Dipaksa Gelisah

Rabb,

Aku ngga iri sama yang kondangan ada gandengan

Aku ngga iri sama yang liburan berdua ke mana-mana

Aku ngga iri sama yang rajin anniversary bahkan sebulan sekali

Aku ngga iri sama yang sabtu minggu nonton-nonton lucu

Engga tuh.

Tapi aku iri sama yang umroh berdua 5 waktu di al-harom

Aku iri sama yang USG 4D  abis pulang kantor

Aku iri sama dua keluarga besar kumpul jadi satu

Aku iri sama mereka yang apapun kegiatannya, selalu pulang ke rumah yang sama

Tapi aku tau kok

Semua ada waktunya kan?

Semua ada momennya kan?

Cuma mau minta tolong sih Rabb

Kalau waktu & momen itu ternyata masih agak nanti, bekali aku ekstra sabar sedikit lagi

Buat aku mengerti sehingga ga jadi iri sama hal-hal yang bukan inti, apalagi ngusahain yang ga Kau ridhoin.

Aamin

The Idea of Hijabers

Dandan, ribet, banyak gaya, socialita, high maintenance, menor, mahal.

Yak, itu kira-kira jawaban beberapa orang pas gue tanya Apa hal pertama yang ada di pikiran lo pas denger kata ‘hijabers?’ dan sejujurnya, itu pula anggapan gue ketika dulu gue belum gabung lebih jauh sama the-so-called-hijabers ini.

Gue sih ga menyalahkan ya orang-orang yang punya streotipe seperti itu tentang hijabers, karena memang sisi-sisi yang terlihat dan terekspos adalah sisi fashion nya, sisi gaya nya, sehingga kesannya glamour duileh gitu. Dalam hal ini menurut gue media punya andil besar sih menciptakan image nya para hijabers. Tentunya para awak media kan nyari berita yang ‘angle nya seksi’ lah ya untuk diangkat. Nah, kegiatan yang semacam fashion show, keramaian bazaar jualan baju dan kerudung, tutorial hijab, dan sejenisnya itulah yang dinilai lebih menarik dan punya nilai berita, serta potensial buat dijadiin material yang viral. Media dalam hal ini mencakup baik yang konvensional (TV, radio, majalah, tabloid, dll) maupun yang digital (portal berita, website-website apapun, social media account, dkk).

Sedangkan, di sisi lain ada banyak banget yang sebenernya dilakukan sama para hijabers ini. Kegiatan semacam pengajian dan charity ke panti, lembaga pemasyarakatan, masjid, sekolah, workshop singkat, dll sepertinya kurang menjual untuk diangkat lebih jauh :’) Jadilahhhh hijabers ini seperti iceberg phenomenon (fenomena gunung es), di mana yang keliatan di permukaan itu baru seupritnya, sebenernya masih banyak di bawah-bawahnya yang ga terlihat ada segambreng.

iceberg
awesomestoreis.com

Sebagai salah satu wadah terbesar dari para hijabers se Indonesia, Hijabers Community (HC) yang berdiri sejak 2010 ini mau ga mau jadi front liner sekaligus sorotan utama tentang peristiwa, berita, atau hal apapun yang ada kaitannya dengan kehidupan hijabers. Gue mulai tergabung sebagai pengrus di komunitas ini terhitung sejak 2012. Nah, gimana coba gue yang tadinya adalah salah satu orang yang nyinyir tentang lika-liku “mbak-mbak ribet dan penuh dandan ini” malah menjadi salah satu pengurusnya?

Well, jadi awalnya itu gue ikut kegiatan si Hijabers Community jaman lagi hits banget yang namanya tutorial hijab. Iyaa.. itu step by step cara penggunaan hijab yang diuntel-untel, diputer sana sini, dililit atas bawah, dsb. Nah dari situlah gue tau “Ohhh ada toh yang namanya Hijabers Community.” Setelah itu gue sempet ikutan kegiatan mereka yang lain yaitu pengajiannya. Terus gue mulai ngeh, “Hmm.. ternyata ada juga ya kegiatan nya yang ga duniawi doang.” Kemudian, seiring berjalannya waktu makin banyaklah para perempuan yang terlihat tampil berhijab baik selebriti ibukota maupun rakyat jelata. Di situ gue berpikir, “Eh, latahnya positif juga nih. Si Hijabers Community ini impactnya lumayan juga buat mengajak orang menutup aurat.” Yaaa terlepas dari berbagai komen mengenai syar’i ga syar’i sih ya.

