Edensor, you are no longer a myth

First of all, Edensor is pronounced as ” Enzor”. Gue juga baru tau setelah di Inggris. Emang gaya deh pokoknya lidah lidahnya orang sini. Well, sebelum masuk ke postingan sesungguhnya gue mau berterimakasih dan bersyukur banget sama Allah Yang Maha Luas. Alhamdulillah gue dikasih kesempatan buat menyambangi tempat yang selama ini cuma gue baca di buku dan lari-lari di imajinasi gue doang. Daaan… gue juga beterimakasih pada Andrea Hirata a.k.a Aqil Barraq Badruddin yang telah sukses menyusupi alam bawah sadar gue dengan semua novelnya. Jiwa raga dan psikologis gue bener-bener kemakan sama setiap kata yang dia tulis di novel. ASLI! se-kemakan itu :”) Novel-novel dia juga salah satunya yang bikin gue jadi punya mimpi, punya target, punya kemauan dan gue transformasi tahun demi tahun menjadi kebutuhan. Andaikata aspek-aspek hidup gue ini adalah kayu bakar, semua karya Andrea Hirata adalah apinya. Dia menyulut gue besar-besar. Susah padam. bahkan ga jarang meledak-ledak. Terimakasih 🙂

Diny Hartiningtias adalah seorang teman SMA gue yang pertama kali memperkenalkan gue pada novel perdananya Andrea Hirata, judulnya ‘LASKAR PELANGI’ awalnya gue males baca itu. Secara judulnya aja udah dangdut dan tipe penghayal yang ga realistis. Cover nya juga ga jelas arahnya mau ke mana. Tapi karena penasaran Diny segitunya sama novel itu, gue pun pinjam dan baca. Ternyata setelah gue baca sekitar 10 halaman, gue menjadi tidak sehat. Gue lupa laper, gue nahan pipis, gue tidur malem, gue di kamar terus, dan novel itu susah banget gue taro. Setengah jalan baca novel itu, gue pergi ke Gramedia dan beli sendiri novelnya, punya Diny gue balikin. Yak! Gue jadi posesif, harus punya! Di suatu waktu gue menemukan diri gue ketawa ngakak sampe keluar air mata, di lain waktu gue nangis sesenggukan sampe ulu hati gue sakit. Dan syndrom ini terus berlanjut sampai Tetralogi novelnya habis. Terimakasih Diny.

Empat novel itu secara berurutan adalah : Laskar Pelangi – Sang Pemimpi – Edensor – Mayamah Karpov. Nah di postingan kali ini gue akan fokus di novel ketiga. Buat yang belom baca itu semua tetraloginya. For dream sake! Please do! Well, jadii si Edensor  ini adalah nama sebuah desa di Derbyshire Inggris Raya. Desa ini adalah salah satu trigger semangatnya Ikal, si tokoh utama di Tetralogi itu (which is dengan sudut pandang pertama dan based on true story, Ikal adalah Andrea Hirata himself). Edensor adalah sebuah desa cantik yang dia baca dari sebuah buku berjudul translated “Andai Mereka Bisa Bicara”. Buku itu sangat deskriptif menggambarkan semua detail Edensor sampai-sampai si Ikal hapal di luar kepala. Ya gimana ga hapal di luar kepala, karena dia baca buku itu dari dia SD sampe S2. Tiap dia sedih, down, kangen, dll dia baca buku itu dan bolak-balik ngulang part indahnya Edensor. Sampai di suatu kesempatan di penghujung sekolah masternya, dia TANPA SENGAJA menemukan Edensor ini dalam wujud yang nyata, di Derbyshire, Inggris Raya. (Baca bukunya kalo mau tau detail).

Lah gue sebagai pembaca Tetralogi Laskar Pelangi ya otomatis juga tau deskripsi indahnya Edensor dan tertanam niat untuk bisa membuktikan dengan kedua bola mata gue kayak gimana sih nih desa. Alhamdulillahnya sekarang pas lagi sekolah di Inggris dan udah dari bulan lalu ngerengek rewel ngajakin temen-temen gue barengan ke Edensor ini. Hahaha to be honest lumayan perjuangan yang berat, karena mostly mereka ga ngerti itu Edensor tuh apaan, dan Pe Er banget kan gue harus jelasin semua cerita di atas ini dari awal buat yakinin mereka :’) akhirnya gue kirim-kirimin aja foto-foto Edensor dan gue bujuk rayu mereka. Sampai akhirnyaaaaa sodara-sodara! Tanggal 15 November ada 11 anak manusia berencana untuk setuju memulai perjalanan ke Edensor, Gue, jelas yang terbahagia! Provokasi berhasil dan gue mikir gokil juga ya,dengan kemampuan provokasi gini bisa nih gue mobilisasi masa buat demo di Jakarta :p

