Ternyata Masalahnya Bukan itu

Tentang menjadi bukan pilihan.

Ini bisa teraplikasikan dalam banyak hal di kehidupan, contohnya dalam pekerjaan, pertemanan, perbisnisan, juga percintaan.

Menjadi bukan pilihan itu rasanya aneh. Kenapa aneh? Karena lo ga bisa bohong bahwa sedikit banyak rasanya tuh ga enak, tapi di saat yang sama lo juga sedang membesar-besarkan hati lo, bahwasanya lo sudah coba yang terbaik, bahwasanya lo tahu lo ga punya kontrol sepenuhnya untuk menjadi yang dipilih atau yang tidak dipilih.

Menurut gue, menjadi bukan pilihan itu adalah satu dari banyak hal yang bisa bikin kita dewasa, bikin kita lebih ngeh sama kehidupan. Iya, hidup ga seindah itu. Kalo kata bokap gue, hidup itu ga kayak 2+2 = 4 . Lo bisa aja udah nyoba sebaik yang lo bisa, tapi bukan berarti jaminan lo akan serta merta dapetin apa yang lo usahain. Atau lo bisa aja ga seniat itu ngusahain sesuatu, eh malah ternyata lo dapet aja gitu tanpa disangka-sangka. Yoi, se-random itu, memang.

Di sisi lain, pengalaman menjadi bukan pilihan juga melatih kita untuk ga gampang kecewa. Orang yang gampang kecewa itu sungguh rapuh dan pastinya rajin ngeluh. Ya gimana dong, kan ga mungkin kita ngarepin dunia ini selalu baik, semesta selalu merawat ego kita biar ga lecet, atau umat manusia bahu membahu jaga perasaan kita? Pastilah, jarang maupun sering kita akan senggolan sama yang namanya rasa kecewa. Jadi, bersyukurlah lo kalo pernah menjadi bukan pilihan. Itung-itung latihan ngadepin kekecewaan-kekecewaan lainnya di depan nanti 😉

Oya, satu hal berharga yang gue pelajari tentang menjadi bukan pilihan adalah: seusaha-usahanya kita supaya menjadi yang terpilih, kita jangan sampe repot-repot jadi orang lain. Stay true to yourself. Just be who you are. Karena sesungguhnya bukan cuma pe er lo aja untuk meyakin-yakinkan orang lain agar dia memilih lo. If they find what they need in you, if they find mutual variables between the two of you, they’ll definitely make the efforts too. You’ll meet each other the halfway.

Jadiii setelah gue pikir lagi baik-baik, ternyata ada hal yang lebih besar dari sekedar terpilih atau ga terpilih, yaitu tentang menjalani hidup sebagaimana mestinya terlepas dari lo menjadi pilihan atau menjadi bukan pilihan. Itu jauh, jauh, jauuuh lebih penting. Karena terpilih atau ga terpilih adalah one time occasion sedangkan setelah itu ya hidup tetap terusss berjalan 🙂

if the feelings are mutual, the effort will be equal

Advertisements

2 thoughts on “Ternyata Masalahnya Bukan itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s