita kenal sbg hadits; segala perilaku dan kata-kata Rasulullah)
Nah, baru tau ga?

Gue sih baru tau :’)

Jadi yaa ternyata sunnah itu bukan cuma penampilan doang kayak celana cingkrang dan jenggotan gitu, apalagi yang suka dibecandain org kayak sunnah rasul malem jumat. Astaghfirullah, receh banget sih 😥

Agama ini tuh udah ada aturannya. Jangan ngada-ngadain aturan agama sendiri. Jangan bikin-bikin ibadah sendiri.

Bahkan lebih baik ibadah sedikit tapi sesuai tuntunan, sesuai sunnah. Daripada ibadah banyak semalem suntuk tapi ga ada tuntunannya.

Sunnah tuh luas banget jadi jangan capek-capek pelajarinnya. Jangan udah jenggotan, celana cingkrang, terus ngerasa paling bener, ngejudge org lain, nyakitin perasaan orang. Sama aja boong :/

Pelajarin sunnah tuh menyeluruh jangan separo-separo.

Oya, sunnah juga termasuk salah satu jalan setan buat gangguin keimanan kita. Tahapannya gini:

– Meremehkan sunnah (ga penting, ga wajib)

– Akhirnya meninggalkan sunnah

– Meremehkan yang wajib (gampanglah solat, gausah jamaah-jamaah amat sendiri jg bisa, ngaji mah bisa ntar)

– Akhirnya ninggalin yg wajib
Na’udzubillah
#notetomyself #belajar #sunnah #ilmucetek #aduh