Namun, kebahagiaan seringkali hinggap terlalu lekas (halaaah..) satu persatu peserta menggugurkan dirinya sendiri dari list hingga H-1 yaitu 14 November 2015. Pelan tapi pasti, hati gue agak-agak robek. Udah ngeri ga jadi aja tuh. Tersisa 5 orang yang masih bertahan. Alhamdulillah 5-5nya ini ga patah arang dan tetep mau jalan. HOOORAY! Long story short, sampailah di pagi hari 15 November 2015 kita ketemuan di stasiun bus. Tujuan pertama adalah Sheffield. Dari Sheffield itu Edensor tinggal 1 jam saja 🙂 Jadi dari rumah gue (Leeds) ke Sheffield itu 40 menit ditambah sejam lagi ke Edensor. Nah buat yang suka googling dan nanya, bagaimana cara menuju Edensor. Here we go:

1. Dari kota manapun kamu berasal, book lah tiket (based on my experience) bus menuju sheffield.

2. Turun di stasiun bus sheffield interchange dengan penuh keanggunan.

3. Lanjutkan perjalanan dengan yakin memakai bus bernomor 218, tapi bisa juga bus no 215 atau 240.

4. Keluarkan uang dengan ikhlas sebesar 6 poundsterling untuk biaya bus di langkah no.4 (itu udah return ticket)

Dengan 4 langkah praktis tersebut lo mestinya udah nyampe di Edensor. Turunnya jangan heran, karena lo akan turun di pinggir jalan raya, dan pas nengok kanan, itu udah ada Gereja St. Peter yang menjadi gerbang awal dari Edensor. Waktu itu gue sampe di sana jam 11an siang. Langsung menuju Desa Edensor itu.

20141115_115001_HDR

IMG-20141115-WA0080

Sepanjang perjalanan itu cuaca dinginnya ngocol betul. Kabut super tebel. Khawatir banget sampe Edensor masih kabut dan malah gabisa foto. Tapi alhamdulillah lagi, kemudian hujan guyssss :’) rintik dan agak menderas dikit selama 15 menitan. Kabut pun hilang dan kami lanjut keliling desa Edensor. Ini yaa, desanya tuh lucuuuu. kecil dan efisien. Yang disebut desa di sini kurang lebih cuma 40 rumah, kira-kira 20 kanan 20 kiri dengan akses jalan di tengahnya. Impresi pertama gue adalah ” YA AMPUN INI KAYAK RUMAH-RUMAH DI NEGERI DONGENG”. Buat yang kecilnya suka baca dongeng pasti ngerti in syaa Allah. Jadi suasananya tuh kayak lagi di desa liliput. rumahnya dari batu, dempet-dempet, pendek, ada cerobong asep, banyak tanaman, dan taman-taman lucu di porch nya. Diem, anteng, gloomy, banyak bunga-bunga.

20141115_115518_HDR

20141115_120052_HDR

20141115_115932_HDR-1

20141115_121704_HDR-1

Di salah satu rumah bahkan ada jualan lucu gitu. Kalo di bayangan gue sih itu nenek-nenek berhati lembut gitu yang jual. Berbagai kue-kue seperti flapjack, shortbread, honey, cookies gituuuuu. Jual belinya pake sistem kejujuran, jadi dia nyiapin kaleng buat naro uangnya. Dan ditinggal gitu aja udah di teras rumah. Jadi ga ada penjaganya. Gue coba beli satu si flapjack banana chocochipnya. Enaaaaak! kue nya wangi khas kasih sayang nenek-nenek gitu :’)

lucu ya kayak main jual-jualan
lucu ya kayak main jual-jualan

Setelah jalan menyusuri desa ini sampe ujung sebelum hutan kita kembali ke arah St. Peter’s Church tadi dan menemukan ada sebuah cafe kecil namanya tea cottage. Bangunannya masih serupa rumah-rumahnya, dari batu, pendek, dan anget bangettttt. Dia basically jual cake dan teh gitu buat santai

20141115_123127_HDR

Puas liat-liat dan numpang nganget di tea cottage, kita lanjut mau ke situs selanjutnya. Jadi deket Edensor ini ada yang namanya House of Chatsworth. Istananya The Duke and Duchess of Devonshire gitu. sebelum sampe ke sana kita harus nyebrang jalan yang tempat kita turun bus tadi dan mendaki sedikit bukit teletubbies.

