Meeting him in his very own place

Kalian tahu apa hal yang paling random, paling indah, paling mengejutkan, dan bikin berkali-kali bergumam “kok bisa, sih?” Jawabannya adalah: SKENARIO TUHAN

Di beberapa postingan blog gue sebelumnya, berkali-kali gue cerita tentang betapa karya-karya Andrea Hirata berpengaruh dalam hidup gue. Contohnya postingan yang ini dan yang ini. Well, pada dasarnya gue udah sempat ketemu sama Andrea Hirata ini dua kali di Jakarta, yang pertama sekitar tahun 2008 pas acara book signing di daerah Cipete, lalu kisaran 2012 di Pacific Place pas ada acara juga di situ. Di dua kesempatan itu, peruntungan gue hanya sejauh tanda tangan dan foto bareng  yang hasilnya pun super blurred karena berdesakan sama keganasan orang-orang lain. Alhasil gue selalu pulang dalam kondisi tidak puas dan gemas karena rasanya ada banyak banget di kepala dan di hati yang pengen banget gue certain ke beliau, pengen gue share. Semenjak baca buku-bukunya gue selalu berharap dan membayangkan punya suatu momen eksklusif untuk ngobrol asik panjang lebar sama beliau tanpa diganggu orang-orang lainnya. Yak, itu adalah harapan gue, dan berikut ini jawaban Allah.

14 July, 2015

Temen flat gue si Adwin menunjukkan foto seorang teman kita lainnya bernama Shaffira, dia posting foto di facebook bersama Andrea Hirata yang berlokasi di Warwick University. What??? Warwick kan di Inggris, dan gue bisa-bisanya ga tahu Andrea Hirata ada di Inggris. Oke, lalu keesokannya pas dini hari gue kontak Fira bertanya mengenai Andrea Hirata dan kunjungannya yang ternyata dalam rangka menerima penghargaan Doctor Honoris Causa dari University of Warwick. Dari Shaffira gue tahu bahwa Ikal akan berangkat menuju Sheffield beberapa hari ke depan. WHAAAT? Sheffield? Itu sungguh cuma 40 menit dari kota tempat gue tinggal.

15 July, 2015

Shaffira yang sangat baik hati dan memahami betapa gue terinspirasi oleh karya-karyanya Ikal, kemudian membantu semaksimal mungkin dengan provide kontak orang-orang yang sekiranya bisa jadi jembatan gue bertemu Andrea Hirata. Mulai dari situ gue kontak-kontakan sama Mbak Meda Kawu yang juga musisi penyanyi dan pencipta lagu-lagu dari bukunya Andrea Hirata. Mbak Meda kemudian menyampaikan pada Andrea bahwa akan ada mahasiswi dari Leeds yang ingin bertemu buat ngobrol nanti di Sheffield.

16 July, 2015

Lumayan khawatir juga sempat lost contact dengan Mbak Meda karena beliau mulai tidak mendapat wi-fi secara konstan jadinya agak terkendala membalas pesan-pesan gue. Oh ya, dan ini malam takbiran karena besok idul fitri juga akhirnya. Yah walaupun lagi ga sholat, setidaknya gue pengen tetep merasakan suasana lebaran di negeri orang. Sorenya, gue bertandang ke rumah teman untuk bikin kue sagu keju andalan bangsa bersama Runita, lalu secara random dia mengkutek tangan gue item putih dengan corak contekan dari google. Terus, menjelang larut malam, ada message masuk dari Mbak Meda, “…besok kita lebaran bareng ya?” Oke, gue tidur gelisah malam itu.

