Dipaksa Gelisah

Rabb,

Aku ngga iri sama yang kondangan ada gandengan

Aku ngga iri sama yang liburan berdua ke mana-mana

Aku ngga iri sama yang rajin anniversary bahkan sebulan sekali

Aku ngga iri sama yang sabtu minggu nonton-nonton lucu

Engga tuh.

Tapi aku iri sama yang umroh berdua 5 waktu di al-harom

Aku iri sama yang USG 4D  abis pulang kantor

Aku iri sama dua keluarga besar kumpul jadi satu

Aku iri sama mereka yang apapun kegiatannya, selalu pulang ke rumah yang sama

Tapi aku tau kok

Semua ada waktunya kan?

Semua ada momennya kan?

Cuma mau minta tolong sih Rabb

Kalau waktu & momen itu ternyata masih agak nanti, bekali aku ekstra sabar sedikit lagi

Buat aku mengerti sehingga ga jadi iri sama hal-hal yang bukan inti, apalagi ngusahain yang ga Kau ridhoin.

Aamin

Ada yang Lebih Penting

Di saat Mbak Dian Sastro and the gank punya pertemanan sehat yang malang-melintang di internet, kamu malah secara sukarela dikelilingi kebahagiaan pertemanan jahit seragam, pertemanan hamil, dan pertemanan ASI. Bahasan mengenai persiapan nikah, mengenai berantem-berantem lucu sama mertua baru, atau gejolak diskusi ASI ekslusif mengalir deras di grup-grup whatsapp. Semuanya heboh, seru, dan gegap gempita dengan fase barunya masing-masing. Di tengah itu semua, kamu ga bisa bohong kalau di dalam hati rasanya ada sesuatu yang lumayan berisik dan mengusik. Apakah itu? Yaitu pertanyaan ke diri sendiri, “Kapan ya saya ada di fase mereka?”

Lebih dari sering orang tua mengingatkan dengan nada bertanya, “Kamu kondangan terus, kapan dikondangin dong?” Seolah kita tampak kurang minat sama pernikahan, padahal aslinya udah usaha kanan-kiri dan tanya sana-sini. Belum lagi pakde, bude, om, tante yang tiap ketemu kayak ga nemu cara lain untuk membuka percakapan. Kata-kata “Pacarnya mana?” menjadi topik awal yang lumayan bikin kita jadi males sekaligus perut jadi mules. Rasanya pengen jawab “Mungkin calonku lagi bahagiain orang lain dulu, Tante. Nanti juga ke sini kalo udah waktunya.” Eaaaa! Hmm.. kadang capek juga ya ditanyain sama tukang jahit iseng, “Jahit seragam melulu, Mbak? Kalah banyak deh seragam anak sekolahan. Hihi.” Yah senyebelin-nyebelinnya celetukan si tukang jahit, tapi dia ada benarnya juga. Gimana seragam kawinan ga banyak kalau tiap weekend ada aja janur kuning yang melengkung. Beberapa kali lewat depan janur bawaannya mau teriak, “Nurrr, kapan melengkung buat gue sih?!”

 

Bukan, bukannya ga ikut bahagia dalam keceriaan teman-teman yang lain. Cuma, ini adalah sesuatu yang juga sangat wajar dan manusiawi ketika kamu resah dan bertanya-tanya mengenai nasib kamu sendiri. Inget ya, realistis itu beda sama egois. Di masa penantian yang rentan galau gini, biasanya diperparah dengan tiadanya pasangan yang menemani, alias jomblo, atau bahasa yang sering digunakan untuk denial adalah single. Rasanya tuh sepi banget, ke mana-mana lebih sering sendiri. Apalagi kalau lagi libur, mencari teman jalan mesti sabar-sabar karena rata-rata udah pada ada rencana sama sang pacar atau pasangan masing-masing. Tapi tenang aja jangan khawatir, sesungguhnya mereka-mereka yang masih pacaran itupun statusnya sama kayak kita yang masih single kok. Sama-sama tertulis di KTP ‘belum kawin’, lagipula bisa putus kapan saja, tanpa terikat tanggung jawab apa-apa. Kita ya baru beda level ketika salah satunya menikah. Haha. Setuju ga setuju itulah kenyataanya J