Petunjuk buat ke Chartsworth
Petunjuk buat ke Chatsworth

Di perjalanan menyusuri bukit kecil itu kita sambil nyari spot yang sesuai sama yang digambarin di cover bukunya Edensor. Jadi kita coba manjat agak lebih tinggi dan nemu satu bangku kayu kecil yang backgroundnya bisa mirip sama yang ada di cover Edensor itu. Masing-masing bocah pada foto-foto dengan muka syahdu nya niruin ekspresi cover. Gue? Ya gabisa lah muka syahdu hahaha udah yang paling girang gue bisa nyampe Edensor. Jadi fotonya cengangas cengenges semua.

aaaaak! aku bergetar!
aaaaak! aku bergetar!

Terus kita lanjut menuju Chatsworth. Kira-kira 10 sampai 15 menit kemudian kita tersuguhkan pemandangan yang owyeah! Sesosok bangunan angkuh kusam tapi megah keliatan dari kejauhan. Di depannya ada kolam besar banyak bebek dan ada domba-domba shaun the sheep di rumput sekitarnya. Jadi buat pecinta Jane Austen dan Pride & Prejudice, si House of Chatsworth ini adalah syurgaa! Kenapa karena ini adalah rumahnya si Mr. Darcy yang angkuh namun baik hati itu 🙂 Di sini juga Austen dapet inspirasi buat tokoh-tokohnya. Kemudian semakin dekat, loh kok heboh??? banyak banget mobil parkir, gilak ada apaan?

gaya menunuk ke arah masa depan
gaya menunjuk ke arah masa depan #tsedaaap

Begitu kita makin deket ternyata di sana banyak banget orang. Pada mau masuk ke Chatsworth nya dan juga PAS BANGET lagi ada bazaar gede-gedean kayak christmast market gitu jual-jualan sebelum christmast. Isinya macem-macem dari makanan, baju, minuman, sepatu, live music, dan masih banyak lagi. Kita skut banget foto sana sini dengan background Chatsworth dan kolam indah beserta karpet hijau yang terbentang luas. Karena masuknya harus bayar 12 pound jadi kita menikmati dengan cara lain seperti ini deh. hehe.

Mr. Darcy's servants
Mr. Darcy’s servants
laper banget, kangen bebek selamet :(
laper banget, kangen bebek selamet 😦
Keriaan di bazaar Chartsworth
Keriaan di bazaar Chatsworth

Setelah lelah hore-hore dan mampir ke giftshop buat beli postcard, kita akhirnya bersiap pulang dan jalan ke tempat pemberhentian bus yang pertama dateng tadi. Sambil nunggu bus nya, kita masuk ke Edensor lagi, hahaha belom puas. Terus kita beli kue si nenek lagi dan sekalian nuker duit kembalian!! hahaha dasar . Overall gue seneng dan puas. Apalagi di bus gue sambil baca deskripsinya Andrea Hirata tentang perjalanan menuju Edensor tuh pretty much the same sama yang gue liat. Bus butut, pohon cemara sepanjang jalan. Begitu pohon cemaranya habis, langsung keliatan landscape nya Edensor dengan ujung lancipnya St. Peter’s Church yang menjulang 🙂

Cuma satu sih yang kurang, gue nyari nenek-nenek tapi ga nemu. Mau nanya “would you please tell me the name of this place?” Dan dia supposedly jawab, “sure lof, it’s ENZOR!”

p.s: pas sebelum bus berangkat ke Edensor, di sheffield interchange gue menemukan kampus Sheffield Hallam Universty. Kampusnya Ikal, kampusnya Andrea Hirata setelah Sorbonne :))

Prof. Hopkins Turnbull, are you there?
Prof. Hopkins Turnbull, are you there?
Advertisements

2 thoughts on “Edensor, you are no longer a myth

  1. Pingback: The Road (Leeds) to You | what has happened?

  2. Pingback: Meeting him in his very own place | what has happened?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s