Pasti, Kepastian, Dipastikan

Beberapa waktu lalu gue berkesempatan reuni cilik dadakan sama beberapa temen masa muda (waelaaah..) Selayaknya makhluk sosial yang normal, kami berbincang ngalor-ngidul dari nostalgia kejahiliyahan di waktu lampau sampai update kehidupan terkini. Salah satu dari kita adalah seorang pria yang baru saja melangsungkan pernikahannya dengan seorang teman lainnya (dari circle kita juga). Ngobrollah kita pakai mode tanya jawab dan sharing sambil makan siang enak, sekalian karena si istrinya lagi ga ikut maka kita kulik versi si pria. Hahahaw!

Well, gue ga akan ngeluangin waktu ngeblog sih seandainya obrolan tersebut ga bermutu dan kurang bermakna. Nah ini gue sampe sempetin ngeblog kan berarti ada esensinya. Wahhh, esensi macam apakah itu? Mari kita simak liputannya bawah ini!

 

Gue bertanya:

Gimana rasanya abis nikah, apa yang beda sekarang?

Dia jawab:

Seru sih!! Dan lebih tenang.

Hmm.. menarik ya. Seru itu hal yang fun, hore, hiruk pikuk, dan bergejolak. Sedangkan tenang adalah sebaliknya, kalem, adem, santai, dan cenderung sunyi. Well, setidaknya itu menurut pemahaman gue. Bayangin deh, dua hal yang beda itu bisa dijadiin satu dan kombinasinya pasti indah banget. Lo merasa seru dan tenang di saat yang sama. Dan lo ga sendirian. Sejauh apapun mainnya, selama apapun kerjanya, lo tau lo berdua pulang ke rumah yang sama.

 

Gue bertanya:

Abis nikah, lo sama temen-temen circle lain gitu jadi beda ga?

Dia jawab:

Dulu di geng cowo-cowo, kalo ada yang abis nikah pasti jadi jarang ngumpul, susah nongkrong. Biasanya suka dikatain takut istrilah, berubahlah, bahkan gue juga ikut ngatain. Tapi begitu ngalamin sendiri, gue baru tau kenapa. Sekarang tuh gue rasanya semangat gitu pulang ke rumah. Kalopun nongkrong di luar sama temen seru, ya gue ga lama. Gimana bisa lama kalo sama yang di rumah lebih seru.

I know.. I knoooww exactly he was not talking about the sex part. Coz, comeee oooon that’s obvious pleasure though… Seru di sini yang dia maksud adalah there’s someone that we look forward to. Pengen cepetan pulang, pengen segera ketemu pasangan karena banyak hal yang buru-buru pengen kita ceritain sesampainya di rumah, pengen tau juga kabar dan cerita si pasangan hari ini, makan bareng, ngobrol sana sini, bercanda ini itu, the cuddling part, and the everything you can only do with them.

 

Gue bertanya:

Kenapa sih lo akhirnya mutusin nikah? Gimana lo yakin “OK. Perempuan yang ini nih yang gue nikahin.” ?

Dia jawab:

Sebenernya ya gue bisa aja cari lagi yang lebih lagi dan terus kayak gitu terus. Tapi di satu titik gue ngerasa gue butuh yang cukup aja sih. Dan sama dia gue ngerasa cukup. Susah juga kalo nyari terus yang baru, mesti mulai dari awal lagi, dan ga gampang nyari orang yang bisa tahan sama sifat gue, kebiasaan gue.

Gue nikahin dia juga sebagai bentuk “mengangkat derajat”. Derajat di sini maksudnya bukan tadinya rendah atau gimana. Tapi ya dengan nikahin, gue menghargai dia lebih dari sekedar “cewe yang deket sama gue” gitulah.

ANJAAAAY SODARA-SODARA, ini jawaban di luar ekspektasi gue hahaha. Dia menjelaskan dengan sangat lempeng dan kayak ga ada apa-apa. Padahal isinya sungguh dalem dan bermakna. Ketika dia bilang “ngerasa cukup”, gue langsung tau bahwa cukup adalah kata kuncinya. Kebetulan gue sempet bahas tentang itu lumayan panjang lebar di postingan yang ini. Bener sih, karena emang nyari apalah kita di hidup ini kalo bukan yang cukup? Kemudian, jawaban dia tentang “mengangkat derajat”, well.. ini membuka cakrawala sih dan mengingatkan secara gamblang bahwa bukan semata-mata seperti kata stereotype di luar sana yang bilang  “perempuan itu butuh kepastian”. Ini bahkan dari sisi prianya yang mengkonfirmasi. Kalo aja yang namanya keseriusan hubungan itu ibarat pokemon yang berrevoulsi berubah bentuk seiring dengan level kedewasaannya, maka bentuk terakhir dari keseriusan hubungan itu adalah menikah. The best form of appreciation is certainty.