Di tengah kesepian itu pasti kamu menunggu-nunggu kapan giliran kamu. Masa penantian itu penuh jebakan yang bikin kamu kadang mau nyerah, kadang mau pasrah, atau malah berdarah-darah karena inget lagi beberapa luka lama yang dikorek-korek sendiri saking ga adanya kerjaan. Huhu, jangan begitu! Menanti itu mesti hati-hati, boleh sambil liat kanan kiri, yang jelas tetap jaga harga diri. Jangan sampai kamu menurunkan standar hanya karena lelah menanti dan ingin segera bersandar. Kamu ga perlu jadi perempuan yang lebih lemah hanya karena pria-pria suka sama perempuan manja. Kamu ga perlu jadi perempuan pura-pura bodoh hanya karena pria minder sama perempuan yang pendidikannya tinggi. Kamu juga ga harus menggampangkan diri untuk menerima ajakan sembarang pria hanya karena kamu kesepian. Ayolah, jangan pesimis! Menurunkan standar dan kualitas kamu itu bukan pilihan yang bijak dalam rangka mendapatkan pasangan hidup. Hal penting lainnya yang perlu kamu ingat adalah walaupun kamu sudah berusaha mati-matian melakukan ini itu dan perbaiki ini itu supaya menjadi yang terpilih, jangan sampai kamu repot-repot menjadi orang lain! Tetaplah jujur menjadi diri kamu sendiri dengan versi yang terbaik. Karena sesungguhnya bukan cuma tugas kamu aja kok untuk meyakin-yakinkan dia agar dia memilih kamu. Kalau memang dia menemukan apa yang dia butuhkan di dalam diri kamu, dan kalau memang dia merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan, pasti dia akan melakukan usaha yang setara. Karena di dalam hubungan, setidaknya kita butuh dua orang dewasa yang sama-sama berusaha.

Kadang mungkin kamu bingung kenapa ya kok kamu sendiri aja sementara teman-teman lain sudah menikah atau paling tidak yaah ada deh yang berminat. Padahal kalau boleh jujur dengan tambahan sedikit percaya diri alias GR, kayaknya banyak deh yang ga secantik kamu, ga sepintar kamu, dan ga seasik kamu. Tapi kenapa ya mereka lebih dulu ‘laku’ sementara kamu masih menunggu? Tentunya ga terhindarkan lagi kondisi di mana kamu jadi sering bertanya-tanya apa gerangan yang kurang dari diri kamu sendiri. Apa kamu kurang menarik? Mungkin kurang asik? Atau kurang baik? Semua pertanyaan itu muter-muter di kepala sambil kecipratan rasa yakin bahwa kamu udah coba melakukan yang terbaik. Duh, mau ketawa tapi kok rasanya kecewa, mau ikhlas tapi kok ya malas, dan mau ga baperan tapi kok ya penasaran.

Yang perlu kamu tahu, menjadi sendiri tanpa pasangan seperti sekarang ini adalah satu dari banyak hal yang bisa bikin kita lebih dewasa, lebih kuat, lebih mandiri, dan bikin kita lebih melek sama kehidupan. Iya, hidup ternyata ga selalu seindah bayangan dan rencana-rencana kita. Hidup juga ga se-sederhana 2+2 = 4 yang hasilnya pasti. Bisa aja kamu udah nyoba sebaik yang kamu bisa, tapi sayangnya ga pernah ada jaminan kamu akan serta merta dapetin apa yang kamu usahain. Atau malah bisa aja kamu ga seniat itu ngusahain sesuatu, eh ternyata justru kamu dapet aja gitu tanpa disangka-sangka. Jangan bingung, hidup suka se-random itu, memang.

Di sisi lain, pengalaman belum dipilih seperti sekarang ini juga melatih kita untuk ga gampang kecewa. Orang yang gampang kecewa itu sungguh rapuh dan pastinya rajin ngeluh. Ya gimana dong, kan ga mungkin kamu berharap dunia ini selalu mulus seperti pipi Raisa, ga mungkin juga semesta selalu melindungi ego kamu, atau umat manusia bahu membahu menjaga perasaan kamu? Pastilah, jarang maupun sering kita akan senggolan sama yang namanya rasa kecewa di dalam hidup. Jadi, bersyukurlah kamu kalau pernah menjadi bukan pilihan. Itung-itung latihan menghadapi kekecewaan-kekecewaan lainnya di depan nanti.

