My Own Version of Mothers Day

I did not love my baby at the first sight. Or instantly. Or right away. Harsh truth but it’s true. All those mom and baby stories that I read always glorify how you can fall in love with someone you haven’t met yet. Good for them. But it just didn’t happen to me.

In the first week I was shrouded by worried feeling, fright, and massive anxiety. I caught myself staring at my baby’s chest just to make sure he is breathing. I looked at him with so much pity. So vulnerable. Kept repeating in my head “Did this creature just come out of my body?” Also.. “Oh baby why are you so tiny and fragile.” Or.. “Lord, how could you sent this little human to depend on me 24/7?” I knooow it is indeed a blessing to be trusted by God to have children but what I never aware is that the overall process is nothing light and playful. I dreamed of having children ever since I got married, even way before that. Nowadays I fully realize that a dream which came true can also be overwhelming.

Up till now I am still torn between being a good mom and embracing my genuine feeling. I messed up in so many ways and levels (the 3rd day of being a mom, I accidentally spilled fresh hardly pumped 20ml of colostrum). I try hard not to fall sick, gulp every herbal potion I can, avoid most of my favorite foods & drinks due to my baby’s allergy, and turn down some exciting challenges. I do everything I never learned to do even the most impossible ones.

Meanwhile, my husband does everything in his power to ease my role as a new mom. But still, I constantly need more. Sometimes I secretly wish he can breastfeed too, gosh breastfeeding and pumping are tiring! I nag a lot when he comes home late. I ask him to bring me delish meals, snacks. I criticize the way he carries our baby, the way he talks to our baby, the way he plays with our baby. I complain about everything to him. Those are too much from my side that I forget he is new too. He is a new dad trying to tune the balance as well. Sorry, love.

I got back to work to feel whole again, also to help my husband provide the best facilities we can for this soft baby and dinky family. There were a lot of moments I rushed home after work done, cannot wait to cuddle with baby. But there were also times when I did not feel like going home after office hour. I can imagine already what my fatigued-self have to deal with; play with him, breastfeed him, read him a book or two, feed my self, mourn over my severe hairfall, grieve over my bold permanent stretchmark, yada yada yada… I actually need more time for myself. Several nights I did sit in the office for extra 30 min. Then I cried on the bike coz I felt guilty for delaying my journey home. Freak!

But when I finally home and hold my baby again, look at those tiny hands grasp my pajamas, those sparkly eyes lit up, that toothless smile stretches wide, oh.. my heart swells! I feel I can directly get back right on track. My baby looks at me as if I am his entire world despite how clumsy I am. I can never thank God enough :’) Ma syaa Allah.

These days, society won’t bother giving us space to mother with our own styles. Judgement and suggestion will still be shoved down into your throat even you never ask for it. As much as I say “I don’t care” to those stereotypes, I still sob at night doubting if I am good enough, if my choices fit this family, if my baby meets his needs properly.

Oh Well, Happy Mothers Day!
Stay solid and strong for our children deserve a happy mom, our husbands deserve a sane wife, and ourselves deserve to feel good.

 

 

P.s:
Yes, I re read these paragraphs just to make sure I don’t sound too harsh / look like too bad of a mom / seem ungrateful enough . Heck, scratch it! I need to let it out. Guess I’m just gonna click ‘publish’.. now…

Ale Ale(rgi)

Ale alergi 😦

Menjelang dia usia dua bulan, gue menemukan semacam bintik bintik merah di kedua pipinya. Awalnya gue kira karena keringet, dikasihlah baby cream. Eh ga kunjung membaik. Kata nyokap, itu kena bekas ASI meler meler ga dibersihin. Jadilah tiap abis nenen gue bersihin pipi dan sekitar mulutnya pake kapas basah. Eh ternyata ga membaik juga. Yah sebagai ibu ibu muda binti panik binti lebay tentunya gue udah berselancar ke sana ke mari di dunia google dan grup mommies yang bahas tentang pipi merah merah ini. Kecurigaan gue jadi mengerucut ke alergi kandungan ASI based on apa yang gue makan. Hmmm.. Gue ceritain ke nyokap dan suami tapi pada bilang (sejenis menenangkan) “enggaklah bukan alergi itu in syaa Allah” Err.. Tapi feeling gue yakin ini alergi.

Sampai akhirnya, di suatu pagi merah merah pipinya berubah menyeramkan, kayak ngelupas dan meradang gitu. Yah layaknya seorang peserta acara reality sho -Jika Aku Menjadi-, nangislah gue menatapnya dengan air mata berlinang-linang di pipi. Si Ale mah diem aja santai bengong kadang senyam senyum. Lalu gue menggiring Sandy dan Ale buat ke dokter periksa ajalah daripada gue sutrisno kannn. Eh bener pas dicek ternyata alergi kandungan ASI. Biasanya ada 4 alergen (penyebab alergi) yang mesti dicek. Jadilaaah gue mesti puasa 2 mingguan untuk ga makan 4 hal berikut:

1. Susu dan turunannya. Ini berarti susu fresh milk, UHT, pasteurisasi apapun itu, yoghurt, keju, cream, dan hal-hal lezat kecintaan lambung gue lainnya yang mengandung es u su es u su.

2. Telur. Ini si makanan anti gagal mau dibuat jadi apapun kan. Makanya nyaris selalu ada di mana-mana. Gutbai kue, cake, puding, mie, martabak, dan anugerah kuliner lainnya yang mengandung teluyyy.

3. Kacang-kacangan. Katanya sih yang ultimate alergen itu adalah kacang tanah, cuma karna ini tahap awal pencarian alergi jadinya gue disuruh hindari semua kayak kedelai, almond, mede, kacang panjang, dan kacang lupa kulitnya. Dadah dulu sama bumbu sate, bumbu somay, silverqueen, susu almond, susu kedele, tahu tempe, dan kroco kroconya.

4. Seafood. Ini kan ibarat sekeluarga keraton turun temurun ya banyak banget silsilahnya. Ada udang, cumi, kerang, ikan, lah ikan aja ada sejuta jenis haha ncur gatau lagi deh warga laut lainnya. Ma syaa Allah. Merana dulu deh tinggalin salmon kekasihku, baby octopus, ubur2, udang galah keju. Katanya sih udang ya yg proteinnya paling tinggi dan rentan jadi alergen. Tapi lagi-lagi gue mesti puasa tanpa kecuali.

Nantinya setelah 2 minggu gue puasa itu dan pipi Ale kembali mulus, baru gue cobain lagi satu per satu selama 3 hari each nya untuk lihat apakah ada reaksi alergi lagi.

Sooo, setelah gue menjalani pertapaan selama sekian minggu, alergi apakah si Ale? Nah begini perjalanannya…

Susu. Iya, susu menjadi yang pertama gue coba lagi. Di suatu hari Selasa yang cerah, gue mulai dengan minum susu ultra kotak rasa coklat. Disedotan pertama, kepercayaan diri gue yang telah lama pudar menjadi berwarna cerah! Annisa Pratiwanda sang budak boba tentunya tersiksa juga ga minum keriaan milk tea selama 2 minggu gitu lhooo. Jadi hari kedua gue cobalah xing fu tang yang hitzz itu. Hari ketiganya gue minum susu yg suka dijual di kulkas supermarket dan gue makan pake sereal sereal yang juga mengandung susu. Tentunya dalam menikmati semua selama 3 hari itu gue sambil was was liatin pipi Ale dan sekitar dagu dan mukanya. Hasilnya? Alhamdulillah aman! Uyeah.