 

Terima kasih broh atas sesinya :’)

Barakallahulak wa baraka ‘alaik wa jama’a baynakum fii khayr

 

Tentang Ian

Kali ini gue mau cerita tentang Ian.

Ian ini awalnya adalah orang yang lumayan invisible buat gue. Di beberapa kesempatan gue ga ngeh kalo dia ga ada, tapi di saat dia ada, perannya lumayan signifikan. Berasa. Seiring berjalannya waktu, gue pun semakin kenal Ian dan terbiasa sama kehadiran dia. Tepatnya kapan gue lupa, tiba-tiba dia ga lagi invisible buat gue. Di satu ruangan penuh orang, Ian jadi yang gue pastikan duluan keberadaannya. Kenapa bisa gitu ya, gue juga kurang paham.

Ian ini adalah tipe lelaki yang alus dan rapih manuvernya. Ga diumbar-umbar tapi juga ga samar-samar. Dari Ian gue jadi tahu bahwa ada yang lebih menarik daripada mengusahakan, yaitu diusahakan sampe kita ngeh. Oh ya, Ian ini kikuk dan menarik di saat yang bersamaan. Haha.

Ian tuh adalah sosok yang ga bermain di titik extreme. Dia orang tapi kayak air. Ian selalu tertarik coba ini coba itu walaupun dia  punya preference-nya sendiri. Demi rasa ingin tahu. Dia salah satu partner diskusi yang luas “perpustakaannya”.

Selama ini gue selalu jadi tempat sampah buat orang dan lumayan picky ketika tiba giliran gue yang harus “buang sampah”. Sejak ada Ian, dia hadir sebagai “tempat sampah” yang familiar buat gue. Sedikit yang gue rasa perlu difilter ketika gue “buang sampah” ke dia. Dari Ian gue belajar untuk menjadi pendengar yang baik. Dia tahu kapan mesti diem dulu, kapan mesti kasih feedback, kapan mesti menegur, dan kapan mesti memuji. Ian ini adalah sedikit dari beberapa pria yang gue kenal yang punya ingatan seperti gajah betina. Kuat sampai ke detail. Ya bukan berarti dia ga bisa lupa, bisa lah, cuman jarang.

Dalam hal hobi dan ketertarikan gue lumayan beda banget sama Ian. Somehow ini menarik, karena jadi bisa saling cari tahu tentang hal baru langsung dari sang pelaku. Gue suka saat Ian bercerita tentang hobinya, kayak dengerin anak kecil yang bahas kartun favorit atau permen kesukaannya. Bersemangat, intense, dan berbinar-binar.

Ian ini pada hakekatnya, di mata gue adalah makhluk yang lumayan naif. Gue gatau sih ini namanya naif, polos, atau baik. Tapi ada banget momen-momen di mana Ian nih sering lempeng aja gitu ngadepin orang, masalah, dan situasi. Kayak semua orang tuh baik, kesel itu ga perlu karena buang energi, dan ga usah banyak kekhawatiran. Jalanin pokoknya.

Dari kebersamaan gue sama Ian sejauh ini, ada pelajaran penting yang gue dapet dan akan selalu gue inget, yaitu

Ian mengajarkan gue kalo emang yakin banget pengen sesuatu, usahain bener-bener beserta semua resikonya.

Tentang Dam

Kali ini gue mau cerita tentang Dam.

Interaksi gue sama Dam sebenernya ga banyak dan ga lama baik secara intensitas maupun frekuensi. Tapi gue tetep mau cerita karena dari Dam gue dapet beberapa poin pelajaran.

