Logika Telanjang

Belakangan ini lagi rame mengenai march wanita Indonesia yang dilakukan di Jakarta dalam rangka mendukung feminsime, spesifiknya adalah pada korban sexual harrasment dan kaitannya dengan kebebasan berpakaian serta berekspresi pada wanita.

Dengan segala semangat perempuan modern yang ada pada diri gue, rasanya gue mau salim sama mbak-mbak yang march kemarin untuk menghaturkan rasa salut gue akan keberanian dan usaha mereka.

Bagi yang belum tahu, intinya sih yang gue tangkep yaitu topiknya march tadi mengenai gender quality and equity. Lalu, highlight dari beberapa poster yang diusung adalah mbak-mbak tersebut sungguh berkeberatan sama “ungkapan” yang menyudutkan perempuan agar jaga cara berpakaian kalo ga mau jadi korban harrasment. Oke, sampai pada titik ini gue setuju. Tidak terpuji memang menyudutkan seperti itu.

Selanjutnya, sebelum gue terusin, tolong dipahami ya bahwa ini tulisan opini. Gue sebagai makhluk dewasa berdikari dan tut wuri handayani ini memiliki kapasitas berpendapat sesuai dengan apa yang gue yakini dan pahami. Jika ada yang bersebrangan, monggo dibuat postingannya sendiri ndak papa, monggo.

Image result for qasidah indonesia meme lucu

Lanjut ya? Nah, kemudian setelah bergulir lebih jauh, lalu ketemulah sama bahasan terkait variabel cara wanita berpakaian diadu dengan variabel napsu birahi laki-laki, di situ logika gue mulai ngambek. “Jangan atur-atur cara gue berpakaian, suruh tuh laki-laki yang tahan napsunya!” Gitulah kurang lebih statement-nya. Nah, lalu apa yang bikin logika gue ngambek? Gini, manusia itu diciptain punya napsu. Both laki dan perempuan. Napsu ga melulu birahi. Itu mbak-mbak yang gemar sekali memakai busana mini, juga bentuk napsu. Napsu untuk memperlihatkan kemolekan tubuh dan napsu ingin berekspresi dalam kebebasan. Sama hal nya dengan napsu birahi, perempuan juga punya. Dan bukannya ga ada pemerkosaan dilakukan oleh perempuan. Ya ada. Nah begitupun pria. Ketika bicara napsu birahi, makhluk testosteron ini pada hakekatnya memang diciptakan demikian. Settingannya tuh, mereka lebih berhasrat dalam ranah seksual. Hasrat pria itu mudah ditrigger, to the point, dan bisa kapan saja di mana saja. Beda halnya dengan perempuan yang lebih emosional triggernya. Makan malam dulu lah, bunga-bunga indah dulu, dll. Ini bukan bacotanku semata ya hadirin sekaliaaan tapi memang ada penelitiannya di University of Chicago dan riset-riset lainnya yang bahkan terindeks Scopus.

Untuk mengimbangi ciptaan tersebut, maka wanita dihimbau sama Sang Pencipta untuk menutup auratnya. Lo disuruh nutup aurat bukan dengan alasan egois saja “cuma buat melindungi lo” tapi juga dalam rangka membantu makhluk testosteron tadi untuk menjaga hasratnya. Laki itu ga dipancing yang aneh-aneh aja bisa kok berimajinasi sendiri. Nah ya mbok jangan dipancing dan dipertegas imajinasinya dengan dipampangkan visual gratis.

Image result for meme qasidah tak sama

Itu tuh Yang nyiptain makhluk, sama Yang nyuruh tutup aurat tuh adalah Dzat yang sama Yang bikin “onderdil” lo. Ya jelaslah Dia paling tau banget fungsinya, hapal mati tentang kelebihan dan kelemahan masing-masing organ kita, makanya disiapin manual/panduannya. Kita ikutin deh.

Kalo lo bilang aurat lo bukan urusan orang lain, bukankah sebaiknya lo dan handai taulan  hidup aja di planet lain yang makhluknya ga pake indera penglihatan? Hayoo.. Jangan ngambek.. Kan katanya mau pake logika, kan? Terus, di saat pada koar-koar minta kebebasan cara berpakaian, apakah juga pada inget para laki itu pun punya kebebasan berimajinasi dan fantasi? Masa iya demi mengakomodir kebebasan ekspresi mbak-mbak sekalian ini, para laki mesti pake masker ketimun semua tiap lagi jalan di luar rumah? Wahai mbak-mbak yang ekspresif, kita ga pernah tau loh setan tuh sedigdaya apa godainnya. Perihal nahan napsu sih iya. Mereka sebagai lelaki tuh mesti jaga napsu. Jangankan birahi deh Mbak, pandangan aja Tuhan perintahin buat ditundukkan kok. Perhatiin deh itu udah both sides loh itu solusinya. Yang satu jaga aurat, yang satu jaga pandangan. Dan keduanya jaga napsu. Adil kan.