LANJUT

Telur. Nah walopun susu udah aman, bukan berarti gue lanjut konsumsi susu pas lagi nyobain telur, jadi beneran steril. Susu ya susu aja, telur ya telur aja, gitu. Pas nyobain telur ini yang gue makan pertama adalah cem cemanku sejak dulu: ketupat sayur pake telor bulet di CFD area. Gerobaknya biru, abangnya kumisan (waw penting). Terus gue lanjut menyambangi mantan terindah: Marutama Ramen dengan Tamago yang seksi itu. Allah, tolong adakan Tamago di surga ya. Dan masukkanlah hamba ke surga. Aamiin. Abis itu gue beli cemal cemil mengandung telur kayak D’Crepes. Sepet juga makan dikit 1 slice coklat cake ultah bokap. Nah hasilnya bagaimana? Yak! Muncul merah-merah lagi di pipinya Ale. Alhamdulillah ala kulli hal. Oke berarti telor nih. Noted.

SEBELUM LANJUT KE SEAFOOD, gue harus tunggu pipi Ale mulus kembali tentunya biar ga nyaru sebab akibat alergen yang mana.

Seafood. Sesungguhnya gue mau mulai kacang dulu karena lebih simple kan dari silsilah keluarga seafood. Akan tetapi, gue kebelet rindu sama salmon sashimi. Rindu menggebu yang menyerbu gitu. Yaudah deh sebagai manusya yang kalah perang sama nafsu, mulailah gue coba seafood diawali salmon baik mentah maupun matang. Abis itu hari berikutnya mencoba ikan bawal dan makan pempek yang mengandung tenggiri. Ada juga pindang patin Sari Sanjaya yang menggairahkan. Yes! Bu Susi in syaa Allah bangga sama gue karena suka makan ikan. Abis itu, hari ketiganya gue makan udang saos padang. Indah banget sih coy dunia ini dengan kehadiran salmon dan udang. Alhamdulillah Ale aman nih sama seafood. *sujud syukur

Tersangka terakhir adalah acang-kacangan. Gue sikat segala jenisnya mulai dari kedele, almond, mete, sam8pe kacang panjang juga gue jadiin tersangka dan gue makan. Alhamdulillah gapapa dia. Eh pas gue coba makan somay, sate, ketoprak, yang pada pake kacang tanah gitu, muncul deh merah-merah lagi di pipinya. Ya Allah patah hati Ibuuk, Nak. Alhasil kesimpulannya jadi telur dan kacang tanah. Emang sih pernah baca sharing dari grup emak-emak gitu di antara smeua kacang-kacangan yang paling rentang tuh kacang tanah karena proteinnya paling tinggi. Yah sebagai peanutbutter fansclub, gue bersedih walau ga sesedih yang versi telur karena turunannya telur jauh lebih banyak.

Di masa masa kelam alergi Ale ini sesungguhnya adalah masa di mana ego gue diuji sebagai seorang ibu. Gue yang selama ini hidup bebas makan enak ini itu ga ada pantangan atau alergi apapun, tiba tiba mesti stop semua makanan minuman kesukaan. Rasanya bener bener kering kerontang, hampa, sebel, ga terima. Yang alergi siapa, yang dipantang makanan siapa. Wauuu sungguh egoisme gue mencuatt ke ubun ubun. Sering banget gue cranky karena kangen makanan minuman enak. Tapi gabisa kesel lama lama juga karena ya gimana kan si bayi cilik tanpa dosa ini ga pernah minta lahir dengan alergi tertentu, gue juga gabisa larang suami untuk makan minum enak kayak biasa, kan dia ga perlu diet alergen emang. Kok gue jadi kayak orang dengki gitu yang kalo liat orang lain seneng malah ga suka, bawaannya pengen kesenengannya itu ilang aja karena gue ga lagi gabisa ngerasain yang sama. Idiih malu banget pas lagi waras mikirin ini. Baru dites pake kurangnya makanan aja gue udah ambyar gini.

Btw ya sebenernya daritadi gue nyebut alergi tuh biar gampang dan familiar aja istilahnya pas dibaca karena sebetulnya ale bukan alergi, melainkan sensitif. Bedanya kalo alergi itu yang reaksinya cepat dan segera, misal abis makan udang langsung bibir bengkak, sesek napas. Nah kalo sensitif ini reaksinya bisa 2 atau 3 hari ke depan dan mostly bentuknya sejenis ruam merah-merah atau kulit kering kayak eksim gitu di bagian tertentu. Gue berencana tes IgG buat tau lebih jelas food sensitivity nya Ale ini, semoga ada rejeki. Mayan 6 juta plus plus. Bismillah sehat semuaaaa. Aamiin.

Diary Suster Muter-Muter

Belom masuk kerja nih yaa, cuma baru bayanginnya aja udah bikin air mata ngembeng. Kalo ada award cengeng se Asia Tenggara in syaa Allah gue menang deh yaqin! Dari umur Lentera mendekati satu bulan gue udah mulai tanya-tanya temen mengenai suster dan yayasannya. Gue ngobrol juga sama beberapa working mom dan stay at home mom buat dapet insight dari dua sisi. Walau sebener-benernya tindakan tersebut adalah bentuk gue mencari justifikasi dan penguat akan keputusan yang mau gue ambil namun belom sreg banget.

Jadi, gue itu di awal 2 minggu – 3 minggu Lentera lahir, pas lagi baby blues se blues blues nya banget udah mikir mau resign aja dan full time di rumah membersamai bayi cilik merah mungil yang kayaknya idupnya tergantung banget sama gue 24/7/365. Rasanya kok ga tega sama sekali ngasih di ke orang lain. Level percaya gue surut sampe level minus. Nitip ke nyokap aja gue ga bisa lama-lama padal cuma solat makan gitu gitu. Gils ga sih, ke nyokap gue sendiri lho yang melahirkan dan membesarkan gue sampe bisa beranak gini. Ya apalagi gue kasih ke mbak / suster. Ampun, rasanya kelam banget masa-masa itu kayak sendirian di hutan belantara malem-malem tanpa kawan.

Nah seiring berjalannya waktu, Lentera mulai tumbuh membesar, keliatan lebih berbentuk, macem adonan kue kena ragi gitulah. Gembul dan banyak ketawa pula. Suasana hati gue membaik, dunia tampak agak lebih cerah, dan… kebosanan melanda. Iya, gapapa katain aja kalo mau ngatain gue ibu-ibu macam apa yang bosen sama anak sendiri. Lagipula gue tuh bukan bosen sama anaknya, tapi sama keseharian gue. Gue merasa ada bagian diri gue yang ga berfungsi yang padahal seharusnya bisa difungsikan. Ga jarang gue space out gitu, bengong kayak ayam ternak abis dikagetin. Setelah gue pikir-pikir ini si Annisa Pratiwanda nih jadi istri iya, jadi ibu juga iya, tapi apakah dia menjadi dirinya sendiri? Engga 😥

Gue ga mau kehilangan diri gue juga, yang ujung-ujungnya bikin gue ga seneng dan ceria kayak biasa. Sekarang ini gue lebih menjadi Annisa Pratiwanda yang khawatiran, serba panik, cengeng banget, dan robotic. Iya, robotic.. yang bangun tidur udah pasti kerjaannya begituuu sampe malem mau tidur lagi. Di suatu malem gue mikir dan ngobrol sama diri sendiri. Ini kalo gue terus-terusan begini, fixx gue akan jadi Annisa Pratiwanda yang senggol bacok, dan gue ga mau Sandy punya istri jutek , serta Lentera punya Ibu yang ga bahagia.