17 July, 2015

Selepas rangkaian sholat ied, kita keliling rumah beberapa warga Indonesia di Leeds yang open house dan makan bareng masakan khas lebaran seperti opor, gulai, rendang, lontong, dan sebagainya. Gue menikmati semuanya sambil ketar-ketir liat handphone. Gue dan Mbak Meda belum menentukan mau ketemuan di mana dan jam berapa. Di samping itu, gue bingung mau ke Sheffield sama siapa, beberapa temen yang gue ajakin pada males karena kok ya momentumnya pas lagi lebaran. Huffhhh.. yaudah di tengah keputusasaan, gue berpikir untuk cabut ke sheffield sendirian, muncullah sosok seorang teman bernama Aria yang langsung gue todong. “Aria, ke Sheffield yok ketemu Andrea Hirata, hari ini jam 3 berangkat dari Leeds.” Sebagai layaknya manusia normal yang menerima informasi terlalu banyak dalam waktu 5 detik, dia bengong dulu dan loading. Terus respon yang keluar dari Aria gini, “Hah hari ini banget?! (jeda 7 detik) Yaudah lo beli tiketnya dulu!” HAHAHAHA terimakasih Tuhan atas betapa ‘murahannya’ si Aria ini. Oya, di rumah yang open house itu gue dan Aria sama Teh Gina (tuan rumah) sempet ngebungkusin makanan khas lebaran buat Andrea Hirata dan Meda Kawu, Yah iseng aja gitu siapa tau mereka suka.

Dengan semangat dan antusiasme layaknya petani mau panen, gue dan Aria berangkat menuju bus station setelah Aria beres jumatan. Tapi ternyata estimasi waktu kita salah sehingga bus 14.45 udah berangkat duluan dan kita harus beli tiket baru untuk jam 15.10. Lari-lari kita ke self-service machine dan hampir aja tiket 15.10 nya ga tampil di screen karena kita pas mau beli udah jam 15.05. Begitu dapet, langsung kita menyerbu naik bus dan dimulailah 40 menit terpanjang dalam hidup.

Entah gimana, ternyata hari itu ada road work di jalur yang kita lalui sehingga macet bangeeetttt, level macet tukang gemblong kalo di jakarta. Iya , itu loh, kondisi macet ketika udah ga gerak sama sekali, sehingga banyak tukang gemblong dan tukang tahu sumedang yang seliweran 😦 Hhhhh.. gue super gelisah karena udah janji sama Mbak Meda akan sampai jam 16.00. Lalu sekitar 16.15 dia message dan nanya “udah di mana?” Duh gue ga enak banget karena udah bikin mereka nunggu. Akhirnya gue tambahin estimasi 20 menit lagi dan gue sertakan foto macetnya jalanan hari itu. Alhamdulillah dia bales “Ok, gapapa ditunggu kalo 20 menit.” Huaaaaa gue lega dan panik di saat bersamaan. Pantat rasanya kayak duduk di kursi panas ga bisa diem tenang, rasanya pengen loncat dari bus dan lari.

Begitu beneran sampai di Sheffield Interchange Station, gue dan Aria langsung lari udah kayak maling ayam dikejar warga. Kita tunggang langgang mencari Costa Coffe yang diancer-ancerin Mbak Meda. Duhh, aslinya itu gue udah persiapan pake kerudung yang rapih, lipstik terbaik, dan memakai bedak semampu gue, tapiii semuanya habis porak-poranda ketiup angin dan keringetan karena lari-lari. Ditambah gue baru inget bahwa kondisi jari-jari tangan gue yang lagi dikutek hitam putih gini.

OH! HI!
OH! HI!

Oh Ya Allah semoga Andrea Hirata ga berpikir bahwa gue adalah pemudi alay tanpa harapan masa depan yang cerah 😦 Kemudian, sampailah gue dan Aria di Costa Coffee dalam kondisi kumal, terengah-engah, berantakan, dan dicampur dengan deg-degan yang meningkat exponentially karena udah ngeliat Andrea Hirata dari jarak 10 meter. Dalam hati gue bilang, “Ohhh kayak gini ya rasanya para peserta reality show ‘MIMPI KALI YE’ jaman dulu itu?”  Hmm.. dan sesungguhnya gue khawatir  kita bakal kehabisan bahan obrolan, takut beliau bosan atau apalah.. Eh ternyata malah kelebihan bahan obrolan, haha.

