Tentang Kalah

Yang namanya kalah itu ga pernah enak.

Kecuali

Lo emang sengaja dari awal karena udah ogah-ogahan ikut sesuatu karena dipaksa.

Gue sempet tau di kontes fashion show anak kecil gitu, beberapa orang tuanya titip piala yang mereka bawa sendiri ke panitia. Iya cuy, beli sendiri pialanya :’) Katanya itu untuk dikasihin ke anak mereka jika ternyata si anak ga menang. Supaya apa? Ya supaya menghindarkan si anak dari rasa kecewa yang tentunya sepaket sama rasa sedih. Kebayang ga sih lo gimana ini anak tumbuh dewasa nantinya jika selalu dijaga dari rasa kecewa? Bukankah orang tua ga bisa selalu ada buat anaknya 24 jam? Bukankah lebih baik kenalin sedini mungkin bahwa hidup kadang ada ga menyenangkannya? Bukankah kehidupan itu sendiri emang ga semulus paha-pahanya Cherrybell?

Hmm.. Gue emang belum jadi orang tua sih, jadi mungkin gue belum paham gimana mega giga besarnya sayang orang tua pada anak, gimana pengennya orang tua ngelindungun anak dari kesedihan. But I just sense that there’s something quite wrong sama kebiasaan menghindarkan anak dari rasa kecewa. Kayak apa-apa diturutin, ngerengek dikit dikabulin, dibiasakan selalu menang. Hmm…

Walaupun gue belum jadi orang tua, setidaknya gue (alhamdulillah) merasakan kasih sayang orang tua. Bapak-Ibu gue justru malah “melemparkan” gue ke dalam belantara rasa kecewa, sedih, dan kalah. Mereka membiarkan gue dan adik-adik gue nyicipin kayak apa itu rasanya sakit, kayak apa itu rasanya tidak menang, kayak apa itu rasanya kapok. Thing that I learned from my parents is that they are always there. They are still there,  at the very first point when they let us go. They were watching, observing, and monitoring. Once I ran back to them with tears, with wounds, with disappointment, they calmed me down. Bapak gue sering banget bilang, ” Kak, hidup tuh ga selalu 2+2 =4. Yang kita kira udah pas banget ukurannya, persiapannya, tapi kalo ternyata itu bukan buat kita ya udah, berarti emang ga buat kita. Makanya kita kalo beraharap sama Allah aja.” Lain lagi dengan nyokap gue yang sering bilang begini kalo pas gue lagi gagal sesuatu, “Yang penting kan udah coba, Kak. Jadi tau dan pengalaman. Kalo coba lagi udah ada gambaran. Minta aja yang terbaik sama Allah.”

Ngomongin ‘kalah’ tuh bisa banget diposisiin di segala aspek hidup ya. Bisa kerjaan, sekolah, pertemanan, asmara, persaudaraan, bisnis, cita-cita, atau bahkan kalah sama diri sendiri. Yang sering dikaitkan dengan kalah ini adalah rasa kecewa dan biasanya nyambung ke yang namanya”mengatur ekspektasi” Nah! PE ER banget nih yang satu ini butuh postingan sendiri kayaknya.

Jadi intinya yaah biarkanlah diri kita ada kalanya kalah sama orang lain. Biar nanti pas menang, berasa gejolak kemenangannya. Muahahhaha!

Advertisements

2 thoughts on “Tentang Kalah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s