Di samping itu gue dan Sandy yang kesotoyan banget jadi orang tua baru, udah mulai intip-intip biaya sekolah TK dan SD anak jaman sekarang. Iya, gapapa walau anak kita belom bisa tengkurep bahkan. Hahaha. Ternyata biaya sekolah yang bagus, biaya kesehatan yang mumpuni, biaya asupan gizi yang baik, dan biaya pergaulan yang luas itu sepertinya belum sanggup jika dipasrahkan ke Sandy seorang. Gue mau dan bersedia bantu biar perahu getek keluarga ini bisa hijrah jadi kapal bermesin. Bahkan mungkin, suatu hari nanti pada waktunya bisa jadi kapal besar sehingga kita bisa pesiar bareng-bareng.

Akhirnya dimulailah dengan serius pencarian suster, Target gue, mesti udah dapet suster dari Lentera usia 2 bulan. Jadi gue punya waktu 1 bulan buat monitor masa adaptasinya si suster, liat juga apakah anak gue cocok sama si sus, apakah cara handle bayinya sesuai sama yang gue mau, dll. Gue menghubungi 3 yayasan penyalur baby sitter. Total gue dipaparkan sekitar 15 belas calon suster dan gue melakukan interview sekitar 5 kali . Tiap interview, gue selalu ajak nyokap karena doi yang akan bantu ngawasin selama nanti gue kerja. Jadi susnya ga bebas merdeka juga gitu lho. Maklum gue masih stay di nyokap, belom sanggup pindah ke apt sendiri melihat kebayian Lentera yang sungguh masih bayi dan butuh bala bantuan. It really does take a village to raise a child.

Bla bla bla, akhirnya dapetlah satu kandidat yang paling cocok. Nyokap juga approved. Impresi yang kita dapat, dia pengalaman megang newborn sampe bertahun-tahun, terampil, orangnya bersih, sopan, ga bau ketek (penting), pakaiannya sopan, usia ga terlalu muda dan ga tua, fisik kokoh gitu sehat, dan anak-anaknya dia udah cukup gede di kampung jadi ga yang masih kecil dikit-dikit butuh pulkam buat nengok. Dia direncanakan first day pada suatu hari Senin yah sekitar sebelum lunch gitulah. Hari itu gue siap-siap mulai mau nyambut sus nya dan ngajarin ini itu. Udah disiapin juga kamar buat sus, dibeliin kasur baru biar doi nyaman. Terus, jam 9an pagi ada WA masuk ke gue dari sus tsb bahwasanya dia minta mundur masuknya karena si tante yang dia tumpangin rumahnya selama nyari kerja ini, tiba-tiba kepleset di kamar mandi dan harus ke RS. Waduuu. Gimana tuh ceritanya. Karena nih sus kompeten dan gue udah merasa sreg jadi gue iyain aja buat mundur mulainya sekitar seminggulah moga tantenya udah baikan. Lalu seminggu berlalu dan inilah saatnya si sus bergabung di keluarga cemara kan. Terus si sus ngabarin, “Bu mohon maaf sekali, tante saya masih belum membaik dan dia ini janda, anak-anaknya di luar kota semua, jadi ga mungkin saya tinggal. Saya sendiri juga bingung banget karena ga bisa ngasih tanggal pasti ke ibu. Sekiranya ibu ada yang cocok sama sus lain silakan ya bu. Tetep silaturahmi ya bu.”

JEEENG JEEENGG

KOK GUE MACEM BERASA DAPET SMS PEMBATALAN PERNIKAHAN GINI YA!!!

Ckckckck bener bener ya manusia hanya bisa berencana dan Tuhan yang menentukan. Well, karena alesan dia valid dan sopan juga gitu maka gue relakanlah dengan hati baja. Gue lanjutkan pencarian sus, baik di yayasan yang sama maupun yang lain. Macem-macem deh ada yang gamau dateng interview ke tempat yang gue mention karena alesannya ga kuat cuaca panas (eh, situ skincare nya apa sik?!), ada alesan sakit perut segala abis makan gado-gado, ada yang kaga sopan haha hehe cengengesan, ada yang diem diem aja kayak mager jelasin gitu tiap ditanya. Hufhhness, lalu sampailah ke satu sus yang biasa aja. Mediocre. Ga outstanding dan ga buruk.

Ternyata dialah yang menjadi susnya. Sampai postingan ini terbit dia masih di rumah dan so far cocok aja sama Lentera. Semoga awet deh ya dalam kebaikan. Kadang yang kita mau emang belum tentu yang paling baik buat kita. Dan yang kita ga terlalu kejar malah ternyata berjodoh. Hmm.. ngelantur yaa ini ngomongin apa sih.

Gatau deh ntar gimana gue pas masuk kerja. Bismillah semoga Allah lancarin semuanya. Sungguh langkah mengambil suster ini bukan berniat lepas tanggung jawab terhadap titipanNya. Tapi sus ini sifatnya adalah sebagai bantuan di saat gue harus bekerja untuk support Sandy supaya keluarga ini bisa nyiapin yang terbaik buat Lentera dan kita semua.

Bismillah, Allah sebaik-baik penjaga.

Jebakan Mungil

Awalnya gue ga kepikiran bakal ada postingan blog tentang kehidupan setelah melahirkan.  Kirain ya udah aja gitu postingannya cukup di awal tau hamil, trimester 1 sampai 3, dan proses melahirkan. Udah. Beres. Karena pas udah melahirkan ya paling apalagi sih, kan urus anak aja gitu kan.

HEY ANNISA PRATIWANDA MAKHLUK LEMAH YANG SOK TAU, SUNGGUH SALAH SEKALI ASUMSI DANGKALMU KISANAK!

Gue nulis ini dalam kondisi curi curi waktu, sambil tiap 5 detik sekali mengalihkan pandangan ke arah anak gue yang lagi tidur. Ngecek apakah dia bangun yang berarti waktu menulis gue selesai. Seringkali kecele liat dia gerak gue udah hopeless karena kirain bangun, ternyata cuma ngulet wkwkwk. Posisi pas gue nulis postingan ini adalah duduk di atas kasur, ipad buat ngetik gue tumpukan di bantal menyusui, si bayi terkulai kenyang mabok ASI depan gue, dan kondisi busana serta kecantikan gue ga usah ditanya lagi. Daster buluk, bau gumoh, nenen udah uncivilized bentuknya, dan muke lesu kayak anak ranking 1 tapi gagal ujian SPMB (ya jaman gue dulu namanya itu).

Lalu kenapa gue akhirnya bikin postingan ini tentang kehidupan setelah melahirkan? Karena oh karena gue butuh, perlu, ingin, dan berkehendak untuk menumpahruahkan isi hati dan kepala gue yang begitu terkejoet ndut ndutan lahir batin bahwasanya menjadi ibu tak seanggun kemilau bunda bunda di iklan vitamin tumbuh kembang anak. Gue lebih tepatnya mirip ibu ibu di iklan oskadon pancen oye, bagian yg sebelum minum obat. Iya, puyeng. Dan gue mau tulisan ini selain jadi ajang ngeluh, ajang mencari kewarasan kembali, juga menjadi bahan belajar lagi sekiranya kelak gue dan Sandy akan Allah karuniakan amanah gemes lagi (aamiin). Woelaaahhh baru aja ini mau ngeluh udah ngomongin anak kedua wkwkw, jaitan perut tuh urusin! 😝 Oke, gue akan membagi cerita ini ke dalam poin-poin aja sesuai objek penderitaan dan keterkejoetan supaya lebih fokus dan ketus. Mari kita cuss!