Sementara menunggu, kamu mesti tetaplah sibuk dengan hal-hal positif yang inspiratif. Ngapain? Ya ngapain kek. Bisa berprestasi di kantor, aktif di masyarakat, terlibat di komunitas sosial, dan masih segudang lagi pilihan baik lainya. Begitu pikiranmu kembali jernih, coba perhatikan baik-baik deh! Ternyata ada loh hal yang lebih penting daripada sekedar terpilih atau belum terpilih jadi pasangan seseorang, yaitu tentang menjalani hidup sebagaimana mestinya dengan sebaik mungkin, terlepas dari kamu sekarang sudah sama pasangan atau masih sendiri. So, ayo jadikan masa penantianmu sebermanfaat mungkin supaya kelak tiba saatnya pasangan kamu hadir, dia tahu bahwa dia memilih orang yang tepat.

Ternyata Masalahnya Bukan itu

Tentang menjadi bukan pilihan.

Ini bisa teraplikasikan dalam banyak hal di kehidupan, contohnya dalam pekerjaan, pertemanan, perbisnisan, juga percintaan.

Menjadi bukan pilihan itu rasanya aneh. Kenapa aneh? Karena lo ga bisa bohong bahwa sedikit banyak rasanya tuh ga enak, tapi di saat yang sama lo juga sedang membesar-besarkan hati lo, bahwasanya lo sudah coba yang terbaik, bahwasanya lo tahu lo ga punya kontrol sepenuhnya untuk menjadi yang dipilih atau yang tidak dipilih.

Menurut gue, menjadi bukan pilihan itu adalah satu dari banyak hal yang bisa bikin kita dewasa, bikin kita lebih ngeh sama kehidupan. Iya, hidup ga seindah itu. Kalo kata bokap gue, hidup itu ga kayak 2+2 = 4 . Lo bisa aja udah nyoba sebaik yang lo bisa, tapi bukan berarti jaminan lo akan serta merta dapetin apa yang lo usahain. Atau lo bisa aja ga seniat itu ngusahain sesuatu, eh malah ternyata lo dapet aja gitu tanpa disangka-sangka. Yoi, se-random itu, memang.

Di sisi lain, pengalaman menjadi bukan pilihan juga melatih kita untuk ga gampang kecewa. Orang yang gampang kecewa itu sungguh rapuh dan pastinya rajin ngeluh. Ya gimana dong, kan ga mungkin kita ngarepin dunia ini selalu baik, semesta selalu merawat ego kita biar ga lecet, atau umat manusia bahu membahu jaga perasaan kita? Pastilah, jarang maupun sering kita akan senggolan sama yang namanya rasa kecewa. Jadi, bersyukurlah lo kalo pernah menjadi bukan pilihan. Itung-itung latihan ngadepin kekecewaan-kekecewaan lainnya di depan nanti 😉

Oya, satu hal berharga yang gue pelajari tentang menjadi bukan pilihan adalah: seusaha-usahanya kita supaya menjadi yang terpilih, kita jangan sampe repot-repot jadi orang lain. Stay true to yourself. Just be who you are. Karena sesungguhnya bukan cuma pe er lo aja untuk meyakin-yakinkan orang lain agar dia memilih lo. If they find what they need in you, if they find mutual variables between the two of you, they’ll definitely make the efforts too. You’ll meet each other the halfway.

Jadiii setelah gue pikir lagi baik-baik, ternyata ada hal yang lebih besar dari sekedar terpilih atau ga terpilih, yaitu tentang menjalani hidup sebagaimana mestinya terlepas dari lo menjadi pilihan atau menjadi bukan pilihan. Itu jauh, jauh, jauuuh lebih penting. Karena terpilih atau ga terpilih adalah one time occasion sedangkan setelah itu ya hidup tetap terusss berjalan 🙂

if the feelings are mutual, the effort will be equal

Butuh Dua

Kapan nikah?

Yes. Ini adalah tulisan yang memang tersulut dari pertanyaan di atas. Sejatinya, pertanyaan ini udah mulai sering gue denger sejak gue di usia 23-an. Seiring berjalannya waktu, makin tahun maka makin santer terdengar dan diarahkan kepada gue. Entah kenapa ya kok orang bisa-bisanya nanyain pertanyaan ini tuh enteng banget, kayak nanya “kapan ke alfamart?” Dan kalo diperhatiin ini yang nanya kebanyakan pasti yang udah nikah. Hahahah kenapa sih woy, apa karena lo merasa giliran lo udahan terus kayak iseng aja gitu tergelitik pengen ‘bales dendam’ merasakan jaman dulu ketika lo pada masanya ada di posisi yang ditanya-tanyain? Atau mungkin lo simply resek aja pengen menempatkan orang pada kondisi yang cengar-cengir gatau mau jawab apa? Ckckck.