Dam adalah tipe lelaki yang menganut paham “bicara itu bayar” makanya betul-betul sedikit sekali kata-kata yang keluar dari mulutnya dan dari jempolnya. Ngomong seperlunya dan cepat-cepat. Jauh berbeda sama gue yang walau ga perlu sekalipun tetep ngomong 😦

Selain Papah, Dam adalah makhluk berjakun yang gue notice kalo adzan langsung ke mesjid. Well, to be honest ini salah satu hal yang bikin gue notice keberadaan dia. Tapi entah karena pengaruh bawaan karakter atau apa, Dam pergi sendiri dan ga ngajak-ngajak sekitarnya untuk melakukan hal serupa.

Dam ini jagoan dalam hal menghilang. Dan jagoan pula dalam muncul di luar ekspektasi. Kenapa ya. Mungkin karena dia pikir gue ga ke mana-mana, di sini-sini aja. Seandainya Dam tahu dan mau cari tahu, gue ga terlahir punya akar, tapi punya kaki. Berarti gue bisa pindah ke sana ke mari. Dam tidak memberikan sesuatu untuk gue look up forward to. Tapi entah kenapa begitu dia ada lagi, gue kembali memaklumi.

Hal lain yang gue inget, Dam seperti lebih nyaman menggunakan perantara dalam menyampaikan makna. Kenapa ya Dam, ini gue nya yang ga nyaman di ajak berbicara atau memang kamu simpan banyak keraguan di mana-mana?

Mungkin Dam lupa, ga selamanya teka-teki itu menarik dimainkan dalam jangka panjang.

Dari interaksi gue selama ini sama Dam, gue belajar satu hal besar yang akan selalu gue inget

Dam menyadarkan gue buat ga buang-buang waktu dan energi untuk orang yang ga jelas arahnya mau ke mana.

Fridgy Friends

Since teenagers, people tend to have numbers of bestfriends who play the comfort-zone role. They are more likely to be warm-hearted friends, care a lot, stand-by physically and virtually, good hugger, sympathetic, and somehow they are making you attached to them in many ways. I, myself, have got some of this warm friends as well. However, as I grow older, I begin to think and feel that there are kind of people who seems cold and quite ignorant but surprisingly they make good friends and you can trust them. Mostly they do not talk much, they seem indifferent but actually they do care and pay attention to us, our stories, our concern, and our insecurities.

My favorite thing about having this cold friend is that they are there most of the time with clear logical thinking, put aside their feelings, and help us by giving some suggestions which are making the damn sense, especially in a condition where we are no longer neutral to make a decision. Other things that I like about cold friend is that for every single problem, story, or insecurity issue, they make the solution quickly, efficiently, and effectively. They do not intrude further in our daily life, they do not interfere further to our other problems, and the most important thing is they are no judgmental. Cold friends hardly gossip about you and your problems, because they do not see them as hot material to be widely spread. No matter what. The only minus point of this kind of friends they usually are lack of affection. You will not get pat on shoulder very often, a nice long hug, puppy eyes of solidarity, or even a holding hand moment. They will just sit there beside you, listen, and think at the same time.

Well, I got very limited number of this kind of cold friends. Small circle comforts me.

I was thinking when and why did I begin to switch from warm friends to these cold friends lately. I forgot about when, but the reason… I guess because as we grow older, there are more things complicate our life at the same time, further responsibilities, various experiences, higher hopes, yet the time seems not enough to handle all those stuffs. We need more spaces to think, more chances to contemplate, and longer moment to be with our own selves. So that means we are no longer spending as much time as we were in high school with our besties. Life has changed. We both understand that we do not have to check on each other everyday.  This is where cold friends become more convenient. They do not demand our full attention and vice versa. Because they also have lives to work with and problems to cope with which as important as ours.

KOK, TIBA-TIBA 27?

Gue adalah orang yang senantiasa excited ketika mendekati hari ulang tahunnya orang-orang yang gue anggap penting. Gue jarang sekali lupa tanggal ulang tahun mereka dan menikmati banget proses beli hadiah sampe ngebungkus-bungkusinnya. Asik aja gitu, nyenengin orang bikin seneng diri sendiri juga.