OK! Dimulailah kita bersalam-salaman, minta maaf karena udah bikin menunggu, lalu ngucapin selamat idul fitri, dan kenalan. Sebelum ngobrol gue kasihin bungkusan makanan yang kita bawa tadi itu dan diluar dugaan ekspresinya si Ikal priceless sekaliiii, bungkusannya langsung dia peluk, dan Mbak Meda nya juga seneng pas tahu itu makanan Indonesia. Alhamdulillah mereka berkenan atas upetinya haha.

20150717_165432_HDR

Kemudian kita start ngobrol mengenai buku-buku beliau, gue bercerita tentang awal mulanya gue tertarik dan baca, lalu gue juga menunjukkan part-part mana yang gue suka dan menginspirasi dari novel-novelnya. Andrea Hirata menanggapi dengan baik sekali, padahal gue udah takut aja beliau bosen sama antusiasme mahasiswa yang pastinya berkali-kali dia lihat sebelumnya. Kita ber-4 saling cerita tentang banyak hal, mulai dari beasiswa, dunia pendidikan, semangat laskar pelangi, bidang masing-masing (gue iklan, Aria transport, Ikal telekomunikasi, dan Meda tentang musik serta pendidikan anak-anak).

mungkin dalam hati si Ikal bilang "berisik betul anak perempuan ini"
mungkin dalam hati si Ikal bilang “berisik betul anak perempuan ini”
antusiasme membuncah
antusiasme membuncah

Kita tentunya juga bahas mengenai masa lalu dan nostalgia nya Andrea Hirata di sini. Oiya, ngomong-ngomong tentang masa lalu, beberapa jam sebelum ketemu gue dan Aria ternyata Andrea berkunjung ke daerah tempat dia tinggal dulu di London Road, Sheffield. Ditemani Mbak Meda, mereka mencari Zahid, si landlord nya Ikal yang dulu (hal 284 di buku Edensor). Ini juga ajaib karena secara random mereka nanya orang-orang sekitar London Road, “Do you know anybody named Zahid?” nanya ke sekitar 5 orang yang akhirnya mengarahkan mereka ke masjid. Di jalan menuju masjid, mereka tanya lagi sama seseorang  “Do you know anybody named Zahid?” dan orang itu jawab, “ZAHID!” sambil nunjuk ke dirinya. Waaah dan ternyata itulah sang Landlord yang dicari dan mereka ngobrol-ngobrol juga mengenang masa sepuluh tahun yang lalu.

Di waktu obrolan kita yang mestinya cuma 45 menit namun jadi 3 jam itu, ada poin-poin yang gue highlight dari Andrea Hirata:

1. Beliau tertarik sekali dan juga turun tangan dalam perihal pendidikan anak Indonesia. Berkali-kali dia bilang kalau orang-orang pintar di negeri ini diam saja dan tidak berkontribusi, ya siap-siap aja di Indonesia terjadi kebodohan yang massive.

2. Para penerima beasiswa yang dikirim belajar ke luar negeri ini sebetulnya tantangannya berat, karena mereka tidak hanya harus struggling belajar di negeri orang, tapi juga mereka nanti harus kembali ke negeri sendiri dan melawan arus besar yang seringkali melenyapkan mimpi-mimpi besar mereka ketika di luar negeri.

3. Tidak jarang orang dikirim sekolah ke luar negeri, sedangkan dia sudah tahu bahwa ini hanya akan menjadi semacam piknik saja. Piknik Intelektual.

4. Menulis itu penting. Penting sebagai legacy kita, dan penting karena dari situ kita bisa sharing dan menginspirasi orang-orang atas pengalaman yang sudah kita jalani. Tidak ada itu tulisan remeh-temeh, semua pasti ada konteksnya. Mulailah menulis!