Nunggu apalagi sih?

Hhh.. pertanyaan jenis kedua ini adalah lanjutan dari pertanyaan pertama yang ga kalah menyebalkannya. Pertanyaan ini tuh mengandung unsur kesotoyan luar biasa. Seolah-olah si penanya lebih tau banyak hal tentang hubungan dua insan manusia yang jadi objek pertanyaan. Nih ya gue bilangin, nikah itu kan butuh 2 orang broh! Kalo yang satu mau, yang satunya ga mau, ya ga bisa. Kalo yang satunya siap tapi yang satu lagi belum siap, ya ga jalan. Kalo yang satunya yakin, tapi satunya ga yakin-yakin amat, yaaa ntar dulu. Plislahh nikah tuh bukan hal yang bisa di-besok-sore-in. Jadi ga perlulah ya kayaknya nanya ‘nunggu apa lagi sih?’ karena lo ga pernah tau apa yang udah seseorang usahain buat sampe ke titik yang disebut MENIKAH.

Nyari yang kayak gimana lagi sih?

YASALAM.. ini pertanyaan tipe yang sok terdengar mau bantuin tapi seringkali sesungguhnya hanyalah pengen mencibir betapa si orang yang jadi objek pertanyaan itu dianggap super picky dan amat selektif. Kalo ini ditanyain ke gue dan ke mbak-mbak se-lingkaran permainan gue, dapat dipastikan kita udah males banget jawabnya. Kebanyakan tuh orang ga cari yang gimana-gimana, nyari yang cocok, nyambung, seagama, dan SIAP menikah aja itu udah zuzaah broffh! Boro-boro mau ditambahin tetek bengek lainya macam; tubuh atletis, brewokan tipis, rambut klimis, dan senyumnya manis. BLAAH, itu semua mah bonusss!

Mau nunggu sampe kapan lo?

Ini pertanyaan apaan sih? Nyinyir tapi ga mikir! Hahaha nyebelin. Helloooo! Siapa juga ya yang mau nunggu lama-lama? Siapa sih yang berencana nunggu seumur hidupnya? Meeen, nunggu Transjakarta ga dateng-dateng aja udah pengen murka apalagi nunggu dinikahin?! Lagian ya emang orang yang melontarkan pertanyaan ini berharap dapet jawaban kayak apa sih? *heraaaan*

Buruanlah nyusul!

Oke, yang ini bentuknya bukan pertanyaan, tapi lebih ke seruan, himbauan, atau apalah namanya. Gimanapun juga, seruan ini sedikit banyak sesungguhnya mengandung unsur jumawa. Karena yang melontarkan pasti adalah orang-orang yang telah menikah. Untuk menutupi kejumawaan-nya, biasanya mereka akan bilang, “ya ini kan doa cuy biar lo cepet nyusul.” Haaah?! Gimana sih kok jadi twisted? Doa ya doa, menghimbau ya menghimbau. Lagian kalo emang doain ngapain pamrih amat pake dibilang-bilangin hahhaha.

Poinnya adalahhhh, biarkan saja orang-orang dengan usaha mereka dan pergolakan batin mereka masing-masing dalam menuju pernikahan ini. Itu aja udah cukup ribet buat mereka, ga perlu lo ikutan masuk dan nambah-nambahin pressure. Kalo emang niat doain, ya doainlah dengan tulus. Asal kalian tau, doa yang baik itu justru ketika lo mendoakan seseorang diam-diam, bukannya malah pamer dan diumbar-umbar :’) Kalo emang berniat jadi temen yang baik ya berikanlah masukan pada saatnya, pada saat lo ditanyain pendapat, pada saat lo dimintain saran. Kalo niat bantu jodohin juga boleh aja, berikanlah kandidat dengan cara yang baik, hargai juga pendapat dan kesediaan si orang ini. Ya kan?? Jangan sampe maksud baik jadi malah nyebelin gara-gara dilakukan secara repetitive dan ga sensitif dengan perasaan orang lain.