Disclaimer: ini tulisan gue yang merupakan tulisan bebas serta ekspresif, kalo ada yang ga sesuai dengan gambaran ibu ideal di majalah ayah bunda atau akun instagram kekinian, ya santai aja. karena tulisan ini bukan buat dijudge, dibandingkan, apalagi dinasehatin. Pernah liat ga ada orang nasehatin orgil? Ga ada kan? Kenapa tuh kira kira? Mmm.. Ya karena ga guna nasehatin orgil. Nah itulah gue sekarang yang jadi orgilnya. Jadi baca aja tanpa ribet ina inu ya. Tengsss

1. Hidup gue ga pernah sama lagi seperti sebelumnya. Se beda itu! Gutbai bangun siang males-malesan. Padahal gue si pecinta berat tidur yang kayak pingsan. Dadah makan enak dengan tenang. So long main hape senderan lama lama. Selamat tinggal bioskop apapun. Sampai nanti wahai salon dan panti pijat langganan. Babay resto resto cintaku. Yes hidup gue berputar di kamar aja coyyy. 24/7 . Gerakan cuma tiduran dan senderan karena nenenin. Berdiri paling buat makan dan ke toilet. Kalo suami lagi ke kantor, gue praktis menjadi seorang wanita setengah gila yang ngobrol sama tembok dan bergurau dengan kelambu. Tak ayal lagi, weekend selalu jadi 2 hari paling keramat buat gue, karena ada temennya. Minggu malem tuh grogi banget pengen nangis karena besok si teman keramat pergi ngantor huaaaa.

2. Gue kayaknya lumayan jadi halu gitu deh orangnya. Sering tiba tiba kayak denger suara bayi nangis, padal gue lagi di kamar mandi dan shower nyala kenceng. Pas gue cek ternyata bayi tenang aja lagi bobok. Kalo lagi tidur malem, tiba-tiba gue kebangun sendiri ngecek box bayi karena gue merasa denger dia ngerengek, padal pas gue liat dia anteng aja. Mimpi gue pun seputar bayi dan konsisten ada suara tangisan juga di mimpi mimpinya.

3. Dari jaman gadis, gue emang udah cengeng. Stok air mata gue banyak gitu kayaknya. Ternyata abis melahirkan gue jadi 300% lebih cengeng dari biasanya. Dikit dikit nangis. Apapun sebabnya, malah kadang ga ada sebab, gue netes aja gitu air mata, pikiran ke mana mana. Plusss, gue jadi parnoan banget kalo si bayi kenapa kenapa. Dia bentol digigit nyamuk 1 biji gue nangis lah. Terus waktu mesti ningglin bayi pertama kalinya karena gue harus buka jahitan ke dokter, itu gue nangis kayak kena musibah apa gitu woy. Sandy sampe bingung kali ya. Padahal rumah sakitnya cuma 5 menit dari rumah. Terus pernah gue pengen me time pijet sekali doang di bersih sehat pd indah langganan sedari gadis, dan suami merestui banget. Tibalah saatnya gue pesen ojek dan ojeknya dateng, gue pamitannya udah kayak pamit berangkat jihad cobaa! Nangis nangis dulu dipeluk suami, liatin anak bayi dengan berurai air mata, dada sesek rasanya mau batalin ojeknya. Gokil.

4. Kangen sama suami. Iya, sama suami. Bukan sama ayahnya si bayi. Gue sama Sandy itu tipe yang ke mana-mana banget, jarang di rumah doang, nonton bisa 3 kali seminggu, jajan ini itu, cobain resto / mall ke sana ke mari, plan traveling bisa dibuat setahun sebelumnya . Kita juga selalu ngobrolin banyak hal tiap pulang kantor, makan malem, sampe mau tidur. Nah sekarang ngobrol pun terbatas karena mesti bisik-bisik biar bayi ga bangun, ditambah fisik kita ga bisa boong juga kalo udah capek seharian aktifitas karena bangun lebih pagi atau malah kadang begadang sama bayi. Ya jadi kangen aja gitu bisa gandengan lagi, ngobrol ekspresif, ketawa ngakak, makan enak dengan tenang hahaha duh maap dangdut nih baru juga bentar :p

5. Sebagai extrovert gue biasanya menikmati ngobrol sama orang, kumpul kumpul gitu. Khusus kali ini tidak. Menerima tamu menjadi hal yang gue cukup struggle melakukannya. Kebayang ga stress fisik abis melahirkan belum rampung, kemudian sangat kurang tidur, perjuangan nenenin yang sakit dan setengah mati, psikologis yang masih jet lag sama perubahan peran, lalu lo mesti sisihin tenaga buat entertain tamu?! Wah ituuuu cuapeeek coy, asle! Coba bayangin lagi tidur baru dapet 7 menit terus diketok pintunya katanya ada tamu, kepala pusinglah bangunnya kaget. Atau lagi nenenin bayinya rewel, trus harus sulap pake baju bener padahal tadinya lagi pake piyama setengah telanjang. Terlebih kalo tamunya lo kaga kenal kenal amat macem temennya nyokap, atasan kantor bokap, dll. Kalo temen kita sendiri sih okelah, malah kadang mayan buat hiburan. Makanya kalo sama temen gue emang ngomong di depan gue senyamannya dijenguk kapan, sesiapnya gue. Dan bagi yang bertamu pelajarilah adab bertamu, yang mana jangan langsung banget abis dia lahiran, kabarin dulu jauh jauh hari biar persiapan, dan jangan lama lama karena mungkin yang ditamuin mau istirahat tapi sungkan ngusir. Secukupnya ajalah.

6. Menjadi clingy sama suami, dia belum nongol jam 7 udah gue teror, padal biasanya jam 10 baru gue cek. Dan gue lebih tersinggungan, jauhhhh lebih tersinggungan. Jangan coba coba komen apapun tentang anak gue. Emak gue aja nih, emak kandung gue aja gue semprot secara sadar karena dia bilang anak gue ‘kayaknya’ kurusan. Wah kayak gini rasanya ya ternyata jadi macan betina haha astaghfirullah.

