Tulisan 4 tahun yang lalu

Lagi bongkar arsip email lama, lalu nemu tulisan ini. Tertanggal kisaran Desember 2011. Pas dibaca lagi ternyata ini tentang cerita gimana dulu awalnya gue mulai berhijab. Karena di social media lagi trend nya hashtag #throwbackthursday, nah gue post aja ya di sini. Berikut ini tulisannya, hehe

Saya lahir 21 tahun yang lalu pada tanggal dan bulan yang sama dengan ulang tahun Ki Hajar Dewantara. Waktu itu, sudah 16 tahun saya hidup di dunia, namun masih belum menjalankan perintah Allah untuk menutup aurat. Hingga akhirnya sebelum usia berganti menjadi 17 tahun, Segala Puji Bagi Allah, Ia memberikan hidayah kepada saya yang bandel ini.

Sebenarnya niat untuk berhijab sudah lumayan lama saya miliki. Namun, ada-ada saja alasan yang membuat saya akhirnya mengulur-ulur waktu sehingga berhijab pun tertunda. Untungnya masih dikasih umur ya sama Allah. Alhamdulillah.

5 Februari 2007. Itu adalah hari pertama saya mengenakan hijab yang Insya Allah akan terus sampai akhir hayat. Meskipun kita tahu bersama bahwa berhijab itu adalah perintah Allah yang sudah sangat jelas tertulis di Surat Al-Ahzab ayat 59, namun itu belum membuat saya serta merta patuh dan segera memakai hijab. Manusia ini memang  kadang tidak sadar diri, atau bahasa gaulnya songong. Dikaruniai akal oleh Allah, eh malah digunakan untuk mengakal-akali perintah Allah. Saat itu saya berpikir, jika berhijab sekarang maka saya tidak bisa lagi bergaya sesuai fashion, menjadi cupu, panas, gerah, aktivitas jadi ribet, dan lain sebagainya. Satu hal yang seringkali menjadi alasan kuat menunda berhijab adalah “hati dulu deh yang dijilbabin, baru badan. Daripada udah pake jilbab tapi kelakuan masih begajulan kan.” Ternyata memang benar firman Allah dalam Surat Al Kahfi ayat 54 yang menyebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang banyak membantah.

Sejak 2005 hingga awal 2007, saya nge-kos di Pasar Minggu belakang SMA 28 Jakarta karena Papa harus mutasi tugas ke Gorontalo mengingat profesinya sebagai polisi. Jadilah Mama dan kedua adik saya ikut menetap di Gorontalo selama kurang lebih 4 tahun. Karena sudah SMA dan sulit jika harus beradaptasi dengan sistem belajar yang standarnya berbeda-beda di tiap pulau, akhirnya saya memutuskan tinggal di Jakarta sendiri sampai lulus SMA. Nah, di masa nge-kos dan jauh dari orang tua inilah justru kegalauan untuk behijab semakin membesar. Mama tidak pernah menyuruh atau bahkan memaksa saya berhijab. Beliau justru cenderung menyarankan ‘nanti saja’ karena Mama khawatir saya masih labil dan nanti malah ‘buka-tutup’. Alasan beliau memang masuk akal saya pikir ketika itu.

Saya punya kebiasaan yang tidak biasa sebelum tidur. Setiap kali setelah baca doa sebelum tidur, saya seringkali membayangkan bagaimana jika besok pagi saya sudah tidak bangun lagi? Bagaimana jika ketika ‘terbangun’ saya sudah berada di dalam tanah? Bagaimana jika ketika ‘terbangun’ esok hari saya sudah terkafani? Begitu terus dan berbagai macam ‘bagaimana’ yang lainnya.  Biasanya bayangan-bayangan seperti itu muncul dan karena sudah terbiasa, ya tidak terlalu gimana-gimana. Tapi memang jika Allah sudah berkehendak, tidak satupun yang mampu menghalangiNya. Puncaknya, tanggal 1-3 Februari 2007, saya galau parah. Entah bagaimana saya sangat takut meninggal dan belum sempat menutup aurat. Benar-benar ketakutan seperti dalam kondisi sangat terdesak. Keinginan memakai hijab tidak terbendung lagi. Lalu apa yang bikin galau? Nah, inget kan kalau saya sebut di atas bahwa Mama sebenarnya kurang setuju jika saya pakai hijab waktu itu. Jadi saya agak takut waktu mau menyampaikan ini ke beliau, hingga akhirnya saya pilih metode sms, karena kalau lewat telepon takut mewek. Setelah itu, saya menelepon sahabat saya yang berbeda sekolah, namanya Sartika, dia Alhamdulillah sudah berhijab sejak SMP tanpa melalui proses kegalauan semacam saya. Lalu saya curhat dengan dia mengenai keinginan berhijab dan kekhawatiran yang saya punya. Curhat pol sampai nangis.  Mana waktu itu belum punya pakaian seragam sekolah yang panjang, jilbab, dan segala macamnya. Sartika menguatkan saya dan mendukung sepenuhnya, malah dia bersedia memberikan jilbab dan beberapa pakaian panjangnya untuk saya.

Keesokan harinya, tanggal 4 Februari 2007, sepulang sekolah saya menyambangi sahabat saya yang satunya lagi, namanya Puti. Alhamdulillah dia juga telah berhijab semenjak kelas 1 SMA. Secara impulsive, saya minta tolong ditemani ke Pasar Minggu untuk beli kemeja sekolah dan rok yang panjang serta 2 lembar jilbab putih yang tidak ribet alias langsung masuk alias bergo. Jadilah siang itu kami berpetualang di Pasar Minggu dan berhasil mendapatkan semua yang dibutuhkan.