Hmm… sekali lagi, kita ga pernah tau apa yang udah orang lain lakukan buat mengusahakan dirinya menuju jenjang pernikahan. Dan kalo lo perhatiin baik-baik, manner kayak gini ga cuma berlaku diperihal nikah-nikah aja, tapi juga di urusan kehidupan lainnya kayak nanyain kenapa orang belum hamil juga, kenapa anaknya ga dikasih ASI, kenapa anaknya disekolahin swasta, kenapa ini itu dan seterusnya.

Inget ajalah, peduli dan mencampuri adalah dua hal berbeda yang batasannya tipis banget. Setipis apa? Ya setipis rasa malu kita :))

Anyway, ini tulisan juga sebagai pengingat gue di kala nanti gue udah menikah dan berumahtangga, maka Hai Annisa Pratiwanda, janganlah kau jadi sosok mbak-mbak nyebelin yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan di atas kepada orang lain. Oke ya, janji?!

Oke, in syaa Allah.

Kalo iya ya ayok, kalo engga ya dadah!

Ini sebenernya cerita beberapa bulan lalu, baru sempet aja ditulis. Suatu hari, secara random yang terencana, gue main sama sobi dari jaman SMA ke sebuah mall pergaulan paling hits se pejaten, ya anggaplah namanya Pejaten Village ✌🏽️

Sebongkah bocah lelaki ini sudah gue kenal sejak jaman ingusan SMA masih kurus kering kerontang sampe sekarang udah jadi subur makmur sehingga bentuknya macam bapak orang. Setelah kenyang dan capek tarik suara, kita nongkrong di sebuah kafe sambil ngobrol panjang lebar, yah ga jauh-jauh topiknya dari kegelisahan manusia-manusia setengah abad. Waktu itu kita saling bertukar pendapat mengenai curhatan masing-masing. Dia cerita tentang kebingungannya akan perempuan dan gue cerita tentang keheranan gue akan laki-laki. Ini bagian yang menarik karena kita masing-masing bisa dapet insight langsung dari ‘si makshluk yang bikin kita bingung’ yeaah! Kali ini gue males menceritakan mengenai bagaimana kita bahas sisi perempuan karena udah mayan banyak yang nulis tenntang perempuan dan menjelaskan gimana itu perempuan. Lalu jawabannyapun jelas sudah, kita nih, para perempuan emang ga bakal bisa dipahamin, tapi cukup dipastiin. *wink*

female-male-brain-differences
source: http://www.feministcurrent.com

Gue akan lebih ke membahas apa yang gue tanyakan tentang laki-laki kepada si temen gue ini. Waktu itu entah gimana pembahasan sampe kepada mengapa laki-laki itu kadang ada yang terlihat serius mengusahakan tapi ada juga yang on-off aja gitu, kayak iya kayak engga. Kemudian si temen gue ini ketawa lalu jawab dengan simplenya kurang lebih begini. “Ya kalo lo ngerasa diusahain, berarti emang dia lagi ngusahain lo. Nah kalo dia kayak sok cuek atau terkesan tarik ulur, ya percayalah itu bukan ‘sok’ atau ‘terkesan’, tapi emang dia enggak ngusahain lo! Jangan lo bikin asumsi sendiri buat hibur-hibur diri.”

KROMPYANGGGG!

Singkatnya temen gue itu berkata bahwa:
“Men are honest, you are just not listening!”

Inti yang gue tangkap dari obrolan sore itu yaituuu… karena laki-laki itu adalah makhluk yang simple, mereka ga ada waktu buat ribet-ribet kamuflase perasaannya, ga cukup kreatif buat akting sok cuek / sok perhatian , dan ga cukup sabar juga buat main tarik ulur. Kalo mereka emang bener-bener pengen sesuatu ya mereka akan lakuin apapun sebisanya buat dapetin si sesuatu itu. Fitrahnya lelaki itu tuh kayak pemburu. Ga bakal berhenti sampe dapet, atau at least sampe bener-bener jelas bahwa si sesuatu itu emang ga mungkin lagi diperjuangin.