7. Laluuu, yang terngaco tuh gue sempet ada pemikiran sambil liatin si bayi, “ini kalo ga ada anak ini mungkin gue sekarang lagi nonton bioskop nih kayak biasa, atau bisa traveling nih ke labuan bajo yang waktu itu tertunda. Kalo belom ada ni bocah kayaknya gue lebih tenang deh dan tidur nyenyak.” Parahhh kan?! Parah bangetlah gue sempet mikir kayak gitu. Gue juga berkali kali terpikir ini anak kapan gedenya sih buruan deh gede biar bisa gue tinggal-tinggal ke sana ke mari, biar ga terlalu khawatir pas nitipin dia ke nyokap atau sodara, kan gue pengen ceria lagi aktifitas lagi. Hhh… Pas udah eling dan waras lagi gue look back dan introspeksi, Wahai jubaedah! apakah itu wujud tanda dari ketidaksiapan lo sesungguhnya? Atau apakah lo hamba kurang ajar yang ga bersyukur?  😦

Kalo ditanya apa gue bahagia punya anak? YAIYALAH BAHAGIA BANGET SEDUNIA AKHIRAT DEH! Dari dulu gue mendamba punya anak sendiri, selalu gemes tiap liat anak orang, dan udah punya cita cita kalo ada anak sendiri mau gini gini gitu gitu. Coy seneng bangetlah lebih seneng dari kesuksesan prestasi gue manapun selama 29 tahun hidup di dunia fana ini.  Tapi, menjadi bahagia dengan anugerah yang dikasih Allah itu adalah satu hal, lalu adalah hal yang berbeda ketika ternyata lo bisa merasa kaget dan kewalahan sama anugerah tersebut. Asli. Ga ada tuh yang pernah ngasih tau gue sisi gamang, galau, sedih, ancur, dan susahnya adaptasi jadi ibu. Beneran ga ada. Selain masyarakat yang cuma pada sibuk nanya kapan kawin dan kapan hamil, selebihnya gue liat pariwara susu bayi tuh kayaknya jadi emak tuh cantik anggun beriwbawa penuh cinta kasih lemah lembut bagai nyiur melambai. Ya kenyataannya kan jauh banget yah. Piyamaan terus seharian busuk bau gumoh bayi, keringetan padal abis mandi wangi, tetek sakit bengkak, puting retak lecet, pergerakan terbatas, bosennya sampe ke ubun ubun pas bayi tidur.. mana sambil liat sosmed temen2 yang lagi gegaulan haha hihi di luar sana pulak. Hoffh! Rasanya kayak dijebak gitu loh. Tiba tiba ada makhluk mungil yang bernyawa dan hidupnya tergantung sama lo 24/7. Ga ada juga yang ngasih tau jadi ibu tuh parnoan luar biasa, panik tiap hari, khawatiran seumur idup. Itu tuh yang pada nanyain kapan kawin dan kapan hamil kaga ada bantu bantuin gue ngurus anak, biayain lahiran juga engga, nyumbang buat vaksin juga kaga. Gemeslah asli kalo inget kultur basa basi indonesia yang satu itu. Belom lagi yang komen komen liar kayak “loh kok ibunya gendut banget sekarang” atau “kok bayinya masih kurus kecil banget.” Wah itu rasanya pengen tebalikin meja terus teriak di depan mukanya “ADA URUSAN APA LO KALO GUE GENDUT? emangnya gendut dosa apaa?! Ini baru brojolin bayi, naikin beratnya juga butuh 9 bulan, masa baru sebulan udah mejik langsung langsing?! Gila ya lo? TERUS KALO ANAK GUE KURUS KENAPA?! DARIPADA LO GENDUT TAPI ISINYA LEMAK SAMA DOSA! Ga nenenin ga ngasih asupan gizi apa apa juga kan lo makanya diem aja!” Asli pengen komen gitu balik ke orangnya seandainya gue tidak diajarkan tata krama. Tapi sebisa mungkin ditahan lalu yang keluar cuma senyum kecut sambil ketawa formal.

Btw ya sebenernya yang lebih sedih dibalik komen tersebut adalah efeknya ke psikologis si ibu baru, di suatu kesunyian dia pasti kepikiran sambil nangis kombinasi merasa tak cukup baik sebagai ibu dan kesal sebagai manusia biasa. Kayak “Anjir gue ga becus banget jadi ibu, anak gue kurus ga montok kayak bayi lain. Apa ASI gue kurang ya atau gue makannya ga bergizi apa gimana. Mana badan gue udah ga berbentuk, suami ga tertarik lagi nih kayaknya, ancur ga punya percaya diri lagi gue stretchmark di mana mana, pipi gembung, perut buncit, paha gelambir. DUH GATAU AAAKKH! “ One thing led to another akhirnya si ibu kepikiran terus, moodnya jelek, ngaruh ke produksi ASInya beneran, jadi lebih emosional suami dan bayi dimarahin, rumah berantakan ga keurus, ga punya bantuan yang cukup, makan sesempetnya, curhat dibilang lebay, endebra endebre. Yak, sekarang gue paham kenapa ada ibu yang bunuh bayinya sendiri atau bunuh diri kayak di berita berita. Naudzubillah. Semoga jika ada umur panjang, gue dan suami kelak bisa menjadi orang tua, warga, dan handai taulan yang tidak resek nanya nanya yang bukan urusannya, dan setidaknya malah bisa memberikan sedikit sekelumit sekelebat gambaran dunia pernikahan dan berkeluarga baik gula dan garamnya, hitam dan putihnya, serta sandra dewi dan lucinta luna nya. Aamiin

Oiya, dan semoga kami bisa jadi orang yang ga hanya fokus dengan keriaan hingar bingar hadirnya bayi tapi juga ingat menanyakan kabar dan keperluan sang ibu, sering luput yang satu itu 😦

Postingan ini gue tulis on off sekian hari karena sambil cebokin bayi, elap muntahan, pompa asi, colongan tidur 15min pas bayi tidur, dan menanti bang gofut. Di akhir postingan ini gue nulisnya pas abis kontrol bayi usia sebulan. Dan tadi lagi merhatiin dia ceria gerak lincah nendang nendang pas ditaro di bouncer, tiba tiba gue nangeees lageee wakakaka kalah deh air mata di acara Jika Aku Menjadi! Alhamdulillah ‘ospek’ sebulan pertama terlewati. Bismillah untuk ospek ospek selanjutnya dan semoga terselip banyak kisah indah sepanjang perjalanan, aamiin.

Gue nulis ini bukan buat nakut nakutin lo tentang punya anak dan berkeluarga, cuma pengen sharing aja realita tanpa sugarcoat. Soalnya kalo tentang kebahagiaan dan sukacitanya sih udah pastilah ya dan umum banget juga dibahas. Jadi ya inilah versi lainnya yang ga terhindar. Lagipula mau ditunda selama apapun, kalo emang takdir lo punya anak ya pasti akan punya kan, lika liku naik turunnya juga dateng sepaket. Cuma tinggal masalah sekarang atau entarnya aja. Yaah jadi seperti yang gue sampaikan di atas, punya anak dan jadi orang tua tuh rasanya kayak dijebak, tapi jebakannya indah.

Lentera 1 bulan
what did I do so right to deserve you, baby? :’)

Buat ibu ibu (terutama ibu baru) di manapun, semangat ya! Gandengan yang kenceng sama suami, doa yang banyak, dan saling jagalah kewarasan kalian berdua sebagai ayah ibu dan tak lupa sebagai suami isteri 😍

Lentera Hidupku

Alhamdulillahirobbilalamin. Alhamdulillah banget gue masih berkesempatan nulis postingan ini karena terakhir pas nulis postingan “Trimester Tiga” itu gue jujur kepikiran macem-macem; apakah gue akan kuat menjalani proses melahirkan, apakah gue akan panjang umur setelahnya, atau apakah gue ga survive? Ga ada yang tau. Dan lagi lagi, Allah selalu sangat baik sama gue. Dikasihlah gue kesempatan merasakan melahirkan, punya anak, jadi seorang ibu, dan sekarang nulis ini buat reminiscing proses melahirkan lalu yang alurnya sungguh sangat mengoyak ketegaran dan melumpuhkan akal sehat. Ini pengalaman pribadi gue, dan tentunya ibu-ibu lain punya pengalamannya masing-masing saat melahirkan, jadi bukan untuk dibandingkan, tapi justru untuk dirayakan 😍

Awalnya si bayi kan diprediksi lahir 28/29 Jul ya, yang mana 28 Jul itu pas banget ultah pernikahan ane haha, mayan bikin ngarep biar bareng. Tapi suratan takdir mengatakan “belum nih belum tanggal segini lahirnya.” Jadi sesuai perjanjian sama dokter jika ga ada tanda tanda juga sampe 29 Jul maka kita lakukan induksi. Gue sebagai kaum hawa yang polos dan lugu, ga tau dong induksi itu rasanya bakal kayak apa. Maka datanglah gue dan Sandy ke RS dengan riang gembira karena cuma taunya kita udah deket mau ketemuan langsung sama si anak bayi.

