Kesempatan keberapa?

Kenapa ada kesempatan kedua? Kenapa coba?

Mungkin, supaya orang belajar menghargai.

Mungkin, supaya orang ngerti pentingnya persiapan.

Atau mungkin malah bentuk ketakutan semesta akan melewatkan potensi-potensi baik yang ga lolos di kesempatan pertama?

Gue adalah salah satu orang yang hidupnya ditopang banget sama kesempatan kedua. Gue adalah manusia yang hidup pada garis serba nyaris. Hoki gue super tipis yang seringkali bikin gue meringis sampai hampir nangis. Let’s see: Gue gagal masuk UI dengan jurusan impian (Komunikasi) di kali pertama seleksi masuk perguruan tinggi, waktu itu namanya UMB. Lalu ajaibnya hadirlah kebijakan pemerintah untuk mengadakan seleksi gelombang kedua di periode yang sama, namanya SNMPTN. Baru di situlah gue lolos dan masuk ke jurusan yang gue mau. Setelah itu, gue lulus S1 dengan predikat cum laude IPK 3.51 (tipis banget, kan?), digoyang dikit juga udah turun derajat sih itu predikat. Kemudian gue gagal di kali pertama ikut seleksi beasiswa LPDP, terus gue coba lagi dengan keukeuh di 3 bulan setelah kegagalan itu, alhamdulillahnya lolos. Oiya gue juga pernah ikut semacam tes TOEFL nya bahasa perancis gitu, namaya DELF. Gue lulus dengan score yang sangat nyaris, katakanlah batas lulusnya tuh 50 ya, nah gue lulus dengan  nilai 50,5. See? Betapa gue hidup di ambang batas.

Kadang gue tuh bingung, orang yang hidupnya sangat bertumpu pada kesempatan kedua dan terjuntai di ambang batas gitu tuh menunjukkan si orang tersebut seperti apa? Untuk ini, gue punya dua asumsi:

1. Orang tersebut sebenernya bisa lebih gemilang lagi, seandainya aja dia lebih niat, lebih usaha, dan lebih well-prepared di kesempatan pertama.

2. Orang tersebut sebenernya tidak se-kompeten itu, tetapi dianya aja yang memang lebih ngeyel, lebih ‘maksa’, dan lebih usaha untuk tetap menuju apa yang dari awal dia targetin.

Ga paham juga sih gue mana yang lebih tepat di antara kedua asumsi di atas. Mungkin tergantung masing-masing orang menilainya. Yang jelas, diberi kesempatan kedua itu selalu dan selalu merupakan hal menyenangkan. Ibaratnya tuh lo dikasih nyawa kedua untuk sesuatu yang lo pengenin banget. Asik, kan?! Main game mario bross aja seneng kalo nyawanya nambah abis makan jamur, lah apalagi ini yang hidup beneran dan ga perlu repot makan jamur..

Nah, biasanya orang yang pernah ngerasain gimana nikmatnya dikasih kesempatan kedua, ke depannya dia juga akan cenderung untuk memberikan kesempatan kedua pada orang lain. Cuma, masalahnya ntah gimana memberikan kesempatan kedua itu lebih banyak resikonya dan lebih banyak pertimbangan untung-ruginya. Soalnya gini, ketika lo memberikan kesempatan (lagi) kepada orang yang sama dalam hal appaun itu, berarti sebenernya lo udah mempertaruhkan waktu lo, kepercayaan lo, harapan lo, dan ego lo juga sekalian. Semuanya itu lo bungkus dalam satu paket bernama “kesempatan kedua” dan lo kasih ke orang tersebut secara cuma-cuma. Tanpa garansi, tanpa kontrak. Ga ada yang bisa menjamin si paket itu akan dia perlakukan seperti apa. Ga ada juga yang bisa lo lakukan ketika ternyata akhirnya lo “kalah bertaruh” sama orang itu. Ya anggap aja kayak kalah judi. Lo sedih, lo kecewa, lo kesel, that’s it. Makanya orang yang udah pernah dapet kesempatan kedua sekalipun bisa bertransformasi jadi pelit ketika tiba gilirannya dia yang akan jadi pemberi. Oya, satu lagi yang bikin pemberi kesempatan kedua menjadi lebih ribet adalah diperlukannya satu kemampuan, yaitu kejelian untuk melihat seberapa pantaskah si orang tersebut untuk kembali diberi kesempatan.

“[…] you’re willing to look past things and to give people second chances. But the thing is, Rose, some people don’t deserve them.”
Rebecca Serle

Hal yang tricky dari kesempatan kedua adalah dia memancing akan munculnya harapan pada yang ketiga, yang keempat, dan seterusnya. Orang jadi berpikir, kalo kesempatan bisa datang yang kedua, bukan berarti ga mungkin kalo setelah ini ada lagi dan ada lagi. Nah yang gini-gini nih yang suka mengecoh, energi dan fokus jadi kepecah yang seharusnya bisa full buat usaha maksimal tapi kepake sebagian buat ngarep dan berandai-andai. Oh.. Sungguh, manusia adalah makhluk yang gampang terdistraksi 😦

“Because this is what I believe – that second chances are stronger than secrets. You can let secrets go. But a second chance? You don’t let that pass you by.”
Daisy Whitney

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s