Jadi pelajaran moral yang gue dapet dari si temen gue ini adalah, kalo kita nih para perempuan mau paham laki-laki, berpikirlah kayak laki-laki. Mereka sesimpel itu kok. Asli deh kalo ribet-ribetan, kita masih lebih menang. :’)

Jodoh di Ruang Meeting

Kalo mau lebay, Senin kemarin mestinya menjadi Senin paling horor buat gue. Kenapa? Karena seminggu ke belakang gue bersama tim di kantor berturut-turut lembur ngalahin tukang ronda, ngalahin suami siaga, ngalahin satpam bidakara. Buat apa? Ya buat nyiapin presentasi si hari Senin tersebut.

Maka hari Senin itu datanglah gue ke kantor sang client dengan badan lunglai yang ditegap-tegapkan, mata sepet yang dibesar-besarkan (thankyou eyeliner), dan tengkuk pegel yang disegar-segarkan. Well, overall presentasi berjalan dengan lancar walaupun tetap dengan revisi di sana dan di sini. Di dunia ahensi tuh ya hampir ga mungkin ada presentasi yang langsung di approve client tanpa embel-embel revisi. Ibarat bikin nasi goreng tapi ga pake nasi. Yakali!

Nah yang mau gue bahas sesungguhnya bukan meeting tersebut, tetapiiiii… Di tengah hari Senin nan horor itu gue tidak menyangka akan mendapatkan wejangan dari dua orang senior kantor mengenai tak-lain-dan-tak-bukan-apalagi-kalo-bukan-jenggg-jeeenggg-JODOH! Gila kali ya, bisa-bisanya di suasana tegang dan presentasi super serius itu gue memperoleh nasihat perjodohan hahhaa. Gilak!

Jadi begini kira-kira rangkuman wejangan random nan berkualitas itu. Sebutlah dua orang senior kantor gue itu adalah “Mbak” dan “Teteh” posisinya kita lagi makan siang di the very exact ruang meeting horror tsb.

Teteh: *buka hape wallpaper gambar anaknya lucu*

Gue: Ih lucu banget Teh, gue kalo punya anak begitu kayaknya ga tega ngantor deh (sok tau)

Teteh:  Ih, neng itu cita cita gue banget loh jadi ibu rumah tangga.

Gue: Emang ga takut bosen ya Teh ntar? (lagi lagi sok tau)

Teteh: Enggalah, gue emang mau di rumah sama anak. Ntar sambil ngerjain kerjaan yang bisa dari rumah, bukan ngantor.

Gue: Gue pengen juga sih Teh, tapi belom kebayang juga mau ngapainnya. Tauk deh liat ntar aja.

Teteh: Emang kamu umur berapa sih Neng?

Gue: 25.

Teteh: Ih buruan atuh jangan kelamaan ntar telat kayak gue nikah umur 32 (ntah definisi telat itu bagaimana)

Mbak: *sedari tadi dengerin, lalu nimbrung* Eh, entar duluu telat tuh relative loh. Gue nikah 35 tapi justru malah bersyukur. Gue ga ngerasa telat juga.

Gue: Bersyukur kenapa Mbak?

Mbak: Kalo gue dulu nikah umur 25 gitu ya, pasti kalo berantem gue udah bakar rumah kali. Emosi gue masih belingsatan banget. Makin tua makin dewasa berangsur-angsur bisa tone down. Ini malahan gue dapet suami yang tense nya di atas gue. Kalo dipikir gila juga kan, tapi kita sama-sama bisa ngimbangin. Kalo satu lagi ngomel, yang satu lagi diem aja jangan jawab. Atau kita argue nya via text / bikin surat. Pas nulis itu soalnya kan sambil mikir, jadi kata-kata yang keluar paling ga ya kefilter.

Teteh: Iya juga sih masing-masing beda kapan waktu yang tepatnya.

Gue: Terus gimana Mbak lo bisa memutuskan waktu itu akhirnya mau nikah sama yg sekarang?

Mbak: Ya gue emang udah niat, jadi pas dikenal-kenalin gue langsung liat dan cari tau ini orang kayak apa, visinya sama ga sama gue, dll dsb. Dari kenalan sampe akhirnya nikah Cuma 3 bulan gue.

Gue: Hah 3 bulan?

Mbak: Gue juga baru ngerasain pas itu sih, ternyata kalo emang jodoh tuh Allah lancarin banget prosesnya. Bapak gue yang biasanya rewel ini itu, mulus! Ibunya dia yang biasanya ribet ini itu, juga mulus!