Jangan sampe ego kita terlalu besar sampe-sampe nutupin mata dan akal sehat buat liat yang benar.

Lalu, adapun fenomena yang perempuannya udah pake baju ketutup dan tidak mengundang, tapi masih tetep diperkosa. Maka itu kecenderungannya lebih kepada kelainan dari pelaku. Dan sebagai netizen, gue himbau lo semua ya untuk ga hanya jaga mulut tapi juga jaga jempol baik-baik. Ga usahlah komen ga perlu yang nyakitin hati korban / keluarga. Ga perlulah kita mengalami hal serupa hanya untuk belajar dan berempati sama musibah orang lain, naudzubillah.

Kemudian, selain masalah pemerkosaan, yang dihighlight juga adalah mengenai “catcall” atau di suit-suitin. Pelaku bisa laki atau perempuan. Tapi kebanyakan memang lelaki ya. Dan biasanya terjadi di kelompok mas-mas tengil (masteng) yang menyasar ke perempuan muda. Kegiatan norak semacam catcall ini menurut pengamatan gue, biasanya selalu dilakukan bergerombol atau minimal 2 orang. Jarang ada yang sendiri. Selain karena emang gatel, biasanya pelaku menjadikan catcall ini semacam ajang pride showing pada teman-temannya. Biar kesannya “nih gue laki nih, gue berani.” Jadi ini bukan masalah lo pake celana gemes atau pake mukena juga disuit-suitin. Tapi emang ada aja masteng-masteng tak tau arah hidup kemudian nice try suit-suitin orang.

Btw, sebagai korban catcall juga, gue pernah nyoba salah satu senjata yang cukup efektif adalah: lo berhenti, samperin orangnya, sambil liat biji matanya, tanya dia dengan santai gapake nyolot,

“Kenapa Pak? Gimana? Tadi ga kedengeran.” 

Iya panggil “Pak” aja biar turn off. Atau kalo di ‘assalamualaikum’ in masteng gitu, lo jawab aja sambil berhenti dan liat orangnya, “wa’alaikum salam. Ada apa pak?” Hmm… Itu biasanya orang yang catcall akan salting sendiri. Dan jadi muncul semacam rasa ga enak karena “eh kok ternyata mbak nya ga diem aja. Eh Kok ternyata mbaknya ngajak kontak mata, malah buka komunikasi.”

So, balik lagi intinya mengenai keterkaitan cara berpakaian perempuan dan perihal syahwat/birahi ini adalah jaga dan hormati diri sendiri dengan bentuk jangan mau terlihat murah apalagi gratis. Yang perempuan jangan umbar umbar. Know your worth. Dan yang laki jangan buas kayak diperbudak napsu. Know your worth too. Selain itu, salinglah menjaga. Jangan saling mancing baik secara sadar maupun ga sadar.

Lagipula, berdasarkan pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain, people really do treat us as how they see we treat ourselves. Orang tuh bakal memperlakukan kita ga jauh-jauh dari cara kita perlakukan diri sendiri. Mereka liat dan merefer dari perilaku kita sih.

Contoh gampang:
Kita ga bisa pulang malem karena baru jam 8 aja udah ditelponin orang tua. Temen-temen kita pasti lama kelamaan jadi ikut ngingetin “lo ga pulang nih udah jam segini?” Atau, “kita mau nonton tapi yg jam 9. Lo berarti ga bisa ikut nih.” Jadi mereka paham dan menghargai pola kita.

Contoh lain: Waktu gue tinggal se flat sama temen-temen perempuan dari negara lain dan beda agama, gue kasih tau mereka mengenai gue pakai kerudung dan aturannya, termasuk makanan apa aja yang ga bisa gue makan. Hasilnya? Tiap ada yang bawa temen lelaki ke common room, selalu mereka warning gue “don’t forget to wear your hijab if you’re coming to the kitchen, there are some guys here.” Terus kalo mau hang out ke resto mereka malah yang lebih dulu notice mana yang nyediain menu halal dan mana yang engga.

Begitulah kira-kira gambarannya mengenai betapa pentingnya self respect yang akan me-reflect pada perlakuan orang terhadap kita. Semoga in syaa Allah ke depannya baik perempuan dan laki-laki bisa saling respek satu sama lain dan ga saling menyalahkan dalam interaksi sehari-hari.
Bismillah.

Note: Aslilah, gue pun masih belajar dan masih banyak tetot-nya di sana sini. Saling ingetin yah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s