Anyway gue bingung aja kenapa perihal syar’i ga syar’i ini baru diangkat ketika udah ada orang yang berbondong-bondong mau mulai menutup auratnya? Apa kabar sebelumnya. pas orang masih pada pake celana gemes dan baju ketek, kenapa issue syar’i ga diangkat sekalian? Hmm.. gini loh maksud gue, ya sabarlah dulu.. ini orang kan lagi pada belajar dari yang tadinya 24/7  pahanya kemana-mana, sekarang mulai pake yang panjang baik rok atau celana. Yang mungkin 24/7 rambutnya berkibar-kibar, sekarang mulai ditutup walau ga langsung pakai hijab lebar. Asli deh, ga ada yang salah loh ya dengan menghimbau untuk berbusana syar’i, toh maksudnya untuk kebaikan kita juga. Cuma ya tolong, jangan sampai justru jadi menakutkan karena himbauan malah dibungkus sindiran atau ajakan yang berbau cibiran. In syaa Allah ga ada yang salah dengan berangsur-angsur. Bukankah Quran juga diturunkan berangsur-angsur? Bukankah Rasulullah ga pernah mematahkan niatan / usaha baik para sahabat yang mau belajar?

Berangkat dari situlah gue gemes. Gemes kenapa? Ya gue gemes bahwasanya Hijabers Community ini wadah yang potensial banget, berkembang pesat, dan ibarat toa / speaker, si komunitas ini bisa jadi powerful, tinggal gimana content dan penggunaannya aja. Laluuuu, suatu hari gue menemukan pengumuman open recruitment dari pengurus Hijabers Community untuk menerima pengurus baru. Terus gue coba ikut daftar segala macem, sampe akhirnya dipanggil interview. Di interview itulah gue bertanya sama beberapa founder dan juga pengurus HC, “Kalian ngeh ga sih kalo di luar sana asumsi orang mengenai komunitas ini tuh lebih ke gaya, fashion, dandan, ribet, socialita gitu instead of membawa nilai Islam?” saat itu yang mewawancara gue nanya balik, “Oh ya, masa sih segitunya?” Kemudian gue jelasin gue tertarik bergabung karena pengen banget memperkenalkan ke masyarakat bahwasanya image HC tuh ga sedemikian rupa. Bla bla bla bla akhirnya jadilah gue bagian dari pengurusnya HC. Eh, ngomong-ngomong, hijabers ini ga cuma fenomena yang ada di Jakarta, tapi ada juga di banyak kota lainnya di Indonesia. Maka dari itu, Hijabers Community pun membuka cabang di kota-kota sbb; Medan, Padang, Bandung, Banten, Yogyakarta, Pontianak, dan beberapa kota lainnya. Buat apa? Ya buat memfasilitasi syiar HC agar ekstensif, ga hanya melulu terpusat di Jakarta. Alhamdulillah masing-masing kota tersebut udah ada pengurus tetapnya yang rutin koordinasi sama pengurus HC pusat (Jakarta).

Tahun ini adalah tahun ke 4 ya berarti gue gabung sama komunitas ini. Komen utama setelah nyebur langsung jadi pengurus, “CAPEK CUYYY, cantik dandan paling setaun cuma 3 kali! Asli! Selebihnya kumal, polos, bagai anak SMA hendak berangkat les primagama.” Kegiatannya juga ga cuman modal bedak, tapi menuntut kita pakai otak.  Mulai dari mikirin tema pengajian tiap bulan, gimana ngisi konten social media biar bermanfaat tapi tetep menarik, gimana ngehubungin ustadz/ah dan pengisi acara, belom lagi menanggapi banyaknya ajakan kerjasama yang mesti dipilah-pilih biar tetep sesuai sama value-value nya HC, terus cari wadah yang pas buat menyalurkan charity dari teman-teman semua, sama muter duit kas yang ada supaya bisa jadi kegiatan yang bermanfaat. Macem-macem banget. Dan just so you know, kita semua pengurus kerjain itu ga pake dibayar bro, sis :’) bukannya pamer / riya’ cuman ngasih insight lain aja bahwasanya masih ada kok orang-orang yang mau repot bahagia dan lillahita’ala. Selain ituuu, masing-masing juga pada punya profesi / pekerjaannya kan, mulai dari pengusaha, karyawan, mahasiswa, arsitek, dokter gigi, brand manager, presenter, wakil rektor, marketer, graphic designer, ibu rumah tangga, guru, dll. Daaan tentu saja masih harus bagi waktu dengan beberapa yang udah punya suami, punya anak, dan keluarga lainnya (iya, ga semuanya gadis kinyis-kinyis, yang beranak 3 juga udah ada sis!). Tuh, kayak gitu tuh. Makanya heraaaan bener dehhh gue kalo ada yang pada ngeyel nanya gimana caranya mau jadi komite / pengurus HC. Dan lebih bingung lagi sama orang-orang yang kalo denger gue anak HC lalu komen pertamanya “CIYEEE” selama 15 detik. Hahahahahahha. ter se rah.