Akhirnya saudara-saudara, 5 Februari 2007, di pagi hari yang cerah ada seorang gadis belia berhijab yang datang (sengaja) kepagian ke sekolah dan duduk dipojokan kelas, agak deg-degan menunggu reaksi teman-teman terhadap “penampilan baru” nya hehehe. Terimakasih Ya Allah. ‘bendera’nya sudah berkibar di kepalaku, semoga segera berkibar juga di hatiku.

Sejauh ini Alhamdulillah saya belum (dan jangan sampai) menemukan kesulitan yang disebabkan oleh hijab ini. Namun, ada rumor yang pada dasarnya cukup mengganggu saya, yakni mengenai aturan di beberapa perusahaan multinasional yang tidak berkenan jika staff nya ada yang mengenakan atribut keagaman. Hal ini juga sempat dibahas oleh dosen di kampus dan teman-teman, ternyata memang benar adanya. Padahal salah satu perusahaan impian saya adalah perusahaan multinasional yang kabarnya juga menganut aturan tersebut. Namun saya tidak mengizinkan hal ini mengganggu pikiran lebih lama. Bukankah Allah telah menciptakan rejeki bagi hamba Nya yang berusaha? Bahkan seekor cicak pun telah ditentukan rejekinya oleh Allah, apalagi kita. Lagipula saya selalu yakin bahwa Allah tidak mungkin membiarkan hambaNya kesulitan dalam proes mengikuti ketetapan yang telah Ia buat.

Oya, lalu bagaimana dengan hal-hal lebay yang saya takutkan di awal? Seperti tidak bisa lagi bergaya sesuai fashion, menjadi cupu, panas, aktivitas jadi ribet, dan alasan pamungkas “hati dulu deh yang dijilbabin, baru badan. Daripada udah pake jilbab tapi kelakuan masih begajulan kan.” Yak. Ternyata ga segitunya amat kok jeung-jeung sekalian. Awal-awal sih emang cupu gabisa bergaya, lha wong jilbabnya cuma punya 2 lembar warna putih semua, tapi ‘ngga lama kemudian koleksi jilbab warna-warni pun segera berdatangan, ada yang beli sendiri, dikasih teman rohis, dan yang paling menyenangkan adalah sharing koleksi jilbab dengan Mama. Iya, akhirnya beliau ‘ngga kaget lagi saya pakai hijab dan malah senang.

Kalau awalnya saya takut gerah dan panas ketika berhijab, itu memang benar. Tapi, nilai plus nya adalah kulit saya tidak mudah terbakar saat kegiatan outdoor. Dan lagipula, api neraka itu panasnya lebih dari apapun yang panas di dunia ini, bukan? Kalau aktivitas jadi ribet, itu ternyata kekhawatiran yang tidak terbukti. Karena setelah itu kegiatan saya malah tambah banyak, semakin lincah seperti bola bekel. Ditambah bonus, ‘ngga perlu repot tarik-tarik belakang baju supaya tidak kelihatan ketika lagi nunduk mau naik/turun angkot. Nah, kalau untuk alasan pamungkas buatan syaithan yang saya tuliskan di atas, akhirnya saya menemukan jawabannya: kalau menunggu sampai kelakuan kita yang benar, maka dalam hidup ini tidak akan pernah kita pakai hijab sama sekali.

Oya, selain keuntungan di atas, ada lagi nih. Kalau dulu setiap lewat depan alay-alay atau abang-abang terminal biasanya selalu di suit-suitin jahil. Nah sekarang kejahilan mereka itu berubah menjadi sapaan ”Assalamualaikum Bu Haji”. Bayangkan deh, dari digodain jadi didoain, asik yaaa? Hehehe….

Nah, bagi saudariku sekalian yang masih galau berhijab, saya punya beberapa alasan yang Insya Allah bisa memperkuat tekad untuk berhijab ya. Kurang lebih sebagai berikut :

  • Jangan takut sama alasan panas dan gerah serta tidak bisa bergaya modis lagi. Karena dengan berhijab Insya Allah kita terlindung dari matahari dan dari mata laki-laki. Lagipula fashion muslimah kini semakin inovatif dan berkembang.
  • Selama ini Allah memberikan kita oksigen secara gratis, kebutuhan kita dicukupkan, kita bandel terus pun tapi Allah tetap sayang. Nah, masa’ sekedar melaksanakan perintahNya untuk menutup aurat aja kita tidak mau? ‘Ngga mau dengan ‘ngga mampu itu beda ya J
  • Terakhir, dan ini penting banget buat kita semua: Jangan sampai kain kafan yang menjadi penutup aurat kita untuk pertama dan terakhir kalinya.

Allah memberikan perintah yang sudah dipertimbangkan detailnya untuk kebaikan kita. So, ayo bulatkan tekad. Mari menjalankan perintah Allah agar hidup penuh rahmat. Hijab itu ibarat standar minimal wanita yang sudah bersyahadat.

Yak begitulah sejumput kegalauan gue waktu muda dulu (aseik, sekarang macem udah tua banget emangnya?) Kalo diitung-itung berarti 5 Februari 2015 kemarin gue 8 tahunan sama si hijab. Wihiiii semoga bisa selamanya! aamiin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s