Sekitar jam 8 malem tanggal 29 itu mulai induksi dengan dosis obat 1/8 dan langsung udah nginep di kamar RS. Itu gue sama Sandy masih bisa makan, becanda, main gymball, dan tidur. Jam 4 subuh tanggal 30 nya ditambah lagi obat induksi 1/8 dosis. Btw ini obat masuknya lewat bawah, jadi mayan ganggu rasanya pas dimasukin gitu. Setelah itu kita balik ke kamar lagi dengan kondisi udah lebih mules dari kemarin. Eh tapi kok makin lama makin tegas nih mulesnya, rasa yang gue kenal. Kayak lagi keram perut mens tapi lebih konstan dan lebih menggigit. Terus abis subuh, kita goler goler berdua sambil gue nahan sakit kontraksi. Pas setengah 7an tiba tiba gue ngerasa ada air terjun versi hangat mengalir deras dari selangkangan. Ini fiks pasti yang namanya ketuban, gitu pikir gue. Sandy juga panik langsung manggil suster dan gue dipakein kursi roda buat ke ruang observasi. Pas dicek, pembukaan satu masih. Itu ternyata ceknya pake tangan manusia gitu yaaa. Masuk aja loh ke dalem. Dan itu kan cek dalem gitu ga sekali 2 kali ya ada deh kayaknya 10 kali. Rasanya ampunnnn pengen lapor polisi! 

Sampe jam 10 pagi pun ternyata masih baru pembukaan 2, sampe sampe Sandy sempet bohong ke gue dia bilang pembukaan 3 biar gue ga stress stress amat dan agak semangat (ini gue ketahui pas dia cerita setelahnya). Terus ditambahlah induksi yang via infus gitu biar lebih cepet pembukaan kata susternya. Nahhh setelah si infus masuk itulah gue kelojotan kayak ikan lele ngehindar pas mau digebuk tukang pecel lele. ASLI SUAKIIT BUANGGETTSS SEDUNIA GUE GA PERNAH RASAIN SAKIT KAYAK GITU SEUMUR HIDUP. Seisi perut kayak diremes pake tangan Thanos, rahim rasa dikuras abis-abisan, dan puncaknya kayak mau eek super besar gitu. Bener bener kayak mau nge eekin bola voli. Epicnya kalo ada rasa mau ngeden kata suster gaboleh ngeden. APAAA?! Jangan main main anda! Ini rasanya ga ketahan banget. Energi gue sangata abis nahann sakit dan nahanin ngeden. Sampe akhirnya sekitar jam 12 siang gue naik pembukaannya cepet banget dan sampe ke pembukaan terakhir yaitu pembukaan 10 dan dibawa ke ruang bersalin sekitar jam 1an. Mulai lah gue ngeden semaksimal mungkin sambil itu bagian bawah dikobok sama dokter dan bidannya. Si rasa mules yang super jahat itu tetep ada menghantui. 

Di tengah kekisruhan itu semua, gue sempet sedetik bersyukur gajadi pake foto/videografer buat momen lahiran, karena kalo pake… Dijamin hasilnya lebih kayak dokumentasi rukiyah seorang wanita metropolitan. Bener-bener adegannya ga ada estetis estetisnya sama sekali. 

Oke, lanjut. Lalu apakah berarti gue lahiran normal? Sayangnya tidak, Maemunah. Setelah 40 menit berusaha ngeluarin bayi dan si bayi berusaha keluar, ternyata tetep ga bisa. Padahal perut gue juga udah didorong dorong sama bidan buat bantu. Sandy juga udah disuruh dokter liat kepalanya bayi yang udah keliatan dan rambutnya udah keluar. Tapi kepala si anak bayi miring dan ada satu lilitan tali puser. Nyangkut cuy! Sampe akhirnya gue super kelelahan kayak rasanya udah mau pingsan. Bener-bener mikir ini kali ya rasanya jelang kematian. Se ga berdaya itu. Dan detak jantung bayi mulai menurun, dokter bilang “kita operasi aja gapapa ya.” Gue sama sekali ga keberatan dan cuma sekilas liat Sandy yang udah bingung banget juga gatau harus gimana. Oiya btw, tepuk tangan tepuk kaki deh buat suami gue, super sabar dari awal proses induksi sampe akhirnya operasi, dia nyemangatin ga putus-putus, ngipasin gue, nyiapin ini itu, dan gue cakar, gue cubit, gue tarik bajunya sampe melar, gue bentak, gue teriakin. Dan dia tetep stand by bahkan sampe nungguin gue di sadar 2 jam setelah operasi. Huhu sabar banget. Alhamdulillah.

Setelah operasi, lahirlah si anak bayi ke dunia ini dengan suara tangisan menggelegar yang bikin gue langsung lega dan ikutan nangis di meja operasi. Tepat pukul 14.25, semua penderitaan gue berjam jam itu terbayar lunassss! Alhamdulillah. Setelah selesai dibersihkan, si bayi ditaro di dada gue posisi melintang. Burem gue ngeliat dia karena mata gue penuh air mata. Dua mata jernihnya ngeliatin gue sambil lidahnya keluar-keluar kayak nyari nenen. Hati gue kayak mau meledak kepenuhan gitu rasanya. Cinta banget. Secinta itu. Ma syaa Allah.

Dengan mengalami triple drama (induksi, lahiran normal, dan caesar) gue abis sadar dan udah di ruang perawatan, langsung minta maaf ke nyokap, segini mau matinya rasanya ya ternyata ngelahirin anak. Huh basi banget gue baru minta maaf pas udah ngerasain sendiri. Astaghfirullah.

Dengan begitu, lahirlah ke dunia ini buntelan cinta gue dan Sandy dalam sebentuk manusia kecil bersih polos gembil dengan nama Lentera Dee Ryanda. Panggilannya Ale. Artinya, anak yang menjadi sumber cahaya bagi sekitarnya, pandai menempatkan diri, dan selalu menjaga nama baik keluarga kapan pun dan di mana pun. (Iya, Ryanda nya itu suRYApranata dan pratiwaNDA) hahha maap norak dan posesif pengen nebeng di nama anak. Ahhh, hati gue belum pernah se-menggelembung ini. Penuh banget isi cinta buat Ale.

Cintaku, sayangku, kebanggaanku, harapanku, lenterahidupku 🙂

Ternyata Terbalik

Dulu jaman single, gue adalah pemudi rapuh mudah melepuh yang kepala dan hatinya dipenuhi pertanyaan besar, “Gimana sih taunya bahwa gue udah milih jodoh yang tepat apa bukan?” atau “Gimana ya cara gue tau bahwa -Oke.. ini orang nih yang paling cocok buat gue seumur hidup-” Gituuuu terus. Karena gue merasa bahwa tahapan yang tepat adalah ketika nanti gue berhasil jawab pertanyaan tersebut, barulah gue bisa melangkah dengan mantap ke level “Mantul, gue siap nih berkeluarga!” Lalu, masuklah gue ke jenjang pernikahan yang digadang-gadang itu. Begitu pikiran gue.

