Tentang Ian

Kali ini gue mau cerita tentang Ian.

Ian ini awalnya adalah orang yang lumayan invisible buat gue. Di beberapa kesempatan gue ga ngeh kalo dia ga ada, tapi di saat dia ada, perannya lumayan signifikan. Berasa. Seiring berjalannya waktu, gue pun semakin kenal Ian dan terbiasa sama kehadiran dia. Tepatnya kapan gue lupa, tiba-tiba dia ga lagi invisible buat gue. Di satu ruangan penuh orang, Ian jadi yang gue pastikan duluan keberadaannya. Kenapa bisa gitu ya, gue juga kurang paham.

Ian ini adalah tipe lelaki yang alus dan rapih manuvernya. Ga diumbar-umbar tapi juga ga samar-samar. Dari Ian gue jadi tahu bahwa ada yang lebih menarik daripada mengusahakan, yaitu diusahakan sampe kita ngeh. Oh ya, Ian ini kikuk dan menarik di saat yang bersamaan. Haha.

Ian tuh adalah sosok yang ga bermain di titik extreme. Dia orang tapi kayak air. Ian selalu tertarik coba ini coba itu walaupun dia  punya preference-nya sendiri. Demi rasa ingin tahu. Dia salah satu partner diskusi yang luas “perpustakaannya”.

Selama ini gue selalu jadi tempat sampah buat orang dan lumayan picky ketika tiba giliran gue yang harus “buang sampah”. Sejak ada Ian, dia hadir sebagai “tempat sampah” yang familiar buat gue. Sedikit yang gue rasa perlu difilter ketika gue “buang sampah” ke dia. Dari Ian gue belajar untuk menjadi pendengar yang baik. Dia tahu kapan mesti diem dulu, kapan mesti kasih feedback, kapan mesti menegur, dan kapan mesti memuji. Ian ini adalah sedikit dari beberapa pria yang gue kenal yang punya ingatan seperti gajah betina. Kuat sampai ke detail. Ya bukan berarti dia ga bisa lupa, bisa lah, cuman jarang.

Dalam hal hobi dan ketertarikan gue lumayan beda banget sama Ian. Somehow ini menarik, karena jadi bisa saling cari tahu tentang hal baru langsung dari sang pelaku. Gue suka saat Ian bercerita tentang hobinya, kayak dengerin anak kecil yang bahas kartun favorit atau permen kesukaannya. Bersemangat, intense, dan berbinar-binar.

Ian ini pada hakekatnya, di mata gue adalah makhluk yang lumayan naif. Gue gatau sih ini namanya naif, polos, atau baik. Tapi ada banget momen-momen di mana Ian nih sering lempeng aja gitu ngadepin orang, masalah, dan situasi. Kayak semua orang tuh baik, kesel itu ga perlu karena buang energi, dan ga usah banyak kekhawatiran. Jalanin pokoknya.

Dari kebersamaan gue sama Ian sejauh ini, ada pelajaran penting yang gue dapet dan akan selalu gue inget, yaitu

Ian mengajarkan gue kalo emang yakin banget pengen sesuatu, usahain bener-bener beserta semua resikonya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s