Tapi nih, begitu kita berbicara tentang hari ulang tahun gue… Nyehhhh gue ga excited lah :/ Kalo di kantor lama dulu gue ada jatah cuti ulang tahun. Mayan banget bisa dipake buat bersemedi di kamar, ga ketemu orang, dasteran seharian. Terakhir gue merasa lumayan excited itu adalah pas mau ultah ke 25. Itupun berakhir terhempas super keras karena suatu peristiwa gitu deh haha gembel. Entah kenapa kalo mau ulang tahun bawaanya lemess banget kayak garpu pop mie 😦

Btw, kenapa ga excited ya sama ulang tahun sendiri? Mungkin karena gue merasa diingatkan bahwa hidup kok masih gini-gini aja. Mungkin karena gue dipaksa notice bahwa kok belum ada peran signifikannya. Mungkin karena gue jadi ngeh bahwa waktu hidup makin dikit di dunia.

Satu-satunya yang jadi penghibur di hari ulang tahun adalah fakta di mana gue menerima hujan doa ga berhenti selama 24 jam full. Bayangin deh hidup lo isinya doa orang terus, yang baik-baik banget pula isinya. Ngerasa disayang banget ga sih? :’) Dari orang yang tiap hari ketemu sampe orang yang ga ketemu bertahun-tahun, semuanya nyempetin waktu buat wishing lo yang baik-baik. Inilah bentuk keromantisan yang HQQ ya habibi 😀 hahhaha. Terima kasih banget ya yang udah pada doain, Allah Maha Baik dan Maha Luas Rejekinya, semoga lo semua dibalas dengan yang jauh lebih baik sama Allah. Aamiin

20170502_150916

Bahas ulang tahun, ga jauh dari bahas kado. Dalam hal perkadoan, sungguh fokus utama gue bukanlah pada barangnya. Tapi padaaaaaaaa… Perhatiannya! Gue merasa tersanjung enam deh nerima hasil kreatifitas orang-orang. Rasanya tuh kayak apa ya.. Kayak disayang, dipikirin, dipertimbangkan, diurusin, dihargain, dicintain :’) Dan hadiah terabsurd kali ini dimenangkan oleh sahabat monkey gue yang ngadoin PISANG. Iya guys, beneran pisang buah gitu hahaha. Biar gue sehat katanya 😀 Gemesss banget! Terus juga tahun ini adalah pertama kalinya gue ulang tahun dapet bunga! Hahaha ya ampun seumur-umur gue baru dua kali ini nerima taneman sebagai hadiah. Emang dasar ga ada luwes-luwesnya, pas megang gue rada kikuk juga, semacam “Meennn ini mau gue apain nih kembang?!” Hahahhaha. Semoga bunganya seger terus kayak persahabatakn gue sama si gundul yang ga pernah layu. Yah pokoknya gitulah guys, yang pada ngasih kado itu gue serahin ke Allah aja gimana supaya mereka disenengin balik dengan cara yang jauh lebih menyenangkan. Aamiin.

Last but not least, berikut ini sedikit cuplikan tipe ucapan tahun ini. Beberapa lainnya lebih menarik disimpan sendiri wkwkw. Intinya sih ketebaklah, doa tahun ini semakin spesifik dan terdominasi dengan harapan mengenai JODOH. Sejalan kok sama doa gue guys hahha. Aamiin banget yaa aamiin.

 

Di tahun yang ke 27 ini gue punya dua harapan besar, utama, dan spesifik. Allah Tahu, Allah Maha Tahu. Semoga rencana gue sejalan sama rencanaNya. Semoga gue ga jadi hamba yang ngeyel dan sok tau. Semoga gue dijauhkan Allah dari mengharapkan dan mengusahakan hal/orang/kegiatan/tempat yang ga ada manfaatnya. Dan semoga Allah selalu sayang sama gue.

Allah, please jangan pernah cuekin hamba yah Rabb, jangan berpaling dari hamba walaupun hamba masih sering bandel :’)

Jadi gimana Annisa Pratiwanda, 9.855 hari dalam hidup lo ini udah dipake buat apa aja?

 

20170502_165050

Ternyata IT juga Diurusin Sama Allah

Kali ini ceritanya dateng dari bokap gue. Kejadiannya berlangsung pas kami umroh beberapa waktu lalu. 

Settingnya di Madinah. Abis subuhan bokap ngelewatin area museum Nabawi. Doi ngeliat ada orang-orang rame pada foto dengan background poster masjid Nabawi dan kota Madinah, pake gaya macem-macemlah. Ada satu orang nih yang rupanya menarik perhatian bokap, dia gaya ngangkat kedua tangan berdoa gitu loh sambil liat langit. Kurang lebih ginilah ya

Ngeliat itu, bokap dalem hati ngebatin selewat aja gitu, “Sok alim amat nih orang pose begitu, kalo mau doa mah dalem mesjid aja.” Begitu pikirnya.