Seiring berjalannya waktu dan babak belurnya hatiku, ternyata gue disadarkan bahwa persepsi gue mengenai tahapan di atas itu tidaklah mutlak berlaku atau tidak mesti pasti begitu. Setelah gue look back, ternyata dulu-dulu tuh gue amat bias menilai pria, ada unsur-unsur perasaan yang gue terlalu ke depankan. Chemistry tuh gue highlight banget, ga cocok dikit di awal tuh kayaknya big deal di orang yang gue ga terlalu sreg. Atau justru di orang yang gue mulai tumbuh rasa, ga cocok dikit tuh bisa dimaap-maapin. Double standard at its best. Ya itulah karena prioritas gue di manusianya, di sosoknya, dan pas gue cek balik ke diri sendiri ternyata saat itu malah “gue belum sebutuh dan seperlu itu untuk berkeluarga.”

Tahun 2017 gue mulai masuk di moment of truth yang ternyata kondisinya terbalik dari tahapan yang gue kira di atas. Gue sampai pada suatu poin di mana kebutuhan berkeluarga lebih penting dan lebih besar dibanding sama siapanya. Keresahan gue apakah laki ini jodoh gue yg paling tepat apa bukan,  jadi ga se maha penting itu lagi buat gue resahkan. Karena energi gue alokasinya lebih banyak dipake buat fokus ke kebutuhan untuk berkeluarga itu tadi. Bukan yaa, bukan berarti gue jadi membabi buta udahlah sama siapa aja, sapi jantan dikasih profesi mapan juga disikat. Ga gitulah, ya tetep cerdas dan terang dalam memilah. Tapi ini gue lebih menyoroti tentang kebutuhan untuk berkeluarga yang saat itu jadi prioritas sehingga secara otomatis, gue melihat pria-pria dengan lebih objektif, tanpa pretensi, apalagi gengsi dan sensi.

Nah setahun di 2017 itu gue berproses sama beberapa kandidat pria. Mereka adalah campuran dari: yang gue inginkan, gue usahakan, gue liat dulu-in, dan ga gue harapkan. Sevariatif itu, iya.  Gue lebih loose buat berinteraksi sama mereka satu per satu. Dari awal juga gue stated dengan jelas bahwa gue ga mau jadi ‘properti’ nya siapapun dulu sampe semuanya lebih jelas, karena emang saat itu ya waktunya saling cek dan review aja sih. Intinya jangan gimana-gimana dulu sebelum ini ke mana-mana.  Nah selama interaksi itulah mungkin karena gue lebih loose, jadinya malah keliatan semuanya dengan lebih jernih. Yang ga ditakdirkan buat gue satu per satu keluar dari opsi. Ada yang karena karakter mereka, ada yang karena masukan dari orang tua, ada yang karena murni rasa ketidakcocokan gue. Kali itu rasanya lebih light aja gitu kalopun emang harus melepas yang diinginkan dari daftar pilihan atau mempertahankan yang memang ga ada alasan buat dilepaskan walau belum ada perasaan.
Intinya, gue berujung menikahi salah satu dari pria-pria tersebut. Tanpa gue prediksi sama sekali bahwa dia yang akan kepilih. Tapi justru itu seninya. Semua yang kita punya, berawal dari suatu yang biasa aja, sejujur dan sepolos itu mulainya tanpa ambisi dan tanpa filter warna-warni. Rasa yang tumbuh juga mengalir dengan biasa tapi konstan. Bukan rindu yang menggebu atau sayang mabuk kepayang. Kayak apa ya.. kayak sama-sama tau yang selalu. Jadinya tenang dan yakin satu sama lain. Nah di sinilah baru gue masuk ke tahap selanjutnya “Oke gue mau sama orang ini nih seumur hidup.”

It took me years and years to realize that what I believe is not always the truest one. Things change. It depends on how wide you open your heart and mind to accept the chance of change.


Note: Ditulis dalam rangka memperingati 1 tahun anniversary pernikahan, langkah cilik gue bareng Sandy. Bismillah untuk seterusnya.

Trimester Tiga – Entah Gimana

Here we areeeee

Naik kelas juga sampe trimester terakhir nih, alhamdulillah. 3 bulan lagi in syaa Allah menuju kelahiran 3 orang di dunia; si anak bayi sebagai manusia pendatang baru, gue sebagai ibu baru, dan Sandy sebagai ayah baru. Nah, trimester ini nih nano-nano juga ya rasanya ternyata.

Mari kita mulai dari fisik. Kebunderan gue udah level kura-kura yang susah bangun. Perut menghalangi pemandangan ke bawah, membatasi potong kuku kaki dan adegan nunduk lainnya, tidur udah serba salah miring kanan kiri ga ada yang enak, pinggang panggul tulang selangkangan semuanya sakit nyeri. Muke? Apakabar muke? Bulet shaay! Dagu juga manggil temennya jadi berdua. Alhamdulillahnya idung ga bengkak jadi idung hamil. Kusam dan darkspot tentu saja masih bertengger. Terus, kaki juga alhamdulillah ga bengkak yeayy! Paling gampang kesemutan aja dia. Abis itu, gue mudah merasa panas. Bukan, bukan secara emosional. Itu mah dari dulu mihihi. Ini rasa panas gerah gitu lho. AC padal udah diturunin 3 suhu lebih rendah dari biasanya tapi tetep keringetan terus. Sampe akhirnya gue potong rambut jadi pendek banget saking sumuknya. Kemudian, gue semakin sering ngaca dan ngira-ngira ini perut gue kekecilan ga ya? Cukup besar ga ya buat si anak bayi? Nyaman ga ya dia di dalem? Sampe nanya mulu berkali-kali ke husbro apakah perut gue sejatinya membesar dari ke hari apa biasa aja? Dan diapun jawab dengan jawaban  yang sama “besar kok, udah diukurlah sama Allah sesuai kebutuhan bayi.”

Eh terus ya yang menyiksa nih, gue terkena flu dan batuk pada bulan ke 7. Alhamdulillah flunya beres, tapi astaghfirullah batuknya masih nongkrong nih sampe hampir bulan ke 8. Gue tuh udah wanti-wanti banget takut kena batuk baik dalam keadaan normal maupun hamil. Lagi ga hamil aja gue tuh kalo batuk lama dan heboh gitu. Apalagi pas hamil kaaan. Eh kejadian dong nih batuk pas hamil. Nyiksa banget Ya Tuhan! Perut bawah sampe agak ketarik keram gitu. Guenya jadi extra khawatir takut anak bayi ga nyaman keguncang guncang apa gimana. Terus di satu titik otot deket rusuk kanan belakang tuh kayak keplintir saking kebawa tegang batuk melulu. Udah abis silex sebotol, diganti fluimucil juga masih belum mereda nih. Di samping itu juga udah minum air anget madu lemon. Madu ya sampe abis setoples gendut. Terus jeruk nipis pake kecap juga ayo, tapi masih belum baikan. Astaghfirullah sedih banget 😦 Mana gue jadi nularin flu ke Sandy segala. Sedih liat dia lemes gitu sambil kerja dan masih puasa. Nah parahnya, H-2 sebelum lebaran, pas maghrib, gue batuk agak kenceng gitu dan terdengar bunyi ‘kleekk!’ Terus abis itu gue ngerasa super sakit tiap narik dan hembusin napas, apalagi batuk dan bersin. Astaghfirullah sesakit itu. Bingung dong. Besoknya dibawalah gue ke kenalan bokap yang ngerti urat / otot gitu. Pulang-pulang sorenya kok makin sakit bangetttt sampe gue nangis nangis dan Sandy bingung banget mukanya huhu. Akhirnya gue bawa tidur aja sambil sedih. Gerak dikit sakit, cuma bisa berdoa. Laluuu, alhamdulillah paginya better bangett. Mungkin pijatan otot kemaren itu baru terasa efeknya sekarang ya dan pastinya Allah dengerin juga doa gue. Sesedih itu dan setakut itu kenapa kenapa sama si bayi. Huhah!