Gue: Yatapi emang lo langsung bisa cinta gitu mbak? 3 bulan loh!  Yahhh atau setidaknya tertariklah?

Mbak: Nih ya gue kasih tau, lo kalo ntar kenalan sama siapapun lah itu yang kira-kira arahnya ke sana (buat nikah), lo mendingan langsung background check deh sebelum kenapa-kenapa.

Gue: Hah! Kenapa-napa gimana?

Mbak: Ya sebelum lo naksir, sebelum lo beneran suka sama dia. Kalo lo udah pake hati baru mau background check.. Hmmm.. dijamin berkabut!

Teteh: Bener Neng, lo jadi ga rasional dan akhirnya membenar-benarkan beberapa hal demi rasa naksir lo itu. Yah kalo naksir, sayang gitu sambil jalan juga jadi sendiri. Yang penting pastiin aja dulu itu orangnya bener.

Gue: *keselek paha ayam*

hatotak

Well, walaupun gue sambal keselek ayam, gue catet dan hayati baik-baik omongan mereka berdua. Edan juga ya selama ini gue tuh masih banget merisaukan yang namanya “takut ga suka’, ‘takut ga cinta’, dan takut ga bisa sayang’ sama si A si Z si X.

Padahal kalo dipikir-pikir ya, takut-takut yang semacam itu sebenernya menunjukkan betapa gue jumawa abesss! Jumawa gimana? Ya iyalah, gue tuh jumawa bin sombong bin pongah karena berarti gue meragukan kemampuan Allah Sang Maha Pembolak-balik Hati. Bukankah mestinya mudah banget buat Allah untuk jadiin lo suka sama si A atau benci sama si X dst. Ya kan???? Dan gue? Masih takut, masih ragu. Uhhh.. astaghfirullah.

Semoga ke depannya gue beserta gadis-gadis rapuh melepuh di luaran sana pada bisa lebih rasional dan ga kelamaan menye-menye kemakan cinta.

Huh… MAKAN TUH CINTA!

Inget, kita tuh BUS!

Beberapa waktu lalu gue sempet posting sesuatu di path (as can be seen above)
Nah dari postingan itu dan dari komen-komen perngocolan di bawahnya, gue jadi kepikiran sesuatu.

Bukankah itu sama kayak plot hidup dari kebanyakan orang?

Ada orang yang memang mendedikasikan hidupnya sebagai si pengejar dan ada pula yang memposisikan diri sebagai si bus yaitu yang dikejar. Ilustrasi kondisi ini  applicable banget pada apapun urusannya, bisa karir, impian, jati diri, atau yang paling menye tapi laris; cinta. Nah, di tulisan kali ini gue cuma pengen meng-highlight bagian yang kedua (si bus). Sebagaimana udah dijelasin di atas, bus ini menjadi fokus objek yang dikejar dan diusahakan.

Betapa gue dan mungkin banyak orang di luar sana suka ga ngeh kalo ternyata kita tuh seringkali melambat-lambatkan progress diri demi nungguin orang / sesuatu yang kita harapkan. Jadi sebenernya bisa aja kita semacam “lari lebih cepat” atau “lompat lebih tinggi” tapi karena kita beneran berharap parah terhadap orang / sesuatu tersebut, kita sadar ga sadar jadi melambat dengan maksud menunggu mereka.
Bukankah seharusnya kita seperti si bus itu? Tetep aja jalan, tetep aja melaju. Walaupun kita berharap banget-banget sama orang itu, tapi kalo dianya bahkan ga berniat mensejajari langkah kita ya buat apa? Karena hidup ini kan mesti terus berlanjut dan ga semata-mata cuma nungguin dia aja, banyak banget hal yang harus diurus.

Kalau memang si orang tersebut berniat untuk ada sama kita, jalan bareng dengan sejajar sama kita, ya harusnya dia juga usaha kan, sebagaimana si mas-mas tadi mengejar busnya sampe dapet.
Jadi percayalah, kalau memang orang / sesuatu tersebut untuk kita, dia akan menemukan jalannya. Sementara itu, kita pastikan aja bahwa kita udah melaksanakan part-nya kita sebaik mungkin. Selebihnya, ya ayo terus jalan, terus melaju, dan jadi diri sendiri dengan versi termaksimal yang kita bisa.
Walk further, run faster, and jump higher!

P.s (edited ver): around two weeks after this post, I found relatable quote from JoyBell as below