5. Andrea Hirata ternyata lulus dengan DISTINCTION waktu masa masternya, Hah! Di bagian ini gue kagum 6 detik, lalu selebihnya miris melihat diri gue sendiri yang boro-boro distinction, dapat passed atau merit aja udah tertatih-tatih 😦

Yaah begitulah 3 jam kebersamaan yang kita habiskan bersama. Ditutup dengan Mbak Meda yang baik banget ngasih kita CD “Hai Ayah” dan “Laskar Pelangi” yang udah ditandatangani pula. Kemudian gue menyerahkan selembar postcard gambar library Brotherton di Parkinson Building di University of Leeds, kampus tempat gue belajar sekarang. Di belakangnya gue tulis, “Your dream leads me here. Thank you.” Gue juga minta ditandatangani buku Edensor yang gue bawa dari Indonesia 🙂

Idul Fitri macam apa iniiii?! I'm beyond happy :)
Idul Fitri macam apa iniiii?! I’m beyond happy 🙂

Kemudian kita keluar dari Costa Coffee dan menuju arena City Hall Sheffield sekedar menikmati cuaca Sheffield yang lagi bagus, cerah, terang, ceria, yaah kayak suasana hati gue waktu itu hahaha 🙂 Kemudian si Ikal mengajak foto-foto lagi di dengan latar belakang City Hall dan daripada repot minta tolong orang, kita akhirnya did some shameless selfie moments.

ini asli gue ajak acting ngobrol asik, si Pakcik bersedia aja loh haha
ini asli gue ajak acting ngobrol asik, si Pakcik bersedia aja loh haha
Meda Kawu is very fun to be with!
Meda Kawu is very fun to be with!
selfie yuk
selfie yuk
Sheffield, we are in love!
Sheffield, we are in love!

Setelah itu kita mengarah ke halte bus untuk mereka menuju ke penginapannya dan ketika bus nya hadir, di situlah kita berpisah. Mereka berencana ke Edensor keesokan harinya dan Andrea Hirata akan nostalgia di Desa Inggris kesayangannya itu setelah 10 tahun lamanya. Oh and update, sore hari setelah mereka dari Edensor gue kembali kontak dengan Mbak Meda dan beliau mengirimkan foto si Ikal yang sedang berpose dengan latar belakang Edensor. Aaaaw magical moment. Sorry though, I can’t share the photo since I haven’t asked for permission yet.

Jadi, begitulah cerita tentang SKENARIO TUHAN yang super random tapi bikin super bahagia ini. Ini pas ngetik blog ini aja, gue masih merasa surreal. Ya coba silakan aja bayangin siapa sih yang menyangka bakal dapat kesempatan buat ngobrol panjang kali lebar sama orang yang karya-karyanya berpengaruh besar dalam hidup? 3 jam non-stop tanpa interupsi, di hari idul fitri dan di Sheffield pula – kotanya Andrea Hirata-. Nih ya diulang sekali lagi: ngobrol panjang lebar 3 jam non-stop sama Andrea hirata di hari Idul Fitri, di Kota Sheffield pula. TUH!!! SIAPA YANG NYANGKA COBA?? Bener-bener ya skenarionya Tuhan itu di luar akal manusia. Kalau mengutip kata-kata Arai di bukunya Andrea Hirata, “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.”

mandatory pose
mandatory pose
bahagia level 250!
bahagia level 250!

Idul Fitri time is well spent! Alhamdulillah Yaa Bari’!

Advertisements

5 thoughts on “Meeting him in his very own place

  1. It becomes such a great story when you posted here. thank you for the short meeting but a long lasting friendship (i am sure) ❤️❤️❤️❤️

  2. I’m Megan from IDNtimes. We would like to feature your original photos as part of our content. The credit’s still yours and we will put the backlink to your blog. If you feel uncomfortable, please tell us at tania@idntimes.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s