Belom berakhir cobaan fisik nih. Kali ini fokus tentang flu. Total sejak masuk trimester 3 gue udah sekitar 3 kali kena flu. Pastinya di kantor nih yang entah gimana muterrr aja sakitnya antar tim. Kanan bersin, kiri batuk, depan ingusan, dan seterusnyaa.  Kalo di atas lebih fokus bahas efek batuknya, nah yang flu ketiga nih yang sekarang mau gue ceritain. Ancurr rasanya paling ga enak, sampe badan meriang panas dingin idung mampet pusing badan linu pegel semuanya. Segabisa tidur itu. Takut banget typhoid atau apa karna agak mirip rasanya. Akhirnya di suatu subuh, abis solat gue minta anterin sandy dan papah ke KMC biar tenang gitu lho diperiksa dokter. Karena kalo lagi kondisi ga hamil sih gue skut aja ya tinggal minum paracetamol, neozep, dan obat biasa lainnya. Cuma ini kan lagi hamil jadi takut salah obat. Terus pas udah di IGD alhamdulillah dicek semuanya normal. Kata dokter pusing demam dan linu itu efek infeksi di dalem (refer to radang tenggorokannya). Huhu udah parno karena kan baca baca kalo hamil itu jangan sampe demam karena bahaya buat bayinya bisa menghambat pertumbuhan, kena syaraflah, dan bisa keguguran segala. Naudzubillah. Ini alhamdulillah in syaa Allah aman yaa.

Sehat tuh seindah dan sepenting itu ya. Ya Allah sehatkanlah kami bertiga. Aamiin

Lanjut.. Masih perihal fisik, di mana yang ini mau lebih bahas tampilan yang keliatan. Kan suka liat tuh di IG atau artiklel internet tentang stretchmark, noda hitam, kulit menggelap, dsb. Ohwaw itu semua terjadi sama gue tanpa kompromi. Makin trimester 3 makin banyaak cobaa. Yang gue terkejut adalah di perut. Ini selama 8 bulan mulus aja gitu lho, udah ditahan ga garuk, rajin pake oil dan krim segala macem. Eh tiba tiba di suatu hari sang stretchmark memutuskan “eh udah 9 bulan nih muncul aaah” Asliii setiba tiba itu dia hadir. Gue liatiiiin aja di kaca sambil heran dan sedih. Lebih ke sedih karena kok lo udah gue rawat masih muncul sihhhh. Huffhh.. Lalu gue cari tau sana sini baca ini itu, ternyata emang gitu ya stretchmark tuh basically ga ngaruh mau ga digaruk kek dielus elus kek, kalo emang kulitnya prone to stretchmark ya bakal muncul. Dann si oil / krim itu sifatnya meringankan aja sih ga yang cegah gajadi muncul atau ngilangin. Jadi yaa sudahlah welcome stretchmark to my life, mark of being tiger mama! Oh iya, satu hal yang gue syukuri adalah tiap gue ngeluh ke suami tentang tampilan fisik yang stretchmark, noda hitam, warna menggelap ini dia selalu santai dan support “Gapapa, nanti juga ilang. Ntar abis lahiran kita cari cara ya ngilanginnya ke dokter atau apa gitu.” Dan itu dia ulang tiap gue ngeluhin hahha. Alhamdulillah.

Abis bahas perfisikan, sekarang tentang pe er buat beli dan siapin semua perlengkapan bayi. Berhubung ini anak pertama dan cucu pertama jadi apa apa beli karena emang gapunya apa apa dan ga ada lungsuran dari mana mana. Adapun gue dan Sandy lumayan sama-sama clueless. Sekali nyoba ke fanybabyshop di ITC Kuningan yang hitz di kalangan belanja perbayian itu, eh kita bengong dong pas disodorin list sama mbaknya. BARANG BARANG APAAN NEHH haha gitulah kira-kira. Akhirnya setelah cari tau lebih jauh, kita mulai bisa checklist apa aja yang beli langsung dan beli online. Beberapa alhamdulillah ada yang mau kadoin. Lumayanlah menghemat haha rejekinya si bayi. Karena ternyata emang banyak ya perintilan bayi tuh. Belom lagi kalo gue kedistract sama baju baju lucu gemess yang mungkin cuma bakal kepake beberapa kali karena katanya bayi cepet banget tumbuhnya. Nyokap gue, dengan semangat super melebihi motivasi pejuang 45 di zaman Belanda dulu, beliau menyulap kamar tamu di bawah menjaid kamar bayi. Segala dicet lah, dirapihin manggil tukang, bebelian perabot ini itu, dia tata dan atur sendiri layoutnya. Hahaha duh bersyukur banget punya emak lincah kayak gitu walau kadang puyeng juga melihat pergerakannya. Beliau juga nyuciin baju bayi dan semua perlengkapan yang udah gue dan Sandy beli. Terima kasih mamake!

Terlepas dari ke-fana-an perintilan di atas, kabar tentang si bayi di trimester tiga ini adalah sebagai berikut, dia posisinya alhamdulillah baik banget cenderung stabil untuk kepala di bawah, ngadep anterior, dan tinggal nunggu turun masuk ke panggul gue. Sempet dibilang ada 1 lilitan tali puser sih pas 9 bulan. Tapi kata dokternya gapapa, masih wajar dan ga kenceng juga. Semoga bisa lepas dan aman. Bismillah. Terus berat badannya yang waktu bulan ke 7 sempet dinyatakan agak kurang, sekarang malah dinyatakan agak kelebihan. Eeeehh piye, bercanda ni bocah? Jadi deh gue disuruh agak nahan makan sama dokter karena takut bayi kegedean dan mempersulit keluar. Huuu padahal gue trimester ini makin laperan mulu, seisi dunia pengen gue makan, liat gofood bawaannya pesen mulu :’)

Pas gue nulis paragraf ini, update terbarunya adalah udah usi pa 38 week (9bulan lebih 2minggu), ntar malem mau kontrol lagi. Bismillah semoga pas kontrol kepala bayi udah masuk panggul ya. Gue udah njot-njotan di gym ball, ikut kelas senam hamil, gaya-gaya ngepel, cat and cow, segala macem nih biar doi turun ke panggul. Perkiraan lahirnya di week 40 katanya. So, in syaa Allah update selanjutnya adalah after melahirkan. Aaamiin.

Bismillahitawakaltu Alallah Laahawlawalaa kuwata illa billah.

Note: terima kasih bayi baik, udah menguatkan Ibu buat puasa penuh 30 hari. Ada yabatal sehari, itu juga karena Ibu yang batuk batuk sih. I love you anak bayi alhamdulillah ❤️