Sampai di hotel, abis sarapan pas di kamar lagi bertiga sama gue dan nyokap, bokap tiba-tiba resah hapenya mati total. Padahal ga jatuh ga apa. Diusahain macem-macem tetep ga bisa idup. Bingunglah dia. Karena udah terang gue sama nyokap mau lanjut ke raudhoh terus dhuha di Nabawi. Bokap masih berkutat usaha benerin hape pas kita tinggal di kamar.

Pas ketemu lagi di kamar menjelang makan siang, bokap cerita. Tadi abis ngusahain hape tetep ga idup akhirnya bokap sholat tobat, dia ngerasa ada yang salah nih sama dia. Abis sholat tobat lanjutlah dia dhuha ke Nabawi. Di perjalanan, doi lewat lagi tempat orang pada foto-foto tadi. Pas makin dia perhatiin kok bagus ya foto di situ, pengen banget juga foto buat kenang-kenangan pake background poster Nabawi dan kota Madinah itu. Dalem hati bokap bilang, “Ya Allah sayang banget hapeku mati, padahal pengen juga foto di situ.” Lalu, sambil ngarep, bokap ngeluarin hapenya dan dia pencet biasa EH IDUP AJA LOH HAPENYA KAYAK GA ADA APA-APA. Kagetlah bokap gue, seneng dia. Terus minta fotoin sama orang sekitar situ. Ended up, doi pose dengan dua tangan diangkat gaya berdoa gitu sambil liat ke langit. Persis plek ketiplek sama pose orang yang dia katain sok alim tadi pagi.

Di penghujung ceritanya, bokap bilang bahwa key takeaways dari pengalaman ini adalah:

– jangan usil sembarangan mencibir orang walau dalam hati. Allah tau.

– rajin-rajin perbanyak solat taubat. Karena tiap waktu kita nih manusia pasti adaaa aja salahnya. Minta ampun yang banyak sama Allah.

Gitu guys :’) gue terharu sekaligus seneng dapet firsthand story dari bokap. Pelajaran moralnya dapet, dan kebanggaan gue terhadap beliau bertambah karena beliau ga malu sharing pengalaman berupa kesalahan yang dia lakukan.

Barakallahulak, Pah!

I am growing up like my mom

Nyokap lo aneh ga? Nyokap lo nyebelin ga? Nyokap lo ada-ada aja ga kelakuannya?

Nyokap gue iya. Entah gimana ceritanya beliau ajaib bener. Ibu-ibu paruh baya yang paling lincah yang pernah gue tau. Kadang kalo liatin nyokap lagi tidur, gue suka bertanya-tanya “Kok bisa ya perempuan ubanan ini gesit, kuat, dan sehat sepanjang waktu?” Gue sih sayang banget sama doi ga usah ditanya lagi deh kayak apa. Tapiiii walaupun sayang teteplah ya ada aja yang gue sebelin dan keselin dari kebiasaannya nyokap, beberapa di antaranya:

 

1. Menjelaskan letak suatu benda dengan petunjuk yang ga jelas.

Misalnya gue nanya di mana gunting sama isolasi. Terus nyokap sambil main hape akan jawab dengan jawaban yang menurut dia jelas padahal menurut gue apaan-banget-woi.

“Gunting ada di bawah situ, yang sebelah kanan buka aja. Kalo isolasi ada di tas mama deket lemari yang anu di sana.”

HAH KEKMANA SIH? Bawah tuh bawah mana? Bawah laut? Sebelah kanan tuh kanan dari objek apa? Tas tuh tas yang mana kan ada banyak? Lemari yang anu tuh lemari apaan lemari baju, lemari pajangan, lemari perkakas, atau apaaa? Duh Gusti Allah, kalo gue nanya lagi pasti nyokap ngomelnya template “Yaudah cari ajalah sekitar situ, kan rumahnya cuman satu.”  Hadeehh, ya siapa bilang rumah kita lima belas, Mah?

Udah gitu kalo gue berusaha ikutin instruksinya yang ga jelas itu, entah gimana hampir selalu ga ketemu apa yang dicari. Begitu gue bilang ga ada / ga nemu, turun tanganlah doi ikut nyari dan KETEMU AJA LOH! Bisa-bisanya gunting, isolasi, kaos kaki, kerudung, handuk, dll sekongkol melukai martabat gue di depan nyokap 😦 Jadilah beliau keluarin kalimat andalan “Makanya nyari itu pake mata, bukan pake mulut.” sambil ngelirik gue penuh kemenangan.

 

2. Tidak menyelesaikan suatu omongan secara sepihak dengan dan tanpa sadar.

Lagi ngobrol apa gitu sering banget nyokap tiba-tiba berhenti dan ga lanjutin apa yang lagi diomongin, baik itu karena ke distract hal lain atau ya simply dia ga lanjutin aja kayak lost gitu haha astaghfirullah

“Kak itu loh rotinya masih ada sisa sayang kalo didiemin aja, masukin kulkas aja ya atau ga mau di………” dan berhenti gitu aja, gue tungguin 20 detik tetep ga dilanjutin. GA MAU DI APA MAHHH?

“Ini mama jait baju ga kebeneran, sebel banget tukang jaitnya ga ngerti, padal udah dibilangin kalo……” dah gitu aja ga ada aba-aba mau berenti. KALO APA MAH?? KALO APAAA? 😦

 

3. Teralihkan perhatiannya dengan mudah, dengan sangat mudah.

Pernah ga sih lagi ngobrol apa gitu topiknya belum beres terus lawan bicara lo secara impromptu ganti topik sambil kayak ga ada apa-apa? Sama nyokap gue, kejadian ini sering banget. Saking seringnya sampe udah ga heran lagi.

“Si artis ini katanya udah hamil duluan sebelum nikah astaghfirullah, dunia entertainment tuh ya mesti hati-hati banget. Eh temen kakak SMA si anu udah nikah belum sih sekarang?” DOEEENGG temen gue itu padal bukan artis, ga juga di dunia entertain, apalagi hamil di luar nikah. Kok bisa nyambung ya ?

“Besok mama mau coba masak menu baru yang kayak di rumahnya tante itu ah, tapi bahan-bahannya mesti belanja dulu. Eh ya ampun tukang AC tadi udah dateng pergi lagi katanya ga ada orang di rumah padahal mama di kamar loh, gimana sih dia? Sebentar kak, mama telpon adek dulu tadi minta beliin pulsa.” ALLAHUROBBIIII gimana ceritanya sikkk dari mau masak terus ke tukang AC jadi nyambung mau beliin pulsa adek gue? Tepuk tangan banget ga dengernya? Hahaha ya Allah.

 

Itu di atas cuma tiga dari banyak contoh lainnya atas hal-hal yang bikin gue kesel dan gemes sama nyokap. Tapi ya, semakin ke sini semakin gue menyadari suatu hal yang ga kalah anehnya bahkan lumayan serem menurut gue. Apakah itu??? Ternyata setelah gue perhatiin baik-baik perilaku dan tindak-tanduk gue serta ditambah hasil observasi dari temen-temen terdekat, tanpa sadar gue tuh tumbuh semakin mirip kayak nyokap. Nooooooo.

Tanpa rencana dan seringkali ga sadar gue udah mulai sering ngasih instruksi ga jelas pake kata ganti ini-anu-itu-diituin-ngegituin dll. Terus ternyata gue mulai sering juga di tengah-tengah ngobrol tiba-tiba “belok” ke topik lainnya yang ga begitu nyambung tapi tetep gue keluarin hahahaha ga bagus banget. DOH GIMANA NIH. Sukurin.

 

Yaah terlepas dari kekesalan dan kegemasan gue sama keanehan nyokap, ternyata tak terhindarkan semakin hari gue justru tumbuh jadi mirip beliau. Ga cuma anehnya aja yang nurun tapi termasuk kayak khawatir-an, nyuruh temen-temen gue makan nasi biar ga sakit perut, ngingetin temen nyetir jangan sampe ngantuk, lumayan control freak, bawel banget, dan FOMO banget (fear of missing out) huahahha. Yaudahlah ya.

 

Terima kasih ya Allah atas mamah yang aneh, kocak, dan berisik banget. My life would be so dry without her buzz :’)

 

Alhamdulillah

 

mam