Nih ya biar lebih jelas gambarannya gimana keseharian kita VS momen tampil.

The Idea of Hijabers Community VS Real Life Hijabers Community

 

 

Gemanaa? mayan jaw-dropping kan :’) yah begitulah emang aslinya. Malah pada hakekatnya banyak banget foto yang menggambarkan kondisi yang lebih caur-caur lagi tapi ga usahlah dipublish, kasian ntar yang jomblo pada kelamaan jomblo 😦 hihihi. Jadi initinya gaisss, fenomena hijabers ini mari dilihat dari sisi yang positif dan disupport juga dengan ke-positif-an. Saling dukung aja dalam kebaikan, bayak kok caranya; pake waktu, pake tenaga, pake harta, pake ide, pake tulisan, pake obrolan, dll. Inget aja, karena mengecilkan orang lain juga ga membuat lo lebih besar kok 🙂

 

Semoga yaa setelah baca ini, setidaknya lo pada tau bahwa ga semua.. sekali lagi, ga semua sosok hijabers kerudungnya susun tiga, pake sepatu kaca, dan bergelimang harta.

Yah gitu deh

Semua hal yang berkaitan dengan per-gadget-an dan IT sesungguhnya pada jahat sama gue. Mereka punya konspirasi terselubung untuk menyingkirkan gue dari gemerlap teknologi modern. Ngeselin!

Layar laptop retak, batere handphone hamil, GPS telat update nya, chargeran mati begitu saja, wifi kadang connect kadang engga, handphone restart sendiri berkali-kali, memory card ga kebaca (apalagi kode dari kamu), belom lagi keribetan pake-pake software, dan pernak perniknya. Kadang nih ya, sekalinya gue ga bisa mengoperasikan sesuatu trus minta tolong orang, ehhhh langsung bisa aja loh pas dipegang orang lain. Jadi kesannya gue dodol banget. Ckck, teknologi selalu punya cara mengkhianati gue dan mencemarkan nama baik 😦

Selain teknologi, hal lain yang juga musuhan sama gue adalah spasial. Iya gue gampang nyasar dan kesulitan menerjemahkan direction orang menuju suatu tempat. Bahkan gue ga bisa ngebayangin dengan baik 700 meter itu seberapa jauh, 1 kilometer itu kayak seberapa juga gue ga kebayang. Jadi kalo ngasih ancer-ancer ke gue mending pake suatu bangunan yang kelihatan, misal “Ntar abis ketemu masjid warna ijo di sebelah kiri lo, langsung belok kiri ya di belokan pertama.” Atauuu pakai satuan waktu, misal “Abis keluar pintu tol, lurus aja, kira-kira 1 menit ke depan lo nemu belokan ke kanan, nah lo belok deh.” Hahaha iya gue tau itu bukan ancer-ancer yang baik sih, karena kalo jalannya macet, satuan waktunya jadi ga ngaruh. Tapi ya biarlah haha.

Nah. Balik lagi ke bahasan tech dan IT yaa. Gue paling buta sama istilah-istilah tech dan IT sebenernya. Sebagaimana dijelaskan di atas, gue musuhan banget sama hal-hal kayak gitu. Sebel deh pokoknya ggrrr.. Tapi memang benar sih ada pepatah yang bilang, ‘kalo benci sama sesuau jangan berlebihan’ hahhaa. Karenaaa eh karenaa sekarang ini gue kerja di sebuah perusahaan yang dekaaat sekali dan super intim sama dunia teknologi dan per ITan kayak gituuu. Tiap hari gue dengerin tuh bahasa-bahasa tech dari temen-temen gue, client, bos-bos, dll. Entah kenapa yang di telinga gue kedengerannya kayak “73u4g21blxrq” . Muahaha mamam!

Yaudah mungkin emang gue gaboleh lama-lama keselnya. Well, seiring berjalannya waktu.. kita memang mesti adaptasi ya dalam hidup ini. Bahkan buat hal yang paling kita ga suka sekalipun :’)

